
SWEET AND SOUR
Namun saat kita keluar rumah, aku dikagetkan kedatangan Pamanku. Paman pun menghampiri kita, dan diam menatap Keira, begitu juga Keira. Ini memang pertemuan pertama mereka, aku pun memperkenalkan mereka berdua.
“Ini paman aku Ra.” Kataku kepada Keira.
Keira pun tersenyum menatap Paman, tak lama Keira pun mencium tangan paman dan memperkenalkan dirinya kepada paman.
“Keira.” Kata Keira sambil tersenyum kearah Paman”
Paman hanya tersenyum ramah menatap wajah Keira. Melihat hal itu, tanpa sadar bibir ini tersenyum, mereka berdua adalah orang spesial bagiku. Dan melihat mereka ada di frame yang sama, sungguh membuatku bahagia.
“Keira pulang dulu ya, Paman.” Kata Keira.
“Iya, hati-hati ya.” Jawab Paman.
“Aku pulang sendiri aja, kamu temenin Paman aja.” Kata Keira kepadaku.
__ADS_1
“Tapi …” Kataku.
“Nanti aku kabarin, kalo udah sampai rumah.” Kata Keira.
Keira pun akhirnya pamit, dan menolak untuk diantar. Keira mau aku menemani pamanku saja. Walaupun awalnya aku tidak rela melepasnya pulang sendiri, tapi aku bersyukur memilikinya. Setelah Keira pergi, kulihat Paman hanya menatapku dan tersenyum.
“Cuma temen.” Kataku.
Paman hanya tersenyum tak lama paman merangkul ku. Dan kita berdua pun masuk ke rumahku. Di temani secangkir teh hangat, kita berdua pun mengobrol di ruang tamu. Paman hanya tersenyum melihat kearah ku, aku pun hanya menghela nafas karena tahu arti dari senyuman itu.
Paman hanya tersenyum menatapku, dan tak lama raut wajahnya berubah menjadi sedih. Melihat hal itu pun, aku hanya memegang tangannya. Dan aku sadari bahwa ia sudah tampak sangat tua, wajahnya mulai keriput serta banyak rambutnya pun sudah memutih.
Aku sadari waktu berlalu sangat cepat, hampir 9 tahun setelah kepergian orang tuaku dan Paman selalu berada di sisiku. Dan aku sangat bersyukur karenanya. Dia telah menjadi sosok Ayah, Ibu serta sosok kakak untukku, hanya senyuman yang kuberikan kepadanya. Walau aku tahu, senyuman itu, tidak akan bisa membalas jasa Paman di hidupku.
Paman lantas menatapku dan tak lama ia memalingkan wajahnya. Dan kulihat Paman menangis, ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Dan aku tahu betapa berat semua ini untuknya, namun ia tetap berjuang untukku dan aku bersyukur karena itu.
Keheningan pun lantas bersua di ruangan ini, dan kulihat ia masih memalingkan wajahnya dan menangis. Dalam diam ku, aku berikrar bahwa aku akan hidup bahagia. Aku berjanji, aku akan hidup bahagia.
__ADS_1
Dan hanya janji itu yang bisa kuberikan kepada Paman, akan aku tunjukan, sebaik apa aku hidup sebagai balasan akan pengorbanannya.
Paman pun pergi dengan meninggalkan sebuah pesan, dan aku tersungkur oleh pesan itu.
Aku tahu itu semua demi kebaikanku, namun walaupun aku sudah memikirkannya berulang-ulang kali, aku makin ragu akan hal itu. Paman menitip pesan, karena sebentar lagi aku lulus. Paman ingin aku untuk memikirkan masa depanku. Paman ingin aku segera mengambil posisinya di perusahaan mendiang orangtuaku.
Setelah lulus SMA, Paman menyuruhku untuk mengambil jurusan bisnis di Universitas Harvard. Paman ingin aku mempunyai bekal dan pengetahuan yang cukup, agar bisa menjaga perusahaan mendiang orangtuaku.
Mendengar niat Paman pun, aku ragu untuk mengiyakannya, tentang mengambil kuliah di luar negeri. Berbagai alasan yang melatar belakangi keraguanku, dan yang paling mengganjal adalah bahwa aku harus terpisah oleh Keira. Dikelilingi pikiran-pikiran menyiksa, bibir ini kembali tersenyum setelah mendapat pesan singkat dari Keira.
Keira menggambarkan bahwa ia sudah sampai dirumahnya, dan aku bersyukur karena itu. Dan aku sungguh tidak sabar untuk menemuinya besok di sekolah, sebenarnya aku pun ingin membaginya pikiran itu kepada Keira. Pikiran akan rencana studi ke luar negri, namun aku mengurungkan niat itu. Karena aku belum siap mendapat penolakan atau pun persetujuan darinya, aku tidak ingin berpisah darinya.
Aku memang cukup bodoh dan naif, untuk percaya bahwa semua akan berjalan seperti apa yang aku inginkan. Namun apakah aku cukup berdosa, jika aku berharap demikian. Duka selalu menuntut kita untuk menjadi dewasa. Dan perasaan cemas, membuat kita selalu bergerak. Namun setelah aku bertemu dengannya, aku yakin dapat melalui itu semua.
Di antara jutaan umat manusia, Tuhan pasti memiliki alasan mengapa kita berdua di pertemukan. Jauh sebelum Keira datang, aku banyak jatuh dan terluka. Dan setelah aku bertemu dengannya, aku kembali merasa hidup. Dan karena dirinya, aku kembali percaya arti dari kata harapan.
Karena cinta, setiap orang mendadak berubah menjadi seorang penyair. Berbicara banyak hal tentang cinta dan juga harapan. Namun suatu hal yang pasti, setiap kata dan harapan yang terucap dari diri ini, bukan lah sebuah buaian atau omong kosong belaka. Dan aku akan memberikan versi terbaik diriku, tanpa harus kehilangan warna asliku. Dan aku juga berjanji akan membuatnya selalu bahagia.
__ADS_1