WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 38) MATCH MADE IN HEAVEN


__ADS_3

MATCH MADE IN HEAVEN


Awalnya aku tidak menganggap niat Keira itu dengan serius. Namun Keira benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Seperti hari ini, aku tersiksa oleh angan ku yang ingin menghisap rokok, setelah perjanjian itu aku dan Keira ke rumahku.


Dan aku kembali mengerutkan dahi, karena setelah kita sampai rumahku, Keira lantas membuka bukunya. Dan Keira pun kembali memaksaku menatap buku, diruang tamu aku terpenjara oleh guru dadakan bernama Keira. Keira mengajarkanku dengan metode belajar yang bisa di bilang sangat ekstrem, karena setiap aku mengalihkan pandangan dari buku atau menguap karena rasa kantuk, ia lantas mencubit tangan atau pinggangku.


Keira terus menerangkan tentang teori atom, namun aku hanya bisa menatapnya. Aku tidak mengerti sedikit pun apa yang ia katakan, namun Keira tidak berhenti dan terus berusaha menerangkannya kepadaku. Ia terus mengulangi segala perkataanya, dan aku menyesalinya karena tidak kunjung mengerti.


Aku hanya menatapnya, aku tahu ia lelah mengajariku namun ia terus melawan batasnya demi membuatku mengerti. Aku merasa bersyukur dan menyesal karena hal itu, dan aku sadar bahwa ia malaikat yang di kirim Tuhan untukku. Dan aku bersyukur bisa memilikinya.


“Maafin aku, karena aku bodoh.” Kataku.


Aku sangat menyesal karena kebodohan ku, aku sadar bahwa aku selalu membuatnya di situasi sulit. Ketidakmampuanku menghardik hati ini, dan hati ini menangis menatapnya. Keira lantas menatapku, dan tak lama ia menutup buku Fisika di atas meja. Ia lantas tersenyum kepadaku, aku hanya tertunduk bersalah dan tidak berani menatap matanya.


“Kita makan dulu ya, kamu pasti lapar.” Kata Keira sambil tersenyum.


Rasanya aku sangat tidak pantas mendapat senyum itu, namun aku tetap tidak bisa, untuk tidak menatapnya. Kadang aku berfikir, mungkin ia akan lebih bahagia jika meninggalkanku. Karena aku sungguh tidak pantas untuknya, ia kehilangan banyak hal saat bersamaku.


Memikirkan hal itu, aku pun terus mengutuk diriku. Bahkan aku sudah kehabisan kata kasar, karena terlalu banyaknya kekuranganku. Namun aku tetap tidak bisa untuk tidak menatapnya, fakta itu membuatku membenci diriku sendiri.


Keira lantas beranjak dari tempatnya, dan segera menyiapkan bahan – bahan makanan di dapur. Keira ingin memasak nasi goreng untuk makan malam kita, melihat hal itu aku pun tidak berharap banyak akan makan malam ku. Keira terlihat sibuk dengan cabe dan bawang bersama ulekan batu, sementara aku hanya menatap wajah lelahnya.


Melihat hal itu, aku berjanji akan lebih bijaksana. Aku sadar bahwa ini, tidak lagi hanya tentang diriku, aku harus membuang jauh ego ini untuk dirinya dan untuk diriku sendiri. Aku hanya mendekat kearahnya dan memeluk tubuh nya yang sudah tidak bertenaga itu, dan aku bersyukur telah memilikinya.


Wanita yang paling indah, yang membuatku terus mengoreksi diriku. Aku ingin menjadi pria yang layak untuknya, dan aku akan terus berusaha mewujudkan hal tersebut.

__ADS_1


“Ih jangan gangguin, tunggu di meja makan aja.” Kata Keira.


Keira selalu membuatku menjadi serakah, dan selalu seperti itu. Aku pun lantas melepaskan pelukanku dan menatapnya. Aku bisa merasakan betapa kuatnya ia, karena ia tetap tersenyum akan segala kekuranganku. Dan aku sadar bahwa aku sungguh beruntung, karena memilikinya.


“Kalo mau cium, harus setor rumus gak?” Tanyaku menggoda Keira.


Keira lantas tersenyum, seraya diam memikirkan pertanyaan ku. Tak lama ia menganggukkan kepalanya, aku hanya menatapnya sinis dan tidak percaya akan hal itu. Bahwa aku harus membayar satu rumus untuk menciumnya.


Merasa tidak adil, aku yang kesal hanya mencium pipinya dan melarikan diri dirinya. Kulihat Keira terkejut seraya menatapku, aku hanya memasang wajah menyebalkan dan aku terus menggodanya. Amarahnya pun memuncak, dan aku menyukai hal itu.


