WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 45) SINK OR SWIM


__ADS_3

SINK OR SWIM


Diam adalah teman yang paling dapat kita percaya, karena ia tidak akan pernah untuk berkhianat. Dalam hidup, beberapa momen memang harus di biarkan menjadi sebuah rahasia. Ada beberapa momen di hidup ini, yang harus kita kunci dengan rapat.


Karena jika itu terungkap, akan membuat banyak hati yang terluka.


Hari ini, aku melakukan sebuah dosa yang tidak termaafkan. Dan aku sadar, tidak ada hal yang paling menyakitkan di hidup ini. Dari pada di kecewakan oleh seorang yang kamu pikir, tidak akan pernah menyakitimu. Jadi, maafkan aku karena telah melakukan itu.


Rasa bersalah memang tidak ada gunanya, dan juga tidak bisa mengubah masa lalu.


Ia hanya akan membuat kita, semakin


merasa tidak berguna. Namun aku, akan menyimpan perasaan itu, sebagai bentuk hukuman atas tindakanku.


Selepas sampai di rumah, aku mengunci diriku di kamar seraya terus mengutuk diriku. Bajingan ini, hanya akan terus membuatnya menangis, dering telepon darinya, membuatku semakin keras mengutuk diriku. Hanya menghindar dari telepon itu, karena aku tidak tahu bagaimana aku akan menghadapinya.


Peristiwa hari ini terus mencekik nafasku, sementara Keira terus mendesak diriku dengan cintanya yang murni. Aku lantas di hukum akan perbuatan ku hari ini, dan membuatku berlumur penyesalan.


Namun gadis itu tidak berhenti begitu saja, lagi-lagi ia menyiksaku dengan senyuman di wajahnya. Setelah bel berbunyi, aku langsung tahu bahwa itu dirinya. Hanya menatapnya dari jendela, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi senyumannya, rasa bersalahku lah yang melatarbelakanginya.


Dengan senyuman yang ada di wajahnya ia berdiri di depan rumahku, di tangannya ia membawa dua bekal kotak makanan. Aku bersyukur dan menyesal karenanya. Bagaimana ini, aku terus bergantung darinya. Bagaimana ini, hampir satu jam ia berdiri di depan rumahku. Dan tiap detik yang ia jalani, layaknya tusukan pedang di hatiku.


Aku kesakitan, bagaimana perasaan ini berubah menjadi rasa sakit. Namun walau seperti itu, aku tidak akan pernah sanggup meninggalkannya. Akhirnya dia menyerah dengan meletakan kotak makanan yang ia bawa di depan pintu, dan pergi dengan raut wajah kecewa. Sungguh banyak momen yang terjadi di hari ini, dan aku menyesali semua momen itu karena aku terus menyakitinya.


Setelah ia pergi, aku pun keluar dari rumahku. Dan saat melihat kotak makan yang ia tinggalkan, aku hancur. Aku lantas membawa dua kotak makanan itu masuk, dia layak mendapat pria yang lebih baik dariku, namun meskipun seperti itu, kenapa aku tidak rela melepasnya.

__ADS_1


Di meja makan, aku pun membuka kotak makanan tersebut dan mendapati isi kotak itu adalah nasi goreng. Melihat hal itu, aku bersyukur lalu menyesal. Dan aku tahu betul, aku tidak layak untuk memakannya. Penyesalanku menghardik rasa lapar di perutku, aku hanya menatapnya sambil merenungi kesalahanku.


**


Masih berlumur penyesalan, langkah ini terasa berat untuk berjalan kearahnya. Bagaimana ini, sepanjang jalan aku kesulitan bernafas. Hanya berdiri di pagar sekolah, beragam pikiran pun terus hadir di benak ini.


Aku ingin jujur untuk segalanya, untuk takdirnya dan untuk semua kesalahanku. Aku sungguh lelah menyimpan semua ini sendiri, namun aku takut ia akan terluka lagi. Tapi ini sungguh melelahkan, dan rasanya aku bisa melihat akhir dari hubungan ini. Dia akan terluka jika terus bersamaku, dan aku menyesal akan hal itu.


Hari ini, kelas ramai oleh selembaran yang di berikan sekolah, formulir untuk pendaftaran perguruan tinggi. Semua anak-anak pun mengisinya dengan rasa optimis, begitu pula dengan Keira. Saat ia melihatku, ia tersenyum. Senyuman itu menghardik perasaanku, aku sungguh ingin bercerita dan meminta ampun akan semua kesalahanku.


Namun aku mengurungkannya, dan hanya duduk seraya tersenyum menatapnya. Keira tampak antusias mengisi selembaran itu, kulihat matanya berbinar-binar saat mengisi selembaran itu. Keira pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia akan mengambil jurusan hukum di Universitas Indonesia karena cita-citanya adalah menjadi pengacara.


Teringat pesan Paman di kepala, tentang melanjutkan studi di luar negeri. Aku hanya diam menatap selembaran milikku, dan tak lama memasukan selembaran itu kedalam tas. Dan aku kembali tersenyum saat melihat Keira sangat antusias mengisi setiap kolom demi kolom formulir itu.


