
NAMAKU ADALAH NESTAPA ...
Charlie Chaplin pernah berkata, hidup ini adalah sebuah tragedi, jika dilihat dari dekat. Namun sebuah komedi, jika dilihat dari jauh. Tapi bagiku, mau dilihat dari sisi mana pun, hidup ini adalah tetap sebuah tragedi.
Hari ini, aku hanya bertindak semauku. Namun entah kenapa, aku masih tidak bisa lepas dari serangkaian pikiran itu. Berusaha untuk tidak terganggu, walaupun aku tahu, pikiran itu akan terus-menerus menyiksaku.
Namun sekali lagi, apalah dayaku, aku pernah mencobanya dan aku gagal.
Dengan seragam sekolah yang aku kenakan hari ini. Aku hanya duduk di taman, ditemani tatapan aneh dari setiap mata yang menatapku.
Tidak ada yang kutunggu di taman ini, melainkan aku hanya ingin bolos sekolah. Sebuah alasan, yang membuatku enggan untuk menginjakan kedua kakiku untuk berada di sekolah hari ini. Sebuah alasan yang sulit aku jelaskan, meski dengan ilmu pengetahuan apapun.
Hari ini, aku sangat menginginkan turunnya hujan. Walau aku tahu, hujan pun tidak akan merubah apapun. Namun, aku tetap menginginkannya. Dan kumohon siapa pun, tolong taburkan garam di langit.
Bunyi sirene mobil pemadam kebakaran, lantas mengalihkan fokus setiap orang di taman ini. Dan di jalan raya, kulihat mobil pemadam kebakaran dengan terburu-buru melaju kencang dan melewati beberapa kendaran yang sengaja menepi.
Fakta itu, membuat semua orang di sekelilingku berbisik.
“Apakah ada kebakaran?” Bisik mereka.
Entah kenapa, pertanyaan itu membuat diriku kesal dan bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku ini.
**
__ADS_1
Tanpa aba-aba, warna kemerahan sudah mengisi langit. Diikuti dengan kerumunan orang-orang yang mulai memadati kota. Aku pun lantas beranjak dari taman, dan kembali ke duniaku.
Gelap dan sunyi tak pernah sarak dan selalu menyambut ku, saat aku masuk kerumah ini. Rumah peninggalan kedua orangtuaku, sebuah rumah yang tiap lekuknya menyimpan sebuah kenangan yang sayu. Begitu besar rumah ini, namun entah kenapa, aku selalu merasa sesak jika berada di dalamnya.
Televisi yang aku nyalakan, serentak mengusir kesunyian yang terpatri. Bagiku, televisi adalah teman sekaligus keluarga yang aku punya, yang membuat hidupku, sedikit lebih berisik.
Setelah kepergian kedua orangtuaku, sebenarnya aku pernah tinggal dengan seseorang sebelumnya. Seorang asisten rumah tangga yang dikirim Paman untuk menemaniku, namun itu tak berlangsung lama karena mereka juga pergi meninggalkanku.
Semua acara di televisi, terus menyiksaku. Semuanya memberitakan tentang kebakaran SMA Bhineka yang tadi pagi mengalami kebakaran. Dan ironinya, itu adalah sekolahku. Dan aku juga mengetahui kebakaran itu akan terjadi. Kenapa aku mengetahuinya, aku pun bertanya kepada diriku sendiri, kenapa aku harus mengetahuinya.
Sebuah penglihatan datang kepadaku kemarin malam. Begitu jelas, sehingga aku menutup kedua mataku. Bagai sebuah film, aku melihat setiap detail scene dari kebakaran itu. Api yang muncul dari kompor Ibu Sri, seorang penjual bakso di sekolahku, membesar dan melalap seisi kantin.
Benar, aku bisa melihat masa depan. Aku bisa melihat sesuatu yang belum terjadi dan hal itu membuat mataku, lebih sibuk dari mata manusia lainya.
Namaku Rasya Setya Negara, nama itu aku dapat dari kedua orangtuaku.
Kebencian yang selalu menggiringku dalam kesendirian. Kesendirian yang begitu jahat, memenjarakan jiwaku hidup bersama nestapa yang tak bertepi.