“Ihhh … pokoknya kamu hutang satu rumus ya sama aku.” Kata Keira sambil meninggikan suara.


Aku hanya tersenyum menatapnya dan duduk di meja makan, Keira pun kembali memasak dengan raut wajah lelahnya. Aku hanya memandanginya dan tak lama aku sadar ia sangat cantik, aku pun menyukai hal itu.


Membayangkan rambutnya akan memutih membuat dada ini bergetar, aku sungguh ingin melihatnya dan aku ingin sekali menua bersamanya.


Tak lama terlintas sebuah pikiran di kepalaku, dan tanpa aba-aba, aku lantas mengutuk langit. Aku protes akan takdirnya, mengapa langit sungguh kejam kepadanya, memenjarakan dirinya bersama nestapa.


Ia akan di paksa layu, karena ia takdirnya berkata seperti itu. Setiap memikirkan tentang hal itu, harapan serta kepercayaan diriku terkikis. Dapatkah aku merubah hal itu, merubah takdirnya. Dan mampukah aku membuatnya bahagia, membuatnya tersenyum sepanjang hidupnya.


Dan aku sadar bahwa aku harus berubah, dan untuk pertama kalinya aku ingin bertarung seperti orang-orang pada umumnya. Aku harus menjadi hebat untuk berada disisinya, dan lebih kuat untuk merubah takdirnya.


Tak butuh waktu lama untuk Keira menyelesaikan masakannya karena aku juga menikmati waktuku menatapnya, Keira bagai mesin pembakar waktu.


Setiap aku bersamanya, waktuku berjalan sangat cepat. Keira datang dengan dua piring nasi goreng, ia lalu duduk di bangku bersamaku. Aku lantas menyantap nasi goreng buatannya, sedikit mengerutkan dahi karena rasa asin mengagetkan lidahku. Hanya mengambil air putih di meja dan meminumnya, dan kembali menyantap nasi goreng ini.

__ADS_1


“Pelan-pelan ah, nanti kesedak.” Kata Keira.


Hanya senyuman yang kuberikan kepadanya, dan kembali mengisi perutku. Kulihat Keira pun juga menatap makanannya, dan mengambil satu sendok besar dan lantas memasukan ke mulutnya. Keira kemudian terdiam, dan dengan makanan di mulutnya ia menatapku.


Setalah ia menatapku, ia lantas beranjak dari meja makan dan kearah wastafel Keira memuntahkan makanan yang ada di mulutnya, dan menyeka mulutnya dengan kucuran air. Melihat hal itu, aku pun hanya tersenyum. ia kemudian berjalan ke mejaku, dan menatapku dalam.


“Jangan di makan lagi, aku buat yang baru.” Kata Keira.


Aku hanya tersenyum menatapnya dan kembali menyantap makananku, tidak peduli apa rasa makanan ini. Aku hanya bersyukur, karena makanan ini bagian dari Keira. Dan aku menyukai segala hal yang berkaitan dengannya, gadisku, wanitaku, cintaku. Melihat hal itu Keira pun hanya tersenyum menatapku. Aku hanya tersenyum menatapnya, dan mengambil satu sendok terakhir di piringku.


“Aku janji, besok masakan aku akan lebih baik.” Kata Keira.


“Iya.” Jawabku.


Aku kembali menatap piring dan menyelesaikan makan malam ku, perutku ini pun terisi. Dan kulihat ia masih menatapku, dan aku kembali bersyukur karenanya. Ia selalu tersenyum dalam hebat dan gagal ku, dan aku berjanji hanya dia dan selalu akan ada dia di hidupku.


“Makasih ya, kamu udah hadir di hidup aku.” Kata Keira.


“Aku yang terimakasih.” Jawabku.


Kita pun tersenyum satu sama lain, sangat menyenangkan menjadi bagian di hidupnya. Dan aku sadar bahwa aku sangat beruntung, dan kerena itu aku mensyukuri hidupku.


Saat aku bersama Keira, ada banyak pikiran terlintas di benakku dan aku berintrospeksi banyak atas diriku. Saat aku mencintainya, aku percaya bahwa tidak ada satu pun duri yang bisa menyakitiku. Dan keyakinan akan cintanya, membuatku melihat pintu surga perlahan terbuka untukku. Dia mengajariku bahwa mencari cinta adalah baik, tapi memberi cinta jauh lebih baik.


Cinta layaknya sebuah penyakit, ia membuat orang lemah di hadapan seseorang yang ia kasihi. Sebuah fenomena yang tidak bisa di jelaskan di buku manapun. Cinta membuat hidup ini seakan tidak punya arti tanpa kehadirannya. Cinta membuat kita bertahan di dunia yang seperti kotoran ini. Jadi jangan berhenti menari, sebelum musik berhenti.

__ADS_1


__ADS_2