Namun saat aku melihat matanya, penglihatan ku akan masa depannya kembali muncul. Aku terus melihat berbagai potongan peristiwa, akan takdirnya di masa depan.


**


Namun senyum ini hilang saat potongan-potongan lain datang, melihat hal itu, aku lantas menutup mata. Namun aku masih melihat jelas kejadian itu, di tempat yang sama seperti penglihatan ku sebelumnya. Dia bertengkar dengan seorang pria, dan alangkah terkejutnya aku dengan tiba-tiba ia menampar pipi Keira dan pergi meninggalkannya ruangan itu.


Aku pun mencoba untuk melihat siapa pria itu, pria yang yang menampar cintaku. Bajingan gila yang membuatku ingin membunuhnya, karena telah bersikap kasar kepada Keira. namun bagaimana aku berusaha, aku tetap tidak bisa melihat wajah pria bajingan itu.


Setelah pria itu pergi, Keira pun lantas ambruk dan terduduk tak bertenaga di bangkunya, ia kemudian menangis sendirian. Aku tak sanggup menyaksikan kejadian itu, aku segera menutup mataku dan berharap rasa sakit di hati ini hilang.


**

__ADS_1


Takdirnya tidak berubah, meskipun aku mencoba. Takdirnya masih tetap sama, dan nestapa akan menantinya dan memenjarakannya. Aku menangis melihat fakta itu, saat aku tersadar aku masih melihatnya tersenyum mengisi formulir itu. Kisahnya bisa kulihat, dan aku terpukul karenanya.


Walaupun aku terus mengelak nya, namun pertanda ini terus bermunculan. Bagaimana aku akan menghadapinya, aku merasa bahwa aku benar-benar tidak berguna. Aku lantas meraih selembaran itu dengan paksa, ketakutan ku akan masa depannya lah yang melatarbelakanginya.


Aku lantas merobek kertas formulir yang hampir terisi itu. Kulihat Keira tampak terkejut, begitu juga siswa-siswi yang ada di kelas. Aku hanya menatapnya, yang masih terdiam bersama kebingungannya.


“Kamu gak boleh jadi pengacara?” Kataku kepada Keira.


Ia hanya terdiam duduk di bangku, dan aku lantas beranjak dari kelas dan pergi meninggalkannya bersama rasa bersalahku. Aku lantas berjalan menuju atap sekolah, dan berusaha melepas kerumitan kepala ini.


Karena bagaimana pun usahaku, takdir itu tidak berubah. Dan sekali lagi aku menaruh luka di hatinya. Dan sekarang aku tidak tahu lagi, bagaimana aku menghadapi itu semua. Namun Keira tidak mengizinkan diriku, untuk melepas kerumitan kepala ini. Keira menyusul ku ke atap sekolah, dan aku lantas diserang beragam pertanyaan darinya.


“Kenapa … kenapa aku gak boleh jadi pengacara? kamu yang pernah ngomong sendiri bahwa di masa depan kamu melihat aku menjadi pengacara?” Tanya Keira.


Aku hanya terdiam menatapnya, aku sangat mengerti bahwa aku sudah menyakitinya. Ia terlihat marah dan sedih, namun hanya itu yang bisa aku lakukan. Inilah caraku untuk melindunginya, meskipun ia akan membenciku, namun semua itu tidak masalah, asalkan takdir itu meninggalkannya.


“Beri aku alasan, kenapa aku gak boleh jadi pengacara?” Pinta Keira.


Aku hanya terdiam, pertanyaan itu menyakitiku. Bagaimana mungkin aku mengatakan alasan di balik itu, kamu akan terluka. Fakta akan masa depanmu akan menyakitimu, karena kamu akan kehilangan anak yang kamu cinta.


“Gak ada alasan, kalo kamu mau tetap mau menjadi pengacara. Kita putus!” Ancam ku.


Kata-kata itu menyakitinya, dan aku sadar betul akan hal itu. Namun hanya ini satu-satu caraku untuk melindunginya, dan aku tidak akan menyesalinya. Karena aku tahu, ia akan makin terluka jika takdirnya berjalan seperti penglihatan ku. Ia hanya terdiam dan tak lama air mata mengaliri pipinya. Cintaku menangis, maafkan aku. Tapi ini sungguh melelahkan, bagai potongan yang berbentuk puzzle.


Penglihatan ku akan dirinya, datang dan terus datang. Dan ini sungguh menyiksaku. Seperti sebuah bom waktu yang sudah disetting sedemikian rupa, aku melihat takdirnya. Penglihatan ku akan masa depan, merenggut senyum Keira dari hidupku.

__ADS_1


Aku harap aku bisa menyetel ulang semua, dan merubah tangisan yang aku lihat menjadi sebuah senyuman. Jika aku pikir kembali, aku tidak ada bedanya aku dengan laki-laki itu. Laki-laki yang aku lihat di takdir masa depannya, karena aku terus membuatnya menangis.


Kulihat Keira masih menatapku, dan air matanya masih mengaliri pipinya, dan hal itu membuatku hancur. Dia lantas pergi meninggalkan bajingan yang menyakitinya, hanya menerima kenyataan itu. Dan semoga, ia mendengarkan kata-kataku dan takdirnya akan masa depannya akan berubah.


__ADS_2