
MORE THAN WORDS
Di depan kelas, Ibu Arini lantas menatap Keira, setelah namanya di sebut oleh anak-anak kelas. Aku pun tidak mengerti kenapa anak-anak dikelas menyebut namanya. Setelah kejadian Teddy, banyak anak-anak yang sudah tidak menganggapnya ada dan tidak sedikit yang menghinanya karena ia sudah bukan lagi bagian dari siswi popular di sekolah.
Mengetahui fakta itu, aku bersyukur namun disisi lain aku marah. Karena mereka seperti menggiring Keira menuju takdir yang penuh nestapa, dan aku membenci hal itu.
“Keira, kamu mau?” Tanya Ibu Arini.
Mendengar pertanyaan dari Ibu Arini, Keira pun hanya tersenyum. Melihat hal itu pun aku berusaha mencegahnya. Aku tahu hal yang aku lakukan jahat, namun ketakutan ku akan masa depan membuatku harus melakukanya. Aku harus mencegahnya untuk menjadi ketua kelas, hanya itu yang ada di kepalaku sekarang.
Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan ini akan berhasil atau tidak. Namun aku harus mencegahnya dengan harapan takdirnya bisa berubah, jika ia tidak menjadi ketua kelas.
Aku lantas memegang erat tangannya, mengetahui hal itu Keira pun menatapku. Saat aku menatapnya, hati ini seolah dihujani peluru panas. Karena aku sangat tahu ia sangat menginginkan posisi tersebut, namun disisi lain aku tidak ingin takdir masa depannya terjadi.
“Kamu jangan jadi ketua kelas, aku gak suka.” Bisik ku kepada Keira.
Mendengar permintaanku, senyum di wajah Keira pun hilang. Dan aku hancur melihat hal itu, karena sekali lagi aku menghalangi jalanya. Jika aku berfikir kembali, aku hanya ingat apa yang sudah aku terima darinya. Di depan kelas, Ibu Arini lantas mendekat kearah mejaku.
__ADS_1
Dan menyelaraskan tatapannya kearah Keira, dan aku membenci semua hal di kelas hari itu. Anak-anak kelas bahkan Ibu Arini, karena mereka terus mencoba menggiring Keira menuju takdir yang penuh nestapa.
“Keira, kamu mau?” Tanya Ibu Arini.
Keira hanya diam, dan tak lama menatapku. Aku pun hanya menggelengkan kepalaku, sebagai gesture aku tidak setuju dengan niatnya. Keira hanya terdiam dan tak lama ia menghembuskan nafasnya dan kembali tersenyum menatap Ibu Arini.
“Engga bu, saya gak mau.” Jawab Keira.
Jawaban Keira, membuat Ibu Arini dan seisi kelas tampak terkejut, dan mendengar hal tersebut aku bersyukur dan menyesal. Setelah itu, Keira hanya menatapku, dan aku hancur akan tatapannya itu, namun aku tidak mempunyai pilihan lain, aku harus mencegahnya.
Setelah itu, kelas pun melakukan voting untuk pemilihan ketua kelas, dan hanya ada dua calon saja dibursa pemilihan itu. Sama seperti di penglihatan ku akan masa depan Keira, orang itu adalah Khanza Azizah dan Billy Davidson.
Dan setelah kelas melakukan Voting untuk pemilihan ketua kelas, Billy Davidson terpilih menjadi ketua kelas. Ia unggul 3 suara dari Khanza Azizah, dan setelah kita mempunyai ketua kelas Ibu Arini pun memulai pelajarannya.
Setelah pelajaran di mulai, aku tidak bisa berkonsentrasi sedikit pun. Kejadian tadi mengusik pikiranku, karena itu aku terus menatap Keira. Aku sungguh membenci diriku, karena aku terus menyakitinya.
Ini penglihatan ku pertama setelah sekian lama aku tidak melihatnya, aku sempat berfikir bodoh bahwa aku telah sembuh. Begitu bodoh, hingga aku mengutuk diriku.
__ADS_1
Penglihatan ku ini sungguh membuatku hancur. Aku pun berfikir, apakah yang aku lakukan ini benar, dengan berusaha merubah masa depan. Aku pernah mencoba, berusaha merubah masa depan. Namun hasilnya, aku malah memperburuknya. Peristiwa Yusuf sebagai contoh hal tersebut, dan sampai saat ini aku belum bisa memaafkan diriku sendiri.
Menjadi bagian dari ceritanya, membuat aku bersyukur akan hidup ini. Karena hal terbaik di hidupku, adalah dirinya. Tidak peduli apa yang ia pikirkan tentangku, aku hanya akan selalu menatapnya. Namun sepertinya, aku
di ciptakan hanya untuk mencintainya dan bukan untuk memahaminya. Hari ini, aku kembali menunda kekalahanku. Kutipan takdir menyapa, dan menyakiti kita berdua.
Senyum itu hilang, dan tatapan kecewa datang. Mungkin akan ada banyak rasa
benci darinya, teruntuk diriku, namun aku sungguh rela menerimanya. Ketimbang fakta, bahwa ia akan memiliki takdir penuh nestapa itu. Aku rela menjadi iblis, demi menutup pintu neraka miliknya. Walau aku tahu, itu tidak akan mudah.
Berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, hanya mengantarkan lara di hati. Dan aku sadar, sungguh sangat amat beruntung bagi mereka yang tidak pernah berharap. Karena mereka, tidak akan pernah kecewa.
Namun aku siap kecewa ribuan kali, jika
aku bisa menghentikan garis nestapa itu
di takdirnya. Dan merubah skenario Tuhan,
__ADS_1
aku akan mengganti semua kata nestapa
di skenario miliknya, menjadi kata bahagia.