WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 41) ANGEL'S LAST MISSION


__ADS_3

ANGEL'S LAST MISSION


Wajah baru, suasana baru, dan naik satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Setelah mengikuti kelas tambahan dan belajar mati-matian selama satu bulan penuh. Aku berhasil menaklukan ujian kenaikan kelas dengan kepala sedikit tegak, dan naik ke kelas tiga.


Aku menempati rangking 35, naik empat peringkat dari tempat ku sebelumnya yaitu rangking 39. Dan itu semua karena Keira, dan aku bersyukur karenanya.


Aku sempat khawatir, tidak akan sekelas lagi dengannya, namun setelah melihat pembagian kelas dan mengetahui bahwa aku kembali sekelas dengannya. Senyum ini tersirat di wajahku, karena aku kembali sekelas dengan wanita yang aku suka.


Hari ini, aku datang sangat pagi ke sekolah, hal itu aku lakukan untuk mendapat bangku dan meja yang aku inginkan. Aku ingin kembali duduk sebangku dengan Keira. Setelah berjibaku dengan siswi-siswi di kelas, aku pun mendapat meja di baris ketiga pojok kelas.


Aku pun sedikit kerepotan menjaga bangku di sebelahku, karena aku menyiapkan bangku ini untuk Keira. Dan entah beberapa kali aku menolak, saat siswa lain ingin menduduki bangku ini.


Aku pun makin cemas, karena Keira tak kunjung datang. Sementara hampir seluruh siswa-siswi di kelas sudah datang. Dan tak lama, aku mengirim pesan singkat kepadanya. Saat aku melihat seisi kelas, rasa canggung hinggap di diriku.


Karena hampir sepertiga siswa-siswi adalah wajah baru, dan aku harus merelakan Roni, karena aku tidak sekelas lagi dengannya.


Aku masih menunggu Keira, sambil terus menatap ponselku, menunggu pesan balasan darinya.


Dan 15 menit sebelum pelajaran di mulai, akhirnya aku melihat Keira masuk ke kalas. Aku langsung mengangkat tanganku sebagai kode kepadanya, bahwa aku sudah mendapat meja untuk kita berdua. Dengan senyuman di wajahnya, Keira pun berjalan menghampiriku. Aku pun senang akan fakta bahwa aku akan kembali sebangku dengannya.

__ADS_1


Ia lantas melepaskan tasnya dan menatapku dengan senyuman di wajahnya. Keira lantas mengambil satu bungkus rokok dan dompetku di dalam tasnya, sambil tersenyum ia menatapku. Kemudian Keira memasukan dua barang tersebut kedalam tasku, setelah memasukan dua barang itu, ia tersenyum seraya menatapku.


“Selamat ya.” Kata Keira.


Aku hanya tersenyum menatapnya, ia sangat mengerti bagaimana membuat senyum di bibir ini dan aku bersyukur karenanya. Dan sungguh celakanya aku, jika ia tidak ada di hidupku.


“Tapi inget jangan jumawa dulu, karena ini masih permulaan kamu harus lebih giat lagi belajarnya. Ok?” Pinta Keira.


Hanya senyuman lah yang bisa kuberikan kepadanya, senyuman itu sebagai tanda terimakasih ku kepadanya. Aku berjanji bahwa aku akan terus berjuang, untuk diriku sendiri dan untuk dirinya.


Dan aku akan menjadi lebih layak untuknya. Riuh dan ramai suasana kelas, hal itu membuat jantungku berdebar. Tak lama, Ibu Arini mengusir keriuhan dan keramaian kelas. Ibu Arini adalah wali kelas baruku, Ibu Arini adalah guru fisika di sekolahku.


Setelah memperkenalkan dirinya, Ibu Arini lantas mengatakan bahwa kita harus memilih posisi ketua kelas. Kita pun melakukan langsung mengadakan pemilihan untuk memilih ketua kelas.


Anak-anak kelas pun menyuarakan nama-nama yang dianggap mampu memimpin kelas, melihat hal itu aku pun tersenyum seraya menatap Keira. Aku pun berniat mencalonkan Keira di bursa pemilihan ketua kelas. Karena aku tahu sejak kelas satu, Keira selalu menjabat posisi tersebut dan dia melakukanya dengan baik.


Melihat hal itu, Keira pun tampak antusias. Namun aku terkejut saat aku menatap matanya, sebuah penglihatan akan masa depannya muncul. Dan aku tersenyum karenanya, di penglihatan itu Keira maju dalam bursa pemilihan ketua kelas.


