WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 40) THICK AS THIEVES


__ADS_3

THICK AS THIEVES


Aku pun kembali meraih tangannya, dan kita pun kembali berjalan menuju rumah Keira. Air matanya menguatkan ku, dan kemalangan nya adalah bahan bakar ku untuk menjadi kuat. Aku berjanji bahwa ini akan menjadi tangisan terakhirnya, aku akan berusaha untuk membuatnya seperti itu.


Setelah menyusuri jalan, akhirnya kita pun sampai di depan rumah Keira, sebuah rumah berpintu coklat, dan itu adalah rumah dari wanita yang aku sukai. Aku pun melepaskan tanganku, dan tersenyum menatapnya.


“Kamu masuk sana.” Kataku.


“Kamu hati-hati ya.” Jawab Keira.


“Iya.” Jawabku.


Aku pun melangkahkan kakiku untuk beranjak pergi, dan senyumannya lah yang menyertaiku. Namun saat aku berniat untuk beranjak pergi, Keira meraih tanganku. Dan saat aku menoleh kearahnya, ia tersenyum seraya menatapku.


“Mulai sekarang, aku gak akan maksa kamu untuk melakukan hal yang kamu gak suka.” Kata Keira.


Aku pun menyelaraskan pandanganku dan menatapnya, dan lantas memegang tangan kecilnya. Saat aku melihatnya tersenyum, aku bahagia. Meskipun hati kecilku sedikit terluka, karena ia harus mengkoreksi keputusannya, padahal ini karena ketidakmampuanku.


Aku sungguh ingin membuat senyuman itu tetap ada di wajahnya, aku pun mencoba mengingat-ingat bacaan ku tadi. Dan teringat beberapa rumus di otakku. Walaupun aku sedikit tidak yakin, namun aku hanya mencoba dan semoga itu berhasil untuk membuat senyum itu tetap ada di wajahnya.

__ADS_1


“Aku setor rumus untuk ciuman di pipi dan rokok barusan.” Kataku.


Keira hanya menatapku, dan aku menyakinkan diriku untuk mengatakan rumus yang ada di kepalaku kepadanya. Seraya tersenyum, aku menatap wajahnya.


“Rumus percepatan rata-rata yaitu perubahan waktu di bagi perubahan kecepatan.” Kataku kepada Keira.


Mendengar perkataan ku, Keira hanya terdiam dan menatapku. Dan tak lama ia tersenyum. Senyuman itu membuatku menjadi serakah, aku pun kembali mencoba mengingat rumus berikutnya. Dan teringat rumus untuk menghitung kecepatan, sekali lagi aku tidak yakin itu benar atau tidak.


“Rumus kecepatan yaitu perpindahan dibagi … perubahan.” Lanjut ku.


Keira hanya tersenyum menatapku, dan kumohon selalu seperti itu. Karena aku tidak sanggup melihatnya bersedih atau pun menangis.


Aku pun tertunduk lesu karena rumus keduaku salah, melihat hal itu Keira pun hanya tersenyum dan mendekat kearah ku. Kemudian ia mengelus rambutku seraya tersenyum.


“Kerja bagus.” Kata Keira sambil tersenyum.


Mendengar perkataan Keira, senyum ini pun hadir di wajah. Lagi-lagi aku merasa beruntung, karena memilikinya Ia telah memberikan banyak hal di hidupku. Dan aku tidak bisa mengingkarinya, aku sungguh mencintainya. Senyumannya lah yang mengantarku pulang ke rumahku, dan aku bersyukur untuk hari ini dan untuk hari-hari yang telah aku lalui bersamanya.


Setelah sampai rumah, aku lantas duduk di meja belajarku. Aku bertekad untuk berubah, dan lulus dari sekolah dengan kepala tegak. Aku ingin membuat Keira bangga padaku, dan aku ingin ia tersenyum melihat nilai-nilai akademis milikku.

__ADS_1


Aku lantas melihat tumpukan buku di meja belajarku, aku lantas mengambil salah satu buku di tumpukan itu yaitu buku matematika. Saat aku melihat buku ini, aku menyesalinya karena buku ini layaknya seperti buku baru.


Jika di bandingan dengan buku Keira sudah yang lecek dan penuh coret-coretan di dalamnya, buku ini mungkin sedih karena ini pertama kalinya aku membukanya.


Buku ini langsung menyulitkan diriku, karena walau sudah berulang-ulang kali aku membacanya. Aku masih tidak mengerti, namun aku tidak bisa menghindarinya lagi karena ujian untuk kenaikan kelas sekitar satu bulan lagi.


Dan aku tidak mempunyai bekal sama sekali untuk bertemu dengannya, bertemu dengan ujian kenaikan kelas. Namun aku berjanji bahwa aku akan menaklukan semua itu, dan merubah nilai-nilai ku. Aku sangat ingin membuat Keira bangga, walaupun aku tahu bahwa sesungguhnya itu demi diriku sendiri.


Kita memang selalu dapat menunda sesuatu, tetapi tidak dengan waktu. Hari ini waktu menamparku dengan cara yang paling bijaksana. Begitu bodoh, dahulu aku hanya berfikir bagaimana cara untuk menghabiskan waktu. Namun sekarang, aku di tuntut untuk memikirkan cara untuk menggunakannya.


Terpukul, tapi Keira menyemangati diri ini.


Dia berkata, hanya karena kamu lebih lambat, bukan berarti kamu gagal.


Sumber daya terbesar yang di miliki manusia adalah waktu, jadi jangan pernah menghinati waktu, karena pasti dia akan membalasnya.


Petualangan besar ini aku mulai, impian membuat senyuman untuk orang yang aku hargai yang aku jadikan bahan bakarnya. Walaupun aku harus memulai dengan cara merangkak.


Karena kita tidak dapat menikmati manisnya madu, jika kita tidak mampu menahan sakitnya sengatan lebah. Dunia memang berjalan seperti itu, ada harga yang harus di bayar dari setiap tujuan. Dan ketika tujuan kamu seakan tarasa sulit, ingatlah perahu

__ADS_1


juga melaju melawan derasnya arus lautan.


__ADS_2