
COME BACK TO ME
Setelah kejadian di atap sekolah, aku memutuskan untuk tidak kembali ke kelas. Aku tidak sanggup melihat raut wajah sedihnya, karena aku sadar bahwa hari ini aku begitu jahat kepadanya. Namun aku tidak menyesalinya, karena aku tahu, hanya cara itu yang dapat menghentikan takdir akan masa depannya.
Aku lantas pulang menuju rumahku, dan berusaha kabur akan semua masalah ini. Namun aku masih tidak bisa membuang pikiran ini dari kepala. Setelah sampai rumah pun, aku masih terus dihantui oleh pikiran-pikiran itu.
Siang menjelang sore di kamarku, aku hanya bergelut di kasur bersama segala kerumitan di kepala ini. Aku terus mencari segala solusi, untuk menyelesaikan perkara ini. Namun walau sudah berapa lama aku melakukanya, aku masih tetap tidak bisa menemukan jawabannya. Langit pun sudah berubah menjadi gelap, begitu juga harapan ini.
Aku sangat merindukannya, Keira aku sangat merindukanmu. Aku pun bertanya-tanya, apa yang sedang ia lakukan sekarang. Dan bagaimana perasaanya saat ini, Apakah ia masih bersedih? Aku sungguh ingin mengetahuinya.
Aku sungguh berfikir, apakah Tuhan tidak keterlaluan kepadaku. Ia terus memberi ujian yang begitu berat kepadaku, ia terus merundung diriku dan aku sungguh membencinya, dan hari ini bersama kerumitan ini, aku mengirim sumpah serapah kepadanya.
Malam hampir larut, bunyi bel rumahku menyengat seluruh tubuh ini. Dan tanpa daya membuat seluruh tubuh ini bergegas untuk melihat siapa di balik bunyi bel itu. Harapan diri terus meninggi, dan kumohon wajah cantiknya lah yang bisa aku lihat. Dan detik ini, Tuhan mengabulkan angan ku.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, aku melihat Keira berdiri di depan rumah bersama kotak makanan di tangan. Aku tersenyum, lalu merana. Didepan pintu rumahku, ia berdiri seraya tersenyum kearah ku. Gadis bodoh ini terus tersenyum, meskipun aku terus menyakitinya. Selepas aku menatapnya, sebuah potongan masa depan akan takdirnya langsung mengajak bermain. Kali ini hanya sekelebat saja, namun sangat berdampak, dan aku hancur karenanya.
**
Malam di sebuah rumah, aku hanya melihat Keira terduduk di sudut tembok. Tanpa lampu, hanya sinar dari ponsel yang ada di tangannya. Satu-satunya cahaya yang menerangi wajahnya yang penuh nestapa. Rupanya sungguh berantakan saat itu, ia sendiri dengan tatapan kosong di matanya. Tatapan itu seakan memberi tanda, bahwa sesuatu yang tidak ia inginkan telah terjadi.
Nestapa merundung dirinya, ia sendiri di hancurkan oleh garis takdir. Dan yang membuatku hancur, di depan tempat ia terduduk terdapat sebuah gunting dan sepucuk surat. Aku menangis, ia berniat mengakhiri hidupnya. Hatiku hancur berkeping-keping, aku hanya memejamkan kedua mataku karena tidak sanggup untuk melihat peristiwa itu.
Saat aku melihatnya, terbelenggu aku akan ketakutan ku akan takdirnya. Tapi dia terus melangkah, selangkah demi selangkah dan tersenyum saat menatapku. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh tidak berguna, karena ia masih terus menyimpan takdir itu. Ia bagai sebuah keajaiban, dan memeluknya adalah tujuanku akan dunia ini. Namun kenapa aku terus kesulitan bernafas, saat menatapnya.
“Kalo kamu gak mau aku jadi pengacara, aku gak akan jadi pengacara.” Kata Keira.
Walau di tengah pelukanku, aku masih saja menyakitinya. Kisah cinta ini, menceritakan siapa aku sesungguhnya. Diriku tidak lebih, hanya sebuah duri dari bunga kesukaannya.
__ADS_1
Aku sungguh tidak mengerti, dimana letak kesalahan ini. Sehingga semua hal menjadi berantakan. Kenapa kita berdua, terus dan terus menjauh dari mimpi yang kita buat.
Ini adalah momen biasa, yang sering kita lakukan. Namun kenapa, aku terus merasa cemas. Kenapa aku merasa seperti telah kehilangannya. Sekilas tentang kita, semua hal kini menjadi klise. Apakah sebuah kata, bahwa aku mencintainya. Bisa membawa dirinya kembali. Apakah cinta kita, memiliki tanggal kedaluwarsa.
Kira-kira, kemana perginya hari itu. Sebuah hari dimana kita menjadi diri kita sendiri.
Hari dimana, kita menertawai kebodohan kita, dan hari dimana kita saling mencintai satu sama lain. Kini, obrolan kita penuh dengan kehati-hatian. Serta nafas berat di akhir kalimat. Untuk beberapa alasan, aku bersyukur atas usaha yang kita lakukan. Jadi kumohon maafkan aku, karena kisah
kita berakhir seperti ini.
Tuhan, aku sungguh mencintai wanita ini, jadi kumohon hentikanlah takdir yang kau buat untuk dirinya. Berikan semua rasa sakit itu kepadaku, seperti yang biasa kau lakukan kepadaku.
Aku hanya terus mengeratkan pelukanku, dan berjanji akan terus bertarung untuk takdirnya. Apapun caranya akan aku lakukan, akan ku robohkan kesewenang-wenangan garis takdir. Dan melukis senyum di wajahnya. Aku pun melepaskan pelukanku, dan menatap dirinya. Ia begitu indah, dan aku bersyukur bisa memilikinya. Aku lantas meraih tangannya dan menariknya masuk kedalam rumah.
__ADS_1