WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
CHAPTER 52 (A STONE'S THROW)


__ADS_3

A STONE'S THROW


Dan hari itu tiba, hari dimana aku akan kehilangan seorang anak yang aku sayangi, aku menangis saat menyaksikan penglihatan tersebut. Hari itu, sekretaris pribadi ku menelpon. Dia mengingatkanku bahwa hari ini, aku ada sebuah rapat penting.


Rapat itu bertujuan untuk membahas sebuah projects perusahaan. Projects album baru dari sebuah Band di bawah naungan agensiku. Band beraliran pop bernama Twister, band yang selalu memberi benefit keuntungan bagi perusahaan ku. Band yang di sukai oleh muda-mudi karena paras tampan para personil, serta lagu-lagu mereka yang mudah di dengar yang selalu bisa merajai tangga lagu di industri musik.


Dan mereka adalah aset terbesar di perusahan kami. Dimana isi rapat itu bertujuan untuk membahas konsep album baru milik mereka yang lima, bagaimana konsep music video dan lain-lain.


Karena cuti ku, projects itu pun terus tertahan, dan kali ini aku tidak bisa menundanya lagi karena itu aku harus bergegas ke kantor karena itu adalah projects penting. Setelah aku sampai, aku bersama tim pun membahas beragam konsep terbaik untuk album terbaru milik mereka. Dan rapat itu membuatku bergelut dengan berbagai konsep yang memusingkan kepala, dan kulihat jam sudah menunjukan pukul 12 siang.


Aku merasa bahwa rapat ini tidak akan bisa selesai dengan cepat, dan aku tahu bahwa aku tidak bisa untuk menjemput Azka hari ini. Azka sudah bersekolah kala itu, ia kelas 1 sekolah dasar. Ia bersekolah di sekolah swasta, yang tidak jauh dari rumah kami. Dan itu memang tugasku yaitu mengantar jemput Azka sekolah, tapi rasanya aku sungguh tidak bisa menjemputnya kali ini.


Aku pun menelpon Keira untuk menjemput Azka, karena kala itu adalah jam pulang sekolahnya. Walaupun aku tahu dia sibuk, tapi aku tetap menyuruhnya untuk menjemput Azka. Kemudian ia bisa menitipkan Azka dirumah Ibunya, selepas aku menyelesaikan rapat ini, aku akan menjemput Azka dirumah Ibunya. Walaupun awalnya Keira sempat menolak, karena ia sedang sibuk di Firma hukum miliknya.


Akhirnya dia pun mengiyakan permintaanku, dan aku melanjutkan pekerjaanku yang melelahkan itu.


Namun saat Pukul 4 sore, aku mendapat telpon dari sebuah rumah sakit. Dan aku tahu bahwa itu awal dari neraka ku, aku pun bergegas ketempat yang paling aku benci itu, tempat dimana aku kehilangan orang-orang yang aku cintai. Dan saat aku disana, aku hanya berdiri menatap anak yang aku cintai terbaring di kamar mayat rumah sakit.


Aku tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi, aku hanya bisa menangis seraya memeluk tubuhnya yang sudah tidak bernyawa. Di tengah hancurnya diriku, kemudian Keira datang dengan tangisannya.

__ADS_1


Aku hanya menatapnya dan aku sungguh tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi. Tak lama seorang polisi menghampiri kami di kamar mayat itu dan menjelaskan kepadaku detail kejadian mengerikan itu. Bahwa Azka menjadi korban tabrak lari, aku pun tidak bisa menerima fakta tersebut. Dan kulihat Keira masih menangis seraya memeluk tubuh Azka yang sudah tidak bernyawa itu.


Seorang polisi muda itu kemudian menjelaskan detail selanjutnya, ia mengatakan bahwa Azka memberanikan dirinya pulang sendiri karena dia sudah menunggu berjam-jam namun tidak ada seorang pun yang menjemputnya. Aku pun bertanya-tanya, dimana Keira.


Dan kulihat ia masih memeluk tubuh Azka yang sudah tidak bernyawa itu. Dan aku mengerti sekarang, bahwa dia tidak pernah ada disana dan dia tidak pernah menjemputnya. Setelah kejadian itu, Keira mencoba untuk menjelaskan alasan kenapa ia tidak menjemput Azka.


