
HARAPAN YANG DI KIRIM LANGIT
Setelah kejadian tragis menimpa kedua orangtuaku. Paman yang tidak tega melihatku tinggal sendiri, mengajakku untuk tinggal bersamanya. Tapi aku menolak ajakan tersebut dan bersikeras untuk tetap tinggal di rumahku, dirumah peninggalan mendiang kedua orangtuaku.
Aku tidak ingin, jika aku pergi dari rumah ini, tanpa sadar aku akan menghapus segala kenangan indah tentang kedua orangtuaku di ingatan.
Mendengar alasanku, Paman pun kecewa seraya menundukkan kepalanya. Tidak tega melihatku tinggal sendiri, Paman pun mengirim seorang asisten rumah tangga untuk menjagaku. Kemudian datang seorang wanita berusia 50 tahun, bernama Ibu Ani datang di kehidupanku.
Dia tidak datang sendiri, dia datang bersama seorang remaja tanggung, bernama Yusuf. Melihat hal itu, aku pun menyambut mereka dengan beralaskan harapan yang ingin keluar dari kesendirian.
Dan Tuhan pun mengabulkan doaku, setelah mereka datang di kehidupanku, tanpa sadar duniaku kembali hidup. Suara mereka berdua membisingkan telinga, dan kehadiran mereka menghancurkan sunyi seraya menuntun duka untuk pergi.
Dan dengan perlahan, senyum ini kembali. Tidak terlalu lama untuk beradaptasi, karena mereka membuka lebar pintu dan menghardik kecanggungan ku, sehingga tanpa aba-aba, aku leluasa untuk berjalan masuk dan terpatri bersama mereka.
Tutur mereka yang alami, tanpa embel-embel yang membelakangi. Membuat aku terperangkap dan nyaman untuk berada disisi mereka. Televisi yang berada di ruang tamu, mereka ubah menjadi tempat berkumpul yang asyik.
Sebelumnya, aku memang tidak hobi menonton televisi, tapi setelah ada mereka, televisi menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Melihat kelucuan Ibu Ani dan Yusuf saat berebut remote televisi, menjadi hiburan tambahan dan mereka menjadikan rumah ini, kembali hidup.
Hidupku yang sepi ditelan kesendirian, berubah menjadi bernafas dan bertenaga, aku tidak lagi sendiri melihat dunia dari kejauhan dan melukis awanku sendiri, ada Ibu Ani dan Yusuf.
Mereka berdua seakan membisikan sebuah kata di telingaku, bahwa aku tidak lagi sendiri. Dan senyuman mereka seakan merangkul ku, dan membawaku kembali ke dunia dan kembali mengerti arti dari kata harapan.
__ADS_1
Setelah mereka hadir di hidupku, aku mempunyai sebuah rutinitas baru, yaitu mengikuti kemana pun Yusuf pergi. Rumah dan lapangan sepakbola adalah dua tempat yang sering ia datangi. Kenapa lapangan sepakbola, itu karena Yusuf bercita-cita menjadi seorang pesepakbola profesional.
Hal itu terlihat dari banyaknya poster para pesepakbola dunia, yang tertempel di dinding kamarnya. Yusuf berusia 15 tahun, atau 8 tahun lebih tua dariku. Dan aku pun mulai menempatkan Yusuf sebagai Kakak sekaligus idola, karena bagiku dia adalah anak yang keren.
Cita-cita Yusuf menjadi Striker kelas dunia. Yusuf berniat membawa Indonesia menjadi juara di gelaran piala dunia, dan itu adalah mimpinya. Karena itu, dia terus berlatih dan berlatih. Melihat etos Yusuf, membuatku kagum, dia mempunyai tujuan di hidupnya, tak peduli sulit atau menderita, dia akan terus berlari dan tetap mengejar mimpinya.
