
SELAMAT TINGGAL CINTA
Keira terus memintaku untuk tidak pergi, dan terus menangis seraya memegang tanganku. Jika seperti ini bagaimana aku bisa melangkah pergi dan menghentikan takdir itu.
“Maafin aku.” Kataku.
“Engga, Kamu gak salah, aku yang salah. Jadi jangan pergi lagi!” Jawab Keira.
Jika kau keras kepala seperti ini, kau hanya akan terluka. Dan aku tahu betul, itu akan terjadi, jadi kumohon bahagia lah, karena hanya dengan itu kau membuatku bahagia. Keira tidak mendengarkan ku dan masih menatapku, dan tatapan itu. Dan membuatku kembali menginginkannya dan mulai tidak peduli akan takdir itu.
Bisakah aku egois, dan hanya berjalan kearahnya. Namun saat aku menatap matanya, aku melihat dia masih memiliki takdir itu. Tidak ada yang berubah, penglihatan itu masih sama seperti malam itu. Aku menangis karenanya, karena itu aku mengambil langkah lebih berani.
Tapi bagaimana ini, setelah aku begitu keji menyakitinya, dia masih berada di tempat yang sama. Bahkan dia melepas harga dirinya, dengan meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia lakukan. Tapi dia masih sama, tetap keras kepala.
Terpikir sebuah cara, untuk membuatnya menjauh dan mungkin tidak mau lagi melihat diriku. Meskipun aku tahu, cara ini juga akan membunuhnya. Namun rasanya lebih baik seperti ini, dari pada ia merasakan takdir itu.
__ADS_1
“Aku cuma bisa nyakitin kamu, dan itu fakta.” Kataku.
“Saat aku gak lihat kamu, itu lebih menyakitkan aku Rasya.” Jawab Keira.
Ia masih melihatku seraya dan memegang tanganku dengan kedua tangannya. Aku pun berniat untuk menceritakan takdir itu kepadanya, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan. Seraya menatapnya, aku menceritakan peristiwa itu.
Semuanya, tentang masa depan penuh nestapa itu. aku menceritakan, satu persatu potongan penglihatan masa depanku kepadanya. Kenapa itu terjadi, dan bagaimana kejadian itu terjadi. Aku menceritakan itu semua kepadanya.
Sambil menitikkan air matanya, ia mendengarkan semua nestapa itu.
Kita berdua terluka akan hal itu, kemudian secara perlahan ia melepaskan genggaman tangannya. Tanpa intrupsi, ia terus mendengarkan kisah itu, raut wajahnya kosong saat mendengarnya. Aku pun bertanya-tanya, apa yang salah dalam hubungan ini.
Aku pun bertanya-tanya, apakah takdirnya akan berubah. Jika kita tidak bertemu di sekolah pagi itu, dan aku tidak melihat masa depanmu.
Apakah akan berubah, jika aku tidak membantumu di bursa ketua OSIS. Sehingga kita tidak menjadi dekat, dan tidak terbiasa untuk saling menatap. Apakah takdirmu akan berubah, jika kau tidak bertemu denganku. Jika ia, mari untuk tidak bertemu. Jika ia, mari untuk tidak memberi cinta.
__ADS_1
Jika ia, mari saling melupakan satu sama lain. Setelah mendengar semua cerita itu, ia hanya menatapku. Dan aku tahu sekarang akhir cerita ini, dari tatapannya. Aku pun mengerti, sangat tidak masuk akal jika ia masih menatapku setelah mendengar kenyataan itu.
“Maafin aku karena membuat kamu selama ini tersiksa sendirian.” Kata Keira sambil menatapku.
Aku hanya tersenyum, ini bukan salahmu. Ini keputusan yang aku buat sendiri, dan aku juga sudah mendapat sebuah ganjaran akan keputusan tersebut karena selalu membuatnya menangis.
“Lupain aku, dan bahagia.” Pintaku.
“Iya, kamu juga! Jawabnya.
Keira lantas mengulurkan tangannya, aku tersenyum. Dia ingin mengakhirinya dengan sebuah jabatan tangan. Melihat itu aku pun hanya memeluk tubuhnya. Mungkin ini adalah pelukan terakhir yang bisa aku lakukan, pelukan untuk sebuah perpisahan.
Tanpa perlawanan ia pun menerima pelukan itu, aku bersyukur untuk momen itu. dan kuharap waktu berhenti, agar momen itu tidak hilang. Setiap pertemuan, pasti diakhiri dengan sebuah perpisahan. Dan di setiap ada perpisahan, disana akan ada rasa kehilangan.
Dan di setiap ada rasa kehilangan, disana akan ada hati yang terluka.
__ADS_1
Dan hati itu, mungkin hatiku. Namun memikirkan ia tidak akan menjalani takdir itu, membuatku bisa tersenyum lega. Aku pun melepaskan pelukanku, seraya mengusap air mata di pipiku. Hanya menatapnya, dan aku bersyukur bahwa ini adalah tangisannya yang terakhir.
Di jalan, berjarak 15 meter dari rumahnya. Disana lah aku mengakhiri segalanya, cerita cinta yang menyedihkan itu. Selamat tinggal cinta, kata selamat tinggal kali ini membuatku tersenyum. Karena aku tahu, bahwa ia tidak akan memiliki takdir itu, dan aku baru sadar bahwa bahagia tidak sesulit yang aku bayangkan.