Tapi seribu alasan dan, kata maaf darinya, tidak bisa membangunkan Azka lagi. Dan setelah kejadian itu, hanya pertengkaran yang mengisi rumah tangga kami, dan membuat kita berdua lelah. Dan aku pergi meninggalkannya.


**


Dan saat aku tersadar, aku masih melihat raut wajah Keira yang penuh amarah menatapku. Dan aku berharap, apa yang tadi aku lihat itu hanya sebuah mimpi, sehingga rasa sakit ini akan hilang saat aku terjaga di esok hari. Takdir itu sungguh mengerikan bagai sebuah mimpi buruk.


Aku sempat berfikir, tidak bisakah aku hidup seperti orang pada umumnya. Menjalani hidup dengan rasa optimis, tidak tahu akan kejadian yang menimpa di esok hari. Sehingga aku terus menjalani langkahku dengan kepala tegak, tidak seperti ini. Bagai sebuah perang, aku sudah dipaksa kalah, sebelum perang itu di mulai.Tuhan menjatuhkan diriku, kemudian ia mengangkat ku .


Tuhan lalu menjatuhkan ku lagi, lalu ia kembali mengangkat ku, kali ini ia mengangkat ku sangat tinggi bahkan disitu aku bisa melihat gumpalan awan. Dan aku tersenyum karenanya, namun sebentar aku menikmatinya. Tuhan menjatuhkan ku dengan sekali tarikan, aku lalu terhempas dan jatuh tak berdaya. kenapa seperti ini, Tuhan memperlakukanku bagai aku sebuah mainnya.


Kulihat Keira masih menatapku dengan raut wajah yang penuh amarah, Tuhan aku hanya ingin dia bahagia dan aku hanya ingin ia tersenyum.


“Oh iya aku lupa, kita emang gak ada ikatan apa-apa. Jadi aku mohon, kamu pergi dari hidup aku.” Tuntas Keira.

__ADS_1


Setelah kalimat itu, ia pergi meninggalkanku. Aku sungguh ingin menahannya, dan lebih lama berada disisinya. Namun aku hanya akan membuat lara di hidupnya, di hidup wanita yang aku cinta. Aku pun memutuskan untuk tidak mengejarnya, dan tidak menyembuhkan lara di hatinya.


Halaman kosong dari cerita kita, sepertinya dirimu harus mengisinya sendiri. Segera hapus diriku dari cerita kita. Karena aku hanya tokoh antagonis yang akan membuat dan mengacaukan cerita hidupmu. Seorang yang sangat berbahaya untukmu. Maafkan aku, karena membuat tangisan bagai sebuah rutinitas yang wajar untukmu.


Aku berpikir, bahwa aku bisa menggapainya. Jika aku terus, berlari. Namun mimpi buruk


ini, tidak bisa aku hindari. Dan air mata ini jatuh, karena aku sangat menyukaimu. Aku terus berusaha kembali, dengan cara yang sama seperti saat aku datang. Namun, maafkan aku karena duniaku, lebih gelap


dari malam hari.


Dan aku harus pergi, karena aku tidak ingin menyakitimu. Dan hanya itu, caraku untuk menyelamatkanmu dari kutukan itu. hingga


di titik dimana semua berubah, dan senyum cantikmu kembali. Aku sungguh tidak sabar menunggu itu. Meskipun aku sungguh tidak percaya diri, aku dapat menunggu momen


itu tanpa dirimu di sisiku.


Benar, aku harus menjauh sehingga dia terhindar dari takdir mengerikan itu. Jika ia terus di dekatku, dia akan terus terluka. Aku akan menghilang, kata selamat tinggal yang ingin ku ucapkan malah akan menambah lara mu.


Aku akan menghilang sekarang, kesedihan ini akan kubawa sehingga kau tidak perlu mengenalnya dan bermain bersamanya. Tawaran untuk tinggal bersama paman pun terlintas di benakku, benar ini satu-satunya cara untuk Keira bahagia, aku harus menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2