Keira akan bersaing dengan dua kandidat lainya, Khanza Azizah dan Billy Davidson. Mereka memang mempunyai track record yang baik dalam hal leadership, mereka sama-sama menjadi bagian penting di organisasi sekolah bersama Keira di periode sebelumnya, walaupun Keira harus berhenti menjadi pengurus OSIS setelah peristiwa dengan Teddy.

__ADS_1


Dan aku sadar bahwa kali ini, Keira mendapat lawan yang cukup kuat di bursa pemilihan ketua kelas. Namun aku tersenyum saat potongan penglihatan ku selanjutnya. Potongan itu bercerita bahwa Keira akan menang dalam pemilihan bursa ketua kelas. Setelah ia mampu menggungguli suara Khanza Azizah dan Billy Davidson. Keira mampu unggul 5 suara dari Khanza, dan 10 suara dari Billy.


Dan aku pun tersenyum melihat hal itu, Keira berhasil menang di pemilihan bursa ketua kelas. Di potongan penglihatan itu, kulihat Keira pun tampak bahagia setelah terpilih menjadi ketua kelas, aku pun sangat senang melihat hal itu. Namun saat aku melihat potongan masa depan Keira selanjutnya, awalnya tidak ada yang aneh di potongan masa depan tersebut.


Di sebuah kamar, Keira sedang terjaga di Kasur sambil membaca sebuah buku. Namun saat Keira menatap bingkai foto yang berdiri di bufet di samping tempat tidurnya, tak lama ia menangis. Aku tidak begitu jelas melihat isi bingkai itu dan foto siapa yang ia lihat di bingkai tersebut, tapi melihatnya menangis membuatku hancur. Aku sangat ingin memeluknya dan berbagi kesedihan bersamanya.


Cintaku menangis, tangisannya makin kuat. Ia sendirian dirundung nestapa, Keira tak lama mengambil bingkai itu dan memeluknya.


Dan saat aku tersadar, aku melihat Keira tersenyum dan kemudian menatapku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menyukai senyumannya. Suara anak-anak makin menyadarkan diri ini, dan aku dirundung ketakutan akan masa depannya.


Anak-anak kelas lantas menyuarakan nama Keira untuk mengikuti bursa pemilihan ketua kelas. Kulihat Keira pun sangat antusias dan hanya tersenyum karena hal itu, aku sangat takut dibuatnya dan berfikir bahwa aku harus berbuat sesuatu untuk mencegahnya. Penglihatan ku akan masa depannya tadi, menjadi alasan yang melatarbelakanginya.


Mungkin jika ia tidak menjadi ketua kelas, takdirnya akan berubah. Itu yang ada di pikiranku, dan hanya itu yang aku coba yakini. Aku sangat ingin mengubah takdirnya, dan kumohon itu lah yang terjadi karena aku tak kuat melihatnya menangis.


Tanpa di bekali sebuah ilmu pengetahuan, semua tindakan kita akan berakhir dengan sia-sia. Begitu juga dengan pengetahuan, jika tanpa sebuah tindakan, hal itu juga akan berakhir sia-sia. Di dunia ini, kita di ajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, namun sayangnya kita tidak di ajarkan bagaimana cara untuk menghadapi sebuah rasa sakit.


Akhir dari sebuah keraguan adalah sebuah kepastian, begitu juga sebaliknya. Selama ini aku banyak membual tentang kebahagiaan dirinya, namun sekarang aku tidak tahu lagi. Bagaimana aku harus menyikapi rasa sakit yang akan datang kepadanya. Di masa depan, wanita yang aku cintai akan banyak menangis. Di masa depan, Keira akan kehilangan anaknya. Dan di masa depan, ia akan di rundung oleh nestapa.


Kita memang tidak seharusnya menangis, dalam proses balas dendam. Namun situasi selalu membuatnya demikian, karam hanya tinggal waktu. Namun, aku menolak. Karena aku tidak bisa, hidup tanpa senyumannya. Peperangan ini aku mulai, walau aku tahu peperangan ini tidak mudah. Karena aku harus melawan sebuah garis yang sudah

__ADS_1


di tentukan.


Karena hal itu, aku harus segara menguatkan diriku, demi memastikan takdir itu tidak mendekatinya. Dan apapun akan aku lakukan, walaupun taruhannya adalah nyawaku sekalipun.


__ADS_2