Aku sekolah di SMA Bhineka, sekolah swasta yang berada di kota Jakarta. Sekarang, aku duduk di kelas 2. Aku tidak pintar dalam akademik dan tidak mahir dalam olahraga. Hanya kemampuan bisa melihat masa depan, nilai lebih yang aku miliki. Tapi bagiku, penglihatan itu adalah sebuah kutukan.
Seorang penulis dari Skotlandia, bernama William Barclay pernah berkata. Ada dua hari yang luar biasa, dalam kehidupan manusia. Yang pertama, saat mereka dilahirkan. Dan kedua, dimana saat mereka mengetahui, alasan kenapa mereka di lahir kan.
Dan jujur, aku tidak tahu akan dua hal tersebut. Karena yang aku tahu, duniaku sudah berhenti, saat penglihatan itu datang.
__ADS_1
**
Penglihatan itu muncul, saat aku berumur sembilan tahun. Dan itu, adalah awal dari neraka ku. Diriku kecil, sama seperti anak kecil pada umumnya. Canda dan tawa, hampir mengisi seluruh waktuku.
Aku mempunyai seorang yang mengurusku dengan lembut dan menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang, seorang yang ku panggil Ibu. Aku juga mempunyai seorang yang bisa diandalkan dalam segala hal, yaitu Ayahku. Kata yang tepat untuk mewakili perasaanku saat itu adalah, aku bahagia.
Ayah yang selalu rela untuk bangun lebih pagi, hanya untuk mengantarku pergi ke sekolah. Dengan mata yang masih di gerayangi rasa kantuk, yang selalu ia tutupi dengan kaca mata hitam yang ia kenakan. Yang kadang ia jadikan bahan lelucon untuk membuat tawa di wajah ini.
“Pijet mas?” Canda Ayah.
Sebuah lelucon, yang selalu melukis tawa di wajah ini, walaupun entah berapa kali, aku telah mendengarnya. Membuat lelucon adalah hobi Ayahku, lelucon yang selalu membuat hariku dan Ibu selalu berwarna. Dia selalu mempunyai kata-kata, yang bisa membuat bibir ini tersenyum dengan sendirinya.
Cara dia menggoda Ibu di pagi hari, kata-kata yang sama. Dengan mengatakan, bahwa dia akan menikah lagi dengan wanita berumur sebelas tahun. Lelucon itu, selalu membuat tawa di wajah cantik Ibu. Jiwa yang selalu ingin menyenangkan hati Ibu, dengan mengatakan bahwa masakan Ibu adalah masakan terenak di dunia. Walaupun Ibu hanya memasak air panas untukku mandi.
Ayahku adalah seorang wirausaha, dia mendirikan perusahaan di bidang hiburan, yang ia dirikan bersama Ibuku. Sebuah perusahaan yang bergerak sebagai label rekaman serta agensi artis. Karena itu, tidak jarang aku bertemu dengan artis-artis yang sering aku lihat di televisi sebelumnya, saat Ayah mengajakku pergi ke kantornya.
Ayah selalu bertemu dengan banyak artis-artis cantik, tapi dia hanya menatap kearah Ibuku dan diam dalam waktu yang lama. Karena alasan itulah yang membuat Ibu, selalu berdiri disampingnya. Dan tanpa lelah, mendengarkan keluh kesah Ayah.
Walaupun seorang wanita karir, Ibu tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang Ibu dan Istri. Dia selalu memanjakan ku dengan penuh kasih sayang, yang selalu mendekap jiwa. Dan kurasakan hangat dari kasih sayang itu, dan aku bersyukur karenanya.
Cara dia melihatku, bagai aku putra malaikat. Senyum tanpa pamrih, tapi sangat dalam. Bagai sebuah jurang, senyuman itu mematahkan harapan dari seseorang, untuk pergi dari jurang tersebut. Dan ingin terus berlama-lama, menikmati kehangatan dan keindahan, dari jurang itu sendiri.
Lantunan indah suara Ibu, selalu menemani tidurku. Serta tepukan kecil di pinggang, seakan mengatakan, bahwa mimpi indah akan selalu menyertai tidurku. Keharmonisan yang dibangun dengan pondasi kasih sayang, serta gugusan cinta yang tak pernah terkikis, itulah perisai yang aku kenakan.
__ADS_1
Namun langit mengambil itu semua, dan yang tersisa adalah rasa sakit dan nestapa.
**