WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 31) COME RAIN, COME SHINE


__ADS_3

COME RAIN, COME SHINE


Kita berdua pun naik Bus No. 1 M dengan rute Meruya – Blok M, ramainya penumpang bus membuat kami hanya berdiri sambil mengaitkan tangan kita pada pegangan Bus. Sejak Keira keluar dari ruangan guru, ia belum membalas pertanyaan ku tentang berhasil tidaknya rencana kita.


Setiap pertanyaannya, Keira hanya membalasnya dengan senyuman. Dan hingga saat ini, aku belum tahu rencana kita berhasil atau tidak, dan itu sedikit mengusik pikiranku.


Di dalam bus kita hanya bertukar tatapan dan senyuman, Keira awalnya menolak untuk di antar, namun aku terus bersikeras karena malam sudah sangat larut. Sebenarnya itu hanya alasan saja, aku hanya masih ingin berlama-lama bersamanya.


Setelah mengarungi jalan selama 45 menit, karena macetnya Jakarta. Kita pun turun di daerah Blok M, dan setelah turun, kita lantas berjalan memasuki sebuah gang. Aku pun meraih tangan Keira dan kita berjalan di temani lampu jalan, hanya senyuman yang tersurat di wajah kita berdua.


“Kamu ngobrol apa tadi sama Pak Rifaldi?” Tanya Keira.


“Sepakbola.” Jawabku.


“Emang kamu ngerti?” Tanya Keira.


“Enggak.” Jawabku.

__ADS_1


Jawabanku pun mengukir senyum di wajah Keira, namun secara tiba-tiba sebuah kenangan sayu mengajak diriku bermain dan menarik senyum dari wajah ini. Tiba-tiba aku teringat Yusuf, dan itu menyakitiku.


Terdiam aku sejenak akan kenangan sayu itu, dan aku kembali mengutuk diriku dan akan selalu begitu setelah kejadian menimpa Yusuf. Genggaman tangan Keira, menyelamatkanku dari pusaran kenangan itu.


Aku hanya menatapnya dan tanpa kusadari mengalir air mata di pipi ini, melihat itu aku pun buru-buru mengelap air mata itu, karena tidak ingin Keira melihatnya. Namun Keira sudah melihat itu semua, dan hanya tersenyum menatapku. Keira pun makin mengeratkan genggamannya, dan aku bersyukur bisa memilikinya.


Hanya senyuman yang aku berikan, sebuah senyuman yang berisi rasa terimakasih ku kepadanya.


Banyak hal yang ingin sekali aku ceritakan kepadanya, Keira maukah kau melihatku dan mendengar cerita-cerita ku. Aku hanya seorang lemah yang berpura-pura kuat di depan orang banyak, sebuah topeng yang aku buat sedemikian rupa untuk menyembunyikan wajah asliku.


Aku hanya anak sebatang kara yang ditinggal kedua orang tua pergi ketempat yang sangat jauh, tempat yang tidak bisa dikunjungi dengan kereta ataupun pesawat terbang. Dan jika aku tersenyum, senyuman itu hanya sebuah topeng untuk menutupi hatiku yang sedang menangis.


“Makasih ya, udah di anterin pulang.” Kata Keira sambil tersenyum menatapku.


Aku hanya tersenyum kepadanya. Keira lantas menatapku dan diam dalam waktu yang lama, kemudian ia tertunduk dengan raut wajah kecewa. Melihat hal itu, aku pun sudah tahu maksud dari diamnya dan rautnya itu.


“Maafin aku ya, aku gak berhasil.” Kata Keira sambil tertunduk.

__ADS_1


“Engga apa-apa, kamu udah berusaha kok.” Jawabku sambil tersenyum kearahnya.


“Sama aku juga ngasih tahu, aku juga akan mundur dari bursa pemilihan ketua osis.” Lanjut Keira.


Aku pun lantas terdiam, semua itu karena rasa bersalahku. Kerena aku tahu, itu adalah impian Keira. Dan rasanya menyakitkan, melihat ia melepas mimpinya, Aku pun mengutuk diriku karena ketidakmampuanku menjaganya dan mimpinya.


“Geer deh, bukan karena kamu lagi, aku memang udah lama ingin berhenti di bursa pemilihan osis. Karena aku baru sadar, ada banyak banget hal yang lebih penting dan aku sukai selain hal itu itu.” Jawab Keira.


Aku hanya tertunduk dan tak sanggup menatapnya. Karena aku tahu, itu hanya sebuah alasan yang ia buat untuk menutupi rasa kecewa nya.


“Dan salah satu alasannya, adalah kamu.” Kata Keira sambil tersenyum.”


Mendengar hal itu, aku pun hanya menatapnya. Aku memang belum mengerti sepenuhnya arti cinta. Namun aku cukup yakin untuk memberikan segalanya untuk cinta, dan untuk Keira.


Siapa pun akan mudah jika mencintai sebuah madu, tapi akan memerlukan banyak waktu jika harus mencintai seekor lebah. Dunia memang berjalan seperti itu, namun ia sungguh berbeda. Karena itu aku sungguh beruntung memilikinya. Dia dan cintanya mengajariku melihat, bahkan saat mata ini terpejam. Dan mendengar, saat telinga ini tertutup. Ini sungguh menggelikan memang, jika aku terus berbicara tentang cinta. Namun suatu saat, kalian akan mengerti dan paham tentang apa yang aku rasakan.


Dan jika nanti saatnya telah tiba, aku akan membagi rasa sakit itu kepadanya. Derita yang aku alami di masa lalu, yang masih menjeratku hingga saat ini. Kelebihan dan kekurangan dari seorang manusia adalah manusia memiliki sebuah ingatan.

__ADS_1


Dan jujur kita tidak bisa melupakan kenangan dari masa lalu kita, dan yang kita bisa lakukan hanya menggantinya dengan kenangan baru yang lebih baik. Dan aku yakin, bahwa Keira bisa menjalankan tugasnya dengan baik, dan mengubah segala ingatan yang penuh dengan lara itu, menjadi sebuah kebahagiaan yang sempurna.


__ADS_2