
SAAT LANGIT KEMBALI BERUBAH PIKIRAN
Kita berdua lantas beranjak ke tengah rel, dan menunggu ajal kita datang. Dari ujung rel kereta, terlihat kereta datang menghampiri kita. Batu krikil menjadi saksi, sirene kematian terdengar di kuping kita berdua.
Aku hanya terdiam gugup, melihat fakta itu. Frisca lantas mengeratkan tangannya di tanganku, aku hanya menatap getir kearahnya. Frisca hanya tersenyum menatapku, dan aku rasa aku sungguh gila. Entah kenapa dia begitu cantik pagi ini, dan parasnya membuat dada ini bergetar.
Kematian membuatku menjadi gila, bagaimana hanya itu yang ada di pikiranku sekarang. Dan saat aku menatapnya, sebuah penglihatan akan masa depannya muncul. Dan penglihatan yang terakhir aku lihat, adalah masa depan Frisca.
**
Pagi di sebuah rel kereta bersama dengan matahari terbit, aku melihat Frisca berdiri sendiri di atas rel kereta dengan senyum yang ada di wajahnya. Setelah itu ia lantas menatap sebuah kereta yang datang kearahnya, dan menutup kedua matanya.
__ADS_1
Disisi lain aku melihat kereta, yang terus melaju dengan terpaksa. Kereta terus mengeluarkan klakson, dan memberitahu untuk menghindar. Namun Frisca tetap diam, dan tak lama dengan kecepatan penuh kereta itu menyambar tubuh Frisca.
Aku pun terguncang menatap potongan peristiwa itu, takdirnya berubah dan dia akan mati tersambar kereta. Dan aku pun bertanya-tanya, kenapa ia sendiri berdiri di rel tersebut, dan aku tidak melihat diriku disana. Sedangkan aku, bersamanya.
Di tempat ini sekarang, aku pun tidak mengetahuinya. Dan meskipun kita berdua sudah sepakat, untuk melakukan bunuh diri bersama. Tapi aku masih merasa bersalah kepada Frisca. Karena diriku, takdirnya berubah. Dan dia akan meninggal, dengan tertabrak kereta.
**
Dan saat aku menatap kereta itu, tanpa aba-aba ia mendorong tubuhku dengan kedua tangannya. Dan Karena dorongan itu, tubuhku terlempar dan keluar dari jalur rel kereta. Aku terguncang, melihat hal tersebut.
Aku sangat tidak mengerti, kenapa ia melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Saat aku menatapnya, dia hanya terdiam berdiri di tengah rel kereta. Frisca hanya tersenyum kearah ku, kemudian ia lantas memalingkan pandanganya menuju kereta seraya menutup matanya.
Dan aku akhirnya mengerti, akan potongan masa depannya yang aku lihat. Kenapa dia disana sendiri, karena itu aku membencinya. Dia begitu bodoh, dan selalu berprilaku seenaknya. Melihat hal itu pun, aku tidak tinggal diam.
Aku lantas menarik tubuhnya untuk keluar dari rel kereta tersebut dan terhindar dari sambaran kereta. Dan aku berhasil, tubuhnya terpelanting jatuh kearah ku. Dan di samping rel kereta kita berdua terduduk, aku lantas mendekapnya untuk menjaganya dari sambaran kereta yang melaju di samping kiri kita berdua.
Terguncang aku, dengan hanya angin yang di timbulkan dari kereta itu. Dan tidak terbayangkan, bagaimana rasanya jika tubuh ini di sambar kereta tersebut. Kita berdua hanya terdiam di tengah kereta yang melaju di samping kiri kita.
Kereta itu pun lantas pergi meninggalkan kami berdua, disisi lain kita masih terdiam di samping rel kereta tersebut. Saat aku membuka mataku, kulihat Frisca menangis. Karena itu aku mengeratkan dekapanku, dia pasti ketakutan. Seorang wanita bodoh, yang selalu berpura-pura bahwa ia kuat.
Kita berdua terdiam di tempat itu, ketakutan itu masih bersemayam di diri kita berdua. Aku lantas melepaskan pelukanku, dan hanya menatapnya yang masih dengan gesture yang sama. Dan saat aku menatap matanya, aku melihat takdir akan masa depannya.
__ADS_1