
READY TO DROP
Kata-kataku serentak membuat Keira menghentikan segala aktivitasnya di atas meja, kemudian ia hanya terdiam seraya menatapku. Tatapan itu bagai sebuah tusukan pedang di dada ini, dan itu sangat menyakitiku.
“Kapan dan dimana?” Tanya Keira.
“Dua hari lalu, di atap sekolah.” Jawabku.
Keira hanya terdiam menatapku. Saat aku menatapnya, aku tidak bisa mendefinisikan maksud dari tatapannya itu. Tapi yang aku tahu pasti, tatapan itu sangat menggangguku. Tatapan tanpa ekspresi, menyiksa diri. Rasanya akan lebih baik, jika ia memakiku saja.
“Kamu suka sama dia?” Tanya Keira.
Tanpa sadar pertanyaan itu juga menyakitiku, karena hanya ada Keira di hati ini. Tapi memikirkannya peristiwa itu, aku mengutuk diriku karena aku begitu bodoh. Namun yang aku katakan adalah sebuah kejujuran, bahwa hanya dirinya yang ada di hati ini, dan selamanya akan seperti itu.
“Engga.” Jawabku.
“Tapi kenapa kamu cium dia?” Tanya Keira.
Keira terus menyiksaku dengan rasa penasarannya, dan aku tidak mempunyai pilihan lain untuk menjawab segala rasa penasarannya itu. Dan yang aku tahu pasti, percakapan ini, menyakiti kita berdua.
“Dia cium aku duluan.” Jawabku.
__ADS_1
Keira hanya terdiam seraya menatapku, dan kali ini ia menyiksaku hanya dengan tatapannya. Tatapan ragu, dan aku baru sadar bahwa itu sangat menyakitkan. Sekali lagi, rasanya aku akan merasa lebih baik, jika ia memakiku saja.
“Kenapa, kamu gak nolak?” Tanya Keira.
Setelah mendapat pertanyaan itu, kepala ini tertunduk tak berani menatapnya. Karena itu juga yang menjadi pertanyaan ku, aku pun tidak mengerti akan diriku. Kenapa aku melakukan itu, namun yang pasti, aku menyesalinya. Aku mengutuk kebodohan ku, dan terus menyusun alibi di kepala ini untuk membuat perasaanya lebih baik dan agar aku tidak kehilangannya. Dan aku sadar, bahwa betapa egoisnya aku. Karena setelah segala kebodohan ku, aku masih menginginkan dirinya.
“Aku gatau, kejadiannya cepet banget.” Jawabku.
“Setelah kamu cium dia, apa perasaan kamu?” Tanya Keira.
Jika kamu menanyakan bagaimana perasaanku sekarang, aku tersiksa bahkan dengan hanya bernafas. Setiap detik yang aku jalani, aku mengutuk diriku. Aku ibarat musim semi untuk Keira, selalu merontokkan senyuman dari wajah cantiknya.
“Bersalah.” Jawabku.
Dan ini keputusanku, jadi kumohon mengerti lah dan kembali lah seperti dulu, tersenyum lah kearah ku. Keira kemudian berdiri, dan menatapku kesal. Aku menyesal untuk detik ini, dan untuk semua waktu saat aku menyakitinya.
“Kenapa baru cerita?” Tanya Keira.
Ia berdiri seraya menatapku, Keira memberikanku tatapan penuh kebencian. Aku tidak tahu akan semua hal, bagaimana rasa cinta ini berubah menjadi sebuah rasa sakit. Maafkan aku karena aku telah membuatmu mengenal rasa sakit itu.
Aku sungguh bodoh, karena itu aku hanya bisa menundukkan kepala. Keira lantas terdiam, dan air mata mulai mengalir dari matanya. Sekali lagi aku membuatnya menangis, percakapan ini menyakiti kita berdua. Aku lantas memberanikan diriku menatapnya, dia masih menangis bersama amarahnya. Aku ingin mengulang waktuku, dan membuat percakapan ini tidak pernah terjadi.
__ADS_1
“Seharusnya, kamu gak cerita. Dan terus simpan peristiwa sialan itu seumur hidup kamu.” Kata Keira sambil menangis.
“Maafin aku …aku gak mau terus tersiksa.” Jawabku.
Keira hanya menatapku bersama amarahnya, air matanya terus jatuh mengaliri pipinya. Aku menyesalinya, karena membuat air matanya bagai momen biasa di hidupnya. Jika aku berfikir, aku hanya bisa merusaknya. Sebelum bertemu denganku, dia cerah bagai matahari.
Sebelum bertemu denganku, dia tinggi layaknya sebuah gunung. Sebelum bertemu denganku, dia jarang menangis.Jadi maafkan aku, kerena telah membuatmu seperti ini.
Keira lantas beranjak pergi, melihat hal itu pun tanpa tahu malu aku mencoba meraih tangannya. Tapi ia mengelak akan raihan tangan itu, dan tanpa aba-aba ia menamparku bersama tatapan marahnya.
Tanpa sadar tamparan itu mengobati sedih di hati ini, aku layak mendapatkan tamparan itu. Keira kembali mengayunkan tangannya dan kembali menampar bajingan yang selalu menyakitinya ini. Mungkin dengan cara ini, ia bisa berdamai akan rasa sakitnya. Walaupun disisi lain, aku tahu betul bahwa tamparan itu juga menyakitinya.
“Kita putus!” Kata Keira dengan amarahnya.
Malam ini, dia meledak bersama semua rasa sakit yang dahulu coba ia tahan. Dan aku, sungguh tidak menyangka. Bahwa ini adalah akhir dari kisah cinta yang dahulu selalu kita perjuangkan. Kalimat putus terurai bersama air matanya. Dia menyerah akan kisah cinta yang menyakitkan ini.
Dan aku tidak tahu harus melakukan apa.
Apakah diriku harus memohon, agar dirinya mengkoreksi keputusan itu. Atau, aku harus menyatakan perasaanku, bahwa aku tidak bisa jika tidak melihatnya di hidupku. Dan jika ini benar-benar akhir dari kisah cinta ini.
Bagaimana aku bisa untuk berpura-pura tidak menyukai dirinya lagi.
__ADS_1
Membayangkan diriku akan menjadi orang asing di hidupnya. Mungkin hidupku, akan penuh dengan air mata. Karena aku selalu berharap, kita berdua akan selalu menjadi sebuah urusan yang tidak akan pernah selesai.
Namun sepertinya, dunia ini tidak akan berhenti untuk kesedihanku.