WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 13) TAMU TIDAK DI UNDANG


__ADS_3

TAMU TIDAK DI UNDANG


Ada sebuah hari yang sangat aku benci di dunia ini, hari itu adalah hari minggu. Hari yang paling jahat yang selalu membuatku terjebak dirumah ini. Hanya berdiam diri dan tak tahu harus melakukan apa-apa.


Sebuah hari yang membuat duniaku, berjalan sangat lambat. Hari ini aku juga membenci televisi, karena semua acara sangat membosankan. Meratakan semua rasa kesal ku, aku hanya berbaring di kasur.


Sementara ponselku terus bergetar, sudah seminggu ini seorang wanita gila terus menggangguku. Privasi ku terluka, tapi aku sedikit bersyukur, karena dirinya hariku sedikit lebih berisik.


Keira, sudah seminggu ini aku terus menghindarinya. Setelah perjanjian konyol yang kita lakukan di kelas, aku mengkhianatinya. Sementara nilai-nilai ku di sekolah membaik, aku tidak pernah mencoba untuk melihat masa depannya.


Bahkan aku selalu menghindar saat mata kita bertemu. Potongan akan masa depannya lah yang melatarbelakanginya. Potongan itu cukup membuatku tersiksa, karena itu aku tidak mau mencoba atau mau melihatnya lagi.


110 panggilan tidak terjawab, membuatku semakin yakin bahwa Keira adalah seorang psikopat. Dia sungguh memiliki etos, dan sangat ahli membuat orang lain kesal. Tapi Keira adalah Keira, seorang wanita yang tidak bisa di tebak.


Seperti hari ini, dia mengunjungi rumahku dengan sekeranjang buah-buahan. Saat bel rumahku berbunyi, perasaanku memang sudah tidak enak. Aku sempat mengira itu Paman. Tapi aku sadar, itu tidak mungkin. Karena Paman selalu memberitahuku terlebih dahulu, sebelum ia datang. Dan benar, saat pintu terbuka, aku melihat Keira.


Aku sekali lagi melakukan hal bodoh, dengan mengizinkannya masuk. Sebenarnya aku ingin langsung menutup pintu rumahku. Tapi aku mengenal Keira lebih dari siapa pun, maksudku sifat buruknya.


Aku tahu bahwa dia tidak akan menyerah dengan mudah. Karena itu, aku menginginkannya masuk, karena aku takut Keira akan membuat kegaduhan.


Aku lantas disibukan oleh susu coklat dingin permintaan Keira, dia memang tamu yang tidak mempunyai etika.


Namun jika aku pikir kembali, ini adalah pertama kalinya, seorang tamu berkunjung ke rumahku. Walaupun rasanya aneh, tapi aku menyukai perasaan itu.

__ADS_1


Setelah susu coklat dingin miliknya jadi, aku lantas membawanya ke ruang tamu dan kita berdua duduk di sofa bewarna coklat, diruang tamu rumahku. Sepi lantas menyapa, kita berdua terdiam dan tidak tahu bagaimana untuk membuka obrolan. Saling menatap canggung, dan diam satu sama lain, itulah yang kita lakukan.


“Ehmm, sepi banget rumah lu, kaya kuburan. Ayah sama Ibu lu mana?” Tanya Keira membuka obrolan.


“Di kuburan.” Jawabku.


Raut wajah Keira seketika berubah, setelah mendengar jawabanku. Wajahnya pun lantas memerah, dan mengisyaratkan rasa bersalah. Tanpa sadar, senyum ini hadir. Namun aku tidak berbohong, karena orangtuaku benar-benar ada di kuburan.


“Maaf, gua gak tahu.” Kata Keira.


“Iya dimaafin.” Jawabku seraya menahan ketawa.


“Oh iya, kayaknya ada yang lupa ingatan nih, setelah dapat nilai bagus.” Sindir Keira.


“Maaf, seminggu kemarin gua gak enak badan.” Kataku.


“Itu urusan lu, bukan urusan gua. Lu udah dapet apa yang lu mau, bukan seharusnya, gua juga harus dapat apa yang gua mau.” Balas Keira.


Setelah mendengar perkataan Keira, rasanya aku tidak mempunyai pilihan lain, selain mengikuti alur skenario yang sudah di tentukan, walau sungguh aku tidak ingin melihat masa depannya. Namun sekali lagi, aku tidak punya pilihan lain.


Karena aku tidak bisa terus menghindar, dan satu-satu jalan adalah aku harus melihat masa depannya.


“Pertama, coba lihat. Gua bisa menang gak di bursa pemilihan ketua OSIS?” Pinta Keira.

__ADS_1


Aku pun mulai menyiapkan diriku untuk hanyut ke dalam potongan takdir akan masa depannya. Aku juga tidak mengerti apakah cara ini akan berhasil, karena selama ini aku hanya melihat potongan acak dari masa depan. Dan jika bisa memilih potongan mana yang ingin aku lihat, rasanya akan lebih baik.


“Sekarang, lu lihat mata gua.” kataku kepada Keira.


Seperti instruksi ku, Keira pun mulai mengarahkan dan mendekatkan tubuhnya ke arahku. Sementara yang bisa aku lakukan hanya fokus dan menatap matanya.


“Lebih dekat.” Pintaku.


Keira pun mulai beranjak dan mulai mendekatkan kembali wajahnya kearah ku. Namun aku dikagetkan karena wajah Keira terlalu dekat denganku.


“Terlalu dekat, mundur sedikit.” Pintaku.


“Katanya lebih dekat tadi.” Kata Keira kesal bergumam sendiri.


Dengan amarahnya, Keira membetulkan tempat duduknya dan tak lama menatapku. Aku pun lantas kembali bersiap dan menatap matanya, disisi lain Keira pun menatapku dengan wajah penuh harapan. Namun sudah sekitaran 1 menit aku menatapnya, aku tidak melihat apapun. Dan aku terus mencobanya, lagi dan lagi.


“Gimana, gua manang?” Tanya Keira.


“Bisa diam gak.” Kataku dengan Kesal.


Aku pun kembali berkosentrasi untuk larut akan masa depannya. Tapi walaupun aku sudah berusaha, aku tetap tidak bisa melihatnya. Sangat aneh, sehingga aku pun bertanya-tanya akan diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa melihatnya.


Apakah aku sembuh, sehingga aku tidak bisa melihat masa depan Keira. Dan kuharap begitu, aku telah sembuh dan tidak akan pernah bisa melihat masa depan orang lagi.

__ADS_1


__ADS_2