WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 30) PINOCCHIO


__ADS_3

PINOCCHIO


Sebelum kita bertemu Pak Rifaldi, kita berdua pun menyusun sebuah siasat demi melancarkan rencana kita berdua. Pak Rifaldi adalah satpam sekolah kami, ia biasa dipanggil Babeh oleh siswa-siswi di sekolah kami. Ia sudah bekerja lebih dari 10 tahun di sekolah kami.


“Aku yang masuk, dan copy video cctv itu, aku akan pura-pura mau ngumpulin tugas.” Kata Keira.


“Berarti, aku ngalahin perhatian Babeh.” Kataku.


“Bentar deh, Babeh siapa?” Tanya Keira dengan binggung.


“Babeh itu Pak Rifaldi, Satpam kita.” Jawabku.


“Oh ok.” Kata Keira dengan tersenyum.


Aku pun lantas mengambil sebungkus rokok di dalam tas, yang nantinya, aku akan memberikannya kepada Pak Rifaldi untuk mempermudah rencana ku. Aku selalu punya persediaan rokok di tasku, dan semoga rokok Pak Rifaldi sama sepertiku.


“Kamu mau ngerokok?” Tanya Keira.


“Engga ini buat Pak Rifaldi.” Jawabku.


Keira lantas menatapku dengan sinis, aku pun sedikit tertegun setelah melihat tatapannya.


“Pokoknya ini terakhir kalinya kamu bawa rokok ke sekolah, aku gak mau karena itu, kamu kena masalah.” Ancam Keira.


“Iya.” Jawabku.

__ADS_1


“Teddy tunggu pembalasan gua, jika gua gak bisa jadi ketua OSIS, lu juga gak bisa.” Kata Keira bergumam sendiri.


Mendengar hal itu, aku sedikit merasa bersalah kepada Keira. Karena diriku, ia harus menyerah akan mimpinya untuk menjadi Ketua OSIS Begitu juga ia harus melepas kepopulerannya dan menjadi murid biasa di sekolah.


Namun aku berjanji, aku akan membalasnya dan membuat dunianya lebih hidup saat bersamaku. Kita pun mulai beranjak untuk melakukan rencana kita, rencananya adalah Keira masuk ke ruang guru dengan berpura-pura mengumpulkan tugas dan mengcopy file video CCTV di komputer Pak Rusman.


Pak Rusman adalah guru BK di sekolah kami, sementara aku akan membuat Pak Rifaldi sibuk dan lengah di depan ruangan guru dengan mengajak dia mengobrol.


Setelah mendapat bujuk rayu dari Keira dan menerima sogokan sebungkus rokok dariku. Pak Rifaldi pun akhirnya luluh, Keira menambahkan kepada Pak Rifaldi jika ia tidak mengumpulkan tugasnya hari ini, ia tidak akan naik kelas. Dan karena hal itu pun, Pak Rifaldi akhirnya bersedia membukakan ruang guru yang terkunci untuk kami.


Dalam diam, Aku dan Keira pun bersorak gembira, dan kita bertiga pun berjalan ke ruang guru. Setelah sampai di depan pintu ruangan guru, tak lama Pak Rifaldi pun mengambil setumpuk kunci dari saku celananya.


Pak Rifaldi pun langsung menemukan kunci tersebut karena di sekolah kami, hanya beberapa ruangan saja yang di kunci, ruangan-ruangan itu mencakup ruang guru, lab kimia, lab fisika, lab komputer, ruangan olahraga sedangkan ruangan kelas tidak di kunci.


"Jangan lama-lama ya!” Pinta Pak Rifaldi.


Keira pun bergegas masuk sambil membawa sebuah buku miliknya, aku hanya menatap cemas kearahnya. Dan semoga rencana ini berjalan lancar seperti harapan kami, dan kita bisa membalaskan dendam kita kepada Teddy. Setelah Keira masuk, Pak Rifaldi pun hanya menatapku.


"Kamu gak ikut ngumpulin?” Tanya Pak Rifaldi.


"Saya beda kelas beh, saya disini aja nemenin Babeh.” Jawabku.


Setelah obrolan singkat itu, keheningan pun bersua di tempat kami berdua berdiri. Aku pun sesegera mungkin untuk memacu otakku demi mencari topik pembicaraan yang pas dan cocok untuk Pak Rifaldi.