Jujur aku sedikit iri melihatnya, ia menjadi seorang striker di dalam mimpinya dan di kehidupan nyata. Terus mencari peluang dan memanfaatkanya untuk menjadi sebuah gol. Aku pun berandai-andai, kira-kira kapan aku bisa menjadi striker di hidupku, mempunyai sebuah mimpi dan terus mencari peluang untuk membuat sebuah gol, dan mewujudkan mimpi itu sendiri.
Tapi aku meragu, aku takut jatuh untuk kedua kalinya. Dan aku takut terbiasa akan kata kecewa, dan rasanya lebih baik untuk tidak berharap, karena aku tidak akan pernah kecewa. Bijak atau pengecut, terserah bagaimana mengartikannya. Karena aku sudah cukup kesakitan, hanya dengan bernafas.
Tapi berbeda dengan Yusuf, dia tidak takut gagal atau kecewa. Karena baginya, kegagalan adalah langkah lain menuju keberhasilan. Dan ia memutuskan untuk menjadi singa di hidupnya, terus berlari dan bertarung sampai ia mendapatkan keinginannya. Mungkin karena itu, aku sangat menyukai Yusuf, karena dia berbeda denganku.
**
Hanya satu sepatu yang Yusuf punya, yaitu sepatu sekolahnya. Karena hal itu, setiap selesai bermain sepakbola. Telapak kaki Yusuf sering terluka, saat ia tidak sengaja menginjak duri ataupun tidak sengaja menendang sebuah batu.
Seperti hari ini, Yusuf dipaksa terduduk dan segera memegangi telapak kakinya, setelah sebuah duri menancap di kakinya dan tampaknya itu menyakitinya.
Di tengah lapangan sepakbola, dan di bawah teriknya matahari, Yusuf ambruk seraya menatap kakinya dengan wajah getir. Namun tak lama, ia kembali berdiri dan berlari. Ia tidak bergeming akan rasa sakit yang ia derita. Dan jika aku melihat Yusuf, aku ingat sebuah pepatah lama.
Jika kita mencari kata lain yang tepat untuk menggambarkan sebuah mimpi, kata yang tepat mungkin adalah penderitaan. Dengan kata lain, karena mimpi itu, kita rela berdamai akan semua penderitaan yang kita rasakan, saat kita mengejar mimpi sendiri.
__ADS_1
Kita akan tetap memelihara penderitaan itu, dan terus berusaha mewujudkannya.
**
Dan suara adzan magrib menghentikan segala aktivitas mereka di lapangan sore itu, bagi mereka suara adzan adalah peluit panjang yang mengisyaratkan pertandingan harus berakhir. Dan kita semua pun mulai beranjak pulang kerumah masing-masing, begitu pula aku dan Yusuf.
Perjalanan pulang, selalu menyenangkan. Kita selalu mengisinya dengan obrolan kecil, kadang kita membicarakan anak yang tidak kita sukai atau hanya sekedar menebak-nebak, apa menu yang dimasak Ibu Ani untuk makan malam kita.
“Kakak kenapa, kok senyum terus?” Tanyaku.
“Kakak seneng aja, bisa ngelakuin sesuatu yang Kakak suka.” Jawabnya.
“Happiness is only real when shared.” lanjutnya.
“Hah?” Tanyaku.
“Kebahagian akan sempurna, jika kamu membagikan kebahagian itu.” Tuntasnya.
Yusuf mengajarkanku banyak hal dan aku belajar banyak darinya, mengenai arti dari kehidupan dan makna dari kata mimpi. Bukan seberapa banyak anda gagal, tapi seberapa banyak anda bangkit saat anda gagal. Itu semua yang aku bisa yang pelajari darinya.
Kenyamanan, keharmonisan, kebersamaan, terserah mau disebut apa perasaan itu, yang mewakilkan perasaanku saat bersama mereka berdua. Karena yang aku tahu, mereka dikirim langit untuk menemaniku dan menyembuhkan ku dari kesedihanku selama ini.
__ADS_1