
I CALL IT LOVE
Kita pun akhirnya sampai di rumah Paman, hanya menatap wajah kesepiannya yang ia coba tutupi dengan senyum di wajahnya. Jika aku bisa mengulang waktu, rasanya aku ingin menceritakan itu, sehingga ia mempunyai waktu lebih bersama orang yang ia cintai.
“Terimakasih Paman.” Kataku.
Paman hanya tersenyum, dan kembali memarkirkan mobil di bagasi rumahnya. Dan aku bersyukur memiliki Paman di hidupku. Ia memberiku sebuah contoh, bagaimana untuk menjadi kuat.
Benar, aku akan hidup seperti ini dan terus menjauh dari Keira. Karena hanya ini, satu-satu cara untuk menghentikan takdir akan masa depannya. Walau pun aku tahu, aku akan tersiksa selama proses tersebut, namun aku rela melakukan itu semua, demi dirinya, dan demi senyumannya.
Hari ini aku akan memulai lembaran baru di hidupku, karena hari ini aku menjalani hari pertama di sekolah. Tapi kenapa langkah kakiku terus saja mengarah ke sekolah lamaku, begitu bodoh sehingga aku mengutuk diriku.
Mendapat lingkungan baru, bertemu dengan wajah-wajah baru, aku berfikir sepertinya aku bisa untuk sedikit melupakannya. Setelah aku menginjakan kaki di sekolah baruku, dan menatap isinya. Tenyata tidak, semuanya tampak membosankan, karena Keira tidak ada disini.
Di kelas, aku terus disibukan melihat takdir masa depan teman-teman baruku. Mereka terus membuatku menatap matanya, dan aku membencinya. Senyum palsu seraya mencoba mengakrabkan dirinya kepadaku. Aku hanya bertindak seperlunya, dan terus berusaha menjauhkan diri dari mereka semua.
Bukan karena aku tidak menyukai mereka semua, tapi karena aku berusaha untuk hidup. Waktu pun berlalu, mereka pun mulai menghilang satu persatu. Mereka kembali ke normal mereka, begitu juga aku yang kemudian menutup akses ku.
__ADS_1
Hanya terduduk di mejaku, aku mendapat meja paling belakang. Aku bersyukur tidak mendapat teman sebangkuku, karena aku sudah muak melihat takdir manusia. Walau aku sadar bahwa aku akan selamanya sendirian jika seperti itu, namun tidak masalah karena harapanku akan hidup, juga sudah berakhir malam itu.
Hariku terasa sangat lama, detik demi detik bagai sebuah hari yang aku rasakan. Berjalan lorong sekolah, berharap melihat senyumannya. Meskipun aku tahu, dirinya tidak mungkin ada di sana. Sengaja tertidur di tengah pelajaran, berharap Keira mencubit tanganku seraya menyuruhku untuk kembali fokus kepada guru yang sedang menerangkan didepan kelas. Meskipun aku tahu, dirinya tidak mungkin ada di di sana.
Merokok di atap sekolah, berharap Keira melarang ku. Meskipun aku tahu, dirinya tidak mungkin ada di sana. Dan aku sadar, hariku cukup pahit tanpanya. Entah kenapa hari ini, aku sangat merindukannya. Aku sangat penasaran akan kabarnya, apakah dirinya baik-baik saja. Kuharap seperti itu, karena doaku selalu menyertainya. Kuharap kau selalu tersenyum, di setiap hembusan nafas mu.
Hampir tiga bulan, aku menjalani rutinitas membosankan ini. Entah kenapa, wajahnya masih tersulam di benak ini dan aku tetap tersenyum kepadanya. Hari ini rasanya, aku akan bertindak bodoh, karena sangat merindukannya. Sepulang sekolah di kelasku, aku hanya terduduk di mejaku.
Aku sangat merindukannya, aku ingin mengetahui bagaimana kabarnya. Aku lantas mengambil dompet di saku celanaku, dan mengambil kartu ponsel lamaku di dompet itu.
Aku pun kembali memasang kartu ponsel itu, di hape ini.
Rasa rindu ini, membuatku ke galeri kamera ponsel ini.
Aku bersyukur karena tidak menghapusnya, hanya menatap foto lamaku bersama dia. Momen itu sungguh indah, dan aku begitu merindukan momen itu.
Hanya ia yang pergi, namun kenapa semua hal di hidup ini, perlahan mulai kehilangan sebuah arti. Sebelumnya, aku menyakini bahwa waktu dapat menyembuhkan segala hal. Tentang sebuah mimpi, maupun rasa sakit. Namun, setelah berjalannya waktu. Dan aku menyadari, bahwa aku masih ada
__ADS_1
di tempat yang sama. Hal itu membuatku, bertanya-tanya. Apakah sang waktu, telah kehilangan kemampuannya. Atau semua itu, memang omong kosong belaka.
Karena semakin aku mencoba, segalanya menjadi semakin kuat. Kenangan, ataupun perasaan itu sendiri. Berjalan di tempat
yang asing, berharap dapat melihat dirinya. Meski aku tahu betul, ia tidak mungkin ada
di sana. Mulai melakukan hal bodoh dan
gila. Berharap ia datang dan menghentikan diriku. Meski aku tahu, ia tidak mungkin melakukannya.
Dan semua hal, mulai kehilangan kendali.
Jadi, bolehkah aku menjadi serakah. Dan
tanpa tahu malu, berjalan kearahnya. Itu
semua, karena ketidakmampuanku untuk menahan perasaan ini.
__ADS_1
Kerinduan hati ini membuat langkah kaki ini berjalan kerahnya, aku berfikir rasanya tidak apa-apa jika aku melihatnya dari jauh.
Dan kulihat baru pukul empat sore, dan aku melangkahkan kakiku ke sekolah lamaku, berharap bisa melihatnya walau dari jauh. Namun Tuhan tidak mengizinkan diriku untuk tersenyum, setelah aku sampai di sekolah lamaku. Aku tertunduk oleh sebuah fakta bahwa sekolah lamaku sudah sepi.