
SMILE HAS LEFT YOUR EYES
Cara diriku melihat dunia, seketika berubah. Setelah ia, mencoba untuk pergi. Apakah
kita berdua, terlalu cepat untuk jatuh cinta. Sebelum kita berdua, benar benar siap untuk menjalaninya. Dan keadaan, bahwa
ini adalah sebuah akhir dari kisah cinta kita. Maafkan aku, karena telah membuat cinta bagai sebuah duri yang menyakitimu.
Dan aku sadar, kata memang terlalu miskin untuk mengungkapkan sebuah rasa. Jadi beritahu aku, cara agar bisa menahan mu. Karena jujur, aku tidak akan sanggup untuk berjalan pergi di saat aku masih sangat mencintai dirimu. Dan aku juga, masih dan akan terus tidak terbiasa oleh sebuah kenyataan bahwa aku tidak cukup pantas untukmu.
Dan seperti biasa, dunia ini tidak berhenti untuk kesedihanku. Dalam hidup ini, kita memang tidak akan pernah bisa untuk mengukur dan menilai. Seberapa penting,
dan berharganya sesuatu hal. Hingga kita, benar-benar kehilangannya. Maafkan aku, karena sangat terlambat menyadarinya.
Dan saat aku kembali menatap matanya, penglihatan ku akan masa depan Keira muncul. Potongan kisah akan masa depannya, menarik ku paksa dan membuatku untuk melihat potongan kisah itu.
__ADS_1
Malam di sebuah teras rumah, gelap dan sunyi. Aku hanya berdiri dan menatap sebuah rumah bewarna putih tanpa lampu yang mengisi. Disana aku hanya mendengar suara gaduh, seperti barang-barang pecah. Dan tak lama aku mendengar teriakan Keira dari dalam rumah itu.
Tak lama aku dibawa oleh potongan kisah berikutnya, aku berdiri di sebuah ruang tamu disebuah rumah. Disana gelap, aku hampir tidak bisa melihat apapun di dengan mataku. Tak lama aku mendengar jeritan Keira, dan aku pun mendatangi sumber suara tersebut.
Di suatu sudut rumah, di tengah kegelapan aku melihat Keira sedang beradu mulut dengan seorang pria. Aku pun bersemangat karenanya, aku sangat ingin mengetahui siapa laki-laki itu. laki-laki yang akan mati di tanganku, karena ia terus menyakiti Keira.
Namun karena minim cahaya, aku tidak bisa melihat dengan jelas laki-laki itu dan terlebih lagi ia berdiri memunggungi diriku. Aku hanya bisa mendefinisikan ciri fisiknya, kulitnya putih dan tingginya berkisar 180 cm.
Keira terus beradu argument dengan pria itu, dan aku menyesal karena aku tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan. Tak lama aku terkejut, ditengah perbincangan mereka tiba-tiba laki-laki itu meraih vas bunga yang ada dimeja dekatnya dan melemparnya vas bunga itu kearah Keira.
Aku bisa dengan jelas mendengar suara benda atau suara lainya, namun di beberapa titik aku tidak bisa mendengar dengan jelas suara Keira bahkan suara laki-laki itu.
Keira lantas ambruk dan menangis sendirian. Aku hancur melihat hal itu, aku sangat ingin memeluknya. Menemaninya dan membagi nestapanya bersamaku, Keira terus menyiksaku dengan air matanya. Tak lama aku kembali di bawa oleh potongan kisah lainya, kisah akan masa depannya yang sayu.
Masih dirumah itu, di sebuah kamar tidur. Di depan sebuah lemari pakaian, kulihat Keira berusaha menghalangi laki-laki yang sedang sibuk memasukan baju kedalam tas miliknya. Laki-laki itu terus bergegas sementara Keira terus mengganggunya, dan kembali memasukan baju di dalam tas kembali ke lemari pakaian.
__ADS_1
Melihat hal itu, tanpa aba-aba, laki-laki itu mendorong Keira. Keira pun terjatuh karena dorongan laki-laki tersebut, kemudian ia menangis seraya menatap laki-laki itu.
Kenapa Keira terus menangis, dan kenapa laki-laki itu terus berprilaku kejam kepada Keira. Aku akhirnya mengerti alasan di balik itu dua hal tersebut, laki-laki itu adalah suami Keira di masa depan.
Dan aku tahu alasan dibalik sifat kejamnya, karena fakta bahwa ia harus kehilangan darah dagingnya. Walaupun seperti itu, aku tidak bisa membenarkan tingkahnya yang terus menyiksa Keira, karena aku yakin Keira juga terluka karena fakta itu. Kenapa ia terus menyiksa wanita yang mencintainya, fakta itu membuat aku ingin membunuhnya. Ia seperti anak kecil yang meributkan segala hal, walaupun disisi lain ia turut andil karena membiarkan kejadian itu terjadi.
Seharusnya ia lebih bijak, untuk menyikapi kejadian itu. Walaupun aku tidak tahu persis kejadian yang sebenarnya. Namun jika aku berada di posisinya, aku akan tetap berada disisi Keira dan melewati nestapa itu bersamanya. Bukankah pernikahan seperti itu, menurutku pernikahan adalah tentang membuang ego. Pernikahan adalah tentang membagi rasa sakit dan senang bersama.
Pernikahan adalah tentang memilih kata dan perilaku yang baik dan membuat malam menjadi indah. Bukankah pernikahan seperti itu. namun kenapa ia terus menyiksa cintanya. Hanya karena sudah menikah. Bukan berarti kau harus bertanggung jawab akan kebahagian pasanganmu, namun tidakkah sangat jahatnya. Jika kau ikut menyiksanya di tengah nestapanya.
Fakta itu membuatku makin ingin merubahnya masa depan Keira, aku yakin dan percaya diri. Bahwa aku akan mengubah nestapa itu menjadi senyuman di wajahnya. Aku tidak ragu lagi, karena bagiku ia lebih penting dari segalanya.
Namun bagaimana ini, sekarang ia menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Angan ku bertolak belakang akan perangai diriku. Aku terus membuat air mata mengalir di pipinya, dan karena itu aku mengutuk diriku. Di tengah amarahku, aku kembali di kejutkan oleh sebuah fakta.
Saat aku kembali menatap potongan akan masa depannya itu, masih di tempat yang sama. Dirumah yang sama, di sebuah kamar di depan lemari pakaian. Aku melihat wajah bajingan itu, saat ia selesai memasukan baju miliknya kedalam tasnya. Saat ia menoleh dan bergegas pergi, aku pun melihat wajahnya dan mengutuk diriku. Laki-laki di masa depan Keira itu adalah aku.
__ADS_1