Aku pun mulai mengamati Pak Rifaldi, dari ujung kaki sampai kepalanya. Mencari sebuah celah, namun aku tidak bisa menemukan celah tersebut dan menemukan obrolan yang pas, karena sekali lagi aku awam akan hal ini.

__ADS_1


Hanya saling menatap canggung, aku hanya berharap Keira bisa cepat menyelesaikan tugasnya. Kulihat Pak Rifaldi pun mulai tidak sabaran dan terus menatap jam tangan yang ia kenakan.


Pak Rifaldi pun mulai menatap curiga kearah ku karena Keira tak kunjung keluar, keringat dingin pun mulai membanjiri keningku. Dan kesabaran Pak Rifaldi pun habis, ia lantas menatap jam tangannya dan ingin beranjak masuk. Melihat hal itu pun aku refleks memegang tangannya, sialan aku makin membuatnya curiga.


“Pak, suka sepakbola?” Tanyaku dengan acak sambil memegang Pak Rifaldi.


Pak Rifaldi pun hanya diam menatapku, tak lama ia melepaskan tangannya. Dan menatap serius ke arahku, disisi lain aku pun hanya menelan ludahku. Jantungku pun berdetak cepat, diiringi keringatku yang mulai membasahi seluruh tubuhku.


Menipu dan pura-pura tertipu, memang bukan lah sebuah hal baru di hidupku. Karena selama ini, aku melakukannya dengan baik. Walau terkadang, aku di buat kewalahan karenanya. Menggunakan sebuah topeng dalam hidupku. Sebuah topeng yang aku buat sedemikian rupa, demi menyembunyikan wajah asliku. Terlalu sibuk merias diri, dan aku lupa warna asliku. Tidak lain, hanya untuk mendapatkan mereka merasa nyaman jika berada di dekatku.


Dan tidak terhitung, berapa banyak topeng yang telah aku gunakan untuk menipu mereka. Aku menipu mereka semua, walau sebenarnya, aku yang telah menipu diriku sendiri. Sungguh bodoh, sehingga aku banyak mengutuk diriku. Namun aku terus berusaha berdamai untuk itu, karena semua orang pasti melakukannya.


Sampai suatu waktu, datang seorang wanita di kehidupanku. Seorang wanita egois, kasar dan arogan, namun apa adanya. Dia merusak opini yang bersarang di otakku selama ini. Bahwa, tidak masalah, bahwa orang-orang membenci mu dalam keaslian. Jangan pernah hidup dari hasil pemikiran orang lain, dan hidup lah untuk dirimu sendiri.


Dan kita semua berbeda, jadi jangan menilai dan mencoba untuk mengerti. Dan setelah bertemu dengannya, aku bisa melepas topeng itu. Dan aku kembali menjadi diriku sendiri. Namun sepertinya kali ini, sepertinya aku harus menggunakan topeng lamaku.


Aku hanya menatap Pak Rifaldi, dan terus memanjatkan doa. Doaku hanya dua, yang pertama yaitu semoga ia tidak curiga. Yang kedua adalah Keira bisa cepat keluar dan rencananya berhasil. Tak lama Pak Rifaldi pun mendekat dan menyelaraskan tatapan ke arahku, gemetar aku saat menerima tatapan itu.


“Suka dong, semalam Real Madrid menang kan?” Jawab Pak Rifaldi.


Raut wajah pak Rifaldi pun seketika berubah menjadi tersenyum, dan aku lega melihatnya. Setelah itu, ia lama mengoceh banyak hal tentang sepakbola. Walaupun aku tidak banyak mengerti tentang sepakbola namun aku menyukainya karena ia tidak akan curiga lagi.


Tak lama Keira keluar dan merajut senyum di bibir ini, walaupun aku tidak tahu rencananya berhasil atau tidak. Namun aku lega dan tidak begitu banyak berharap rencana itu akan berhasil.


Meskipun aku sangat ingin membalaskan dendam ku, tapi yang terpenting Keira tidak ketahuan oleh Pak Rifaldi, dan tidak mendapat masalah. Setelah Keira keluar, kita berdua pun mengucapkan terimakasih kepada Pak Rifaldi, dan Pak Rifaldi pun langsung mengunci ruangan itu. Karena malam sudah sangat larut, kulihat jam sudah menunjukan jam 8 malam. Dan aku pun mengantar Keira pulang kerumah.

__ADS_1


__ADS_2