
SEBUAH DURI, BERNAMA RASA BERSALAH.
Aku matikan televisi, dan serentak keheningan lantas mengisi. Rasa lapar membuatku beranjak, makanan instan yang aku makan, belum cukup memuaskan dahaga perut ini. Aku lantas bersiap, dan menggambil sebuah Jaket Hoddie lesuh yang bersandar disebuah gantungan baju yang mencoba terlihat kokoh.
Hawa dingin langsung menyambut ku, saat aku langkahkan kakiku keluar dari rumah. Aku ringkukan tubuhku untuk mengusir dinginnya malam. Tujuanku adalah warung kaki lima milik Pak Rosid, yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku.
Langkah kakiku aku buat berirama, sebuah strategi untuk mengusir dinginnya malam. Di jalan raya, kulihat lampu-lampu pun sudah menerangi kota, dan kota ini tampak lebih ramai di malam hari.
Dengan pakaian baju partai yang sudah memudar, Pak Rosid menyambut ku dengan wajah yang tak menentu. Terlepas dari segala beban nya, dia menyapaku dengan senyuman tipis.
Aku lantas dikagetkan saat Pak Rosid secara tiba-tiba memegang kedua tanganku, yang masih membeku karena dinginnya malam.
“Kamu datang Rasya, kamu gak apa-apakan?” Tanya Pak Rosid khawatir.
Aku tersenyum akan kata-kata itu, mungkin rasa kasihan lah yang mendasari kata-kata itu tercipta. Tapi kata-kata itu, cukup untuk menghiburku di tengah kesendirianku. Aku hanya memberikan senyumku kepada Pak Rosid, yang masih berdiri menatapku dengan raut wajah khawatir.
“Syukur deh kamu gak apa-apa.” Lanjutnya sambil tersenyum.
“Rasya, pesan nasi goreng ya Pak.” Pintaku.
“Iya, Bapak bikinin dulu ya” Jawab Pak Rosid yang lantas bergegas untuk membuatkan seporsi nasi goreng untukku.
Aku pun meraih bangku plastik bewarna biru yang tersusun rapih di bawah meja. Dan duduk menanti makananku siap dengan bergerumul bersama pengunjung lain.
Sementara aku menunggu, ponselku terus bergetar oleh sebuah obrolan group pesan singkat kelas, yang dari tadi siang terus-menerus membicarakan tentang kebakaran di sekolah.
Rasa bersalah pun lantas hadir, dan tinggal di diriku. Dan saat aku membayangkan ketakutan mereka, perasaan bersalah menghardik nurani ku, dan membuatku sulit untuk bernafas.
Tapi sekali lagi, apalah dayaku. Aku pun pernah mencoba, dan aku gagal. Aku hanya berharap waktu datang cepat dan berlalu, sehingga nestapa itu akan hilang dari hidup mereka.
Sekitaran 15 menit menunggu, Pak Rosid pun datang dengan membawa seporsi nasi goreng, yang lantas ia letakan di meja. Ia hanya tersenyum, dan aku bersyukur karenanya. Selepas itu, Pak Rosid kembali di sibukkan oleh pesanan dari pengunjung lain.
__ADS_1
Bernuansa dingin dibalik peluk, aku menyantap makan malam ku. Tanpa sadar, kelezatan nasi goreng buatan Pak Rosid, membuatku lupa sejenak akan keruwetan hidupku, dan membuatku hanya terfokus kepadanya.
Ditemani desiran angin malam, aku bergerumul bersama para pengunjung lain. Dan hal itu membuatku lupa akan sebuah fakta, bahwa selama ini aku sendirian.
Rasanya enggan untuk terburu-buru, itu semua karena ketakutan ku akan kembali ke realita normal ku. Namun nasi di piring ini sudah hampir habis, dan dengan terpaksa aku selesaikan makan malam ku.
Setelah menyelesaikan makan malam ku, aku pun kembali ke skema kehidupanku yang membosankan.
Aku hisap sebatang rokok, sambil melangkahkan kakiku menuju rumah. Kepulan asap pun keluar dari mulutku, dan aku berharap semua kesedihan ikut pergi bersama kepulan asap itu. Setelah sampai rumah, aku langsung merebahkan tubuhku bersama semua rasa lelahku.
Dan seperti biasa, kenangan sayu mulai mengajak diriku bermain.
**
Teringat serpihan kenangan akan masa kecilku, kenangan indah yang tak ingin aku hilangkan dari ingatan ini.
Sebuah kenangan yang terus ditenggelamkan oleh gelombang ombak rasa sakit, dan dengan nafas yang hampir hilang, aku terus manarik nya.
**
Pagi menyelamatkanku, dari sayatan mimpi yang selalu menjeratku. Mimpi yang sama, tentang kecelakaan kedua orang tuaku, yang selama ini terus menghantuiku selama sembilan tahun terakhir. Dan tanpa daya, aku terus terbawa arus, dan terjerembab bersama nestapa.
Dan saat aku tersadar, aku sudah masuk kedalam jurang yang dipenuhi dengan rasa sakit didalamnya.
Aku pun sesegera mungkin menyadarkan diri, ditengah lamunanku, aku terperanjat saat mengetahui jam sudah pukul enam lebih. Aku pun lantas beranjak dari tempat tidur, dan mulai bersiap untuk pergi ke sekolah.
Setelah hanya mandi ayam, aku hanya menelan ludah saat melihat pakaian sekolahku yang tampak kusut karena belum di setrika. Hanya mengutuk diri sendiri, karena lupa untuk membawa pakaianku ke laundry.
Dan dengan visual yang berantakan, aku berangkat ke sekolah dan menembus dinginnya pagi.
Desiran angin pagi, menyentak diriku. Aku lantas menghentikan langkahku, dan mengambil jaket Hoodie yang ada di dalam tasku dan memakainya.
__ADS_1
Tujuanku adalah halte bus, yang tidak jauh dari rumahku, nantinya aku akan menaiki bus dan pergi ke sekolah.
Menunggu bus adalah hal yang sangat mengasyikan bagiku, karna kita tidak bisa menebak, bus itu kosong atau ramai. Kita tidak bisa menebak, kita akan duduk di bangku atau harus berdiri seraya mengaitkan tangan sampai tujuan.
Dan itu sungguh menyenangkan, tidak seperti hidupku yang seperti alarm.
Tidak butuh waktu lama, sebuah bus pun lantas berhenti di depanku. Dan saat aku masuk ke dalam bus itu, bus itu tidak seperti yang ada di bayanganku. Bus itu tampak sepi, dan kulihat raut wajah Pak Supir yang cemas, karena penumpangnya sangat sedikit.
Aku pun lantas duduk di barisan belakang bus, hanya menatap kearah jendela bus dan melihat sibuknya dunia, hanya itu yang aku lakukan. Dan tak lama dengan dilapisi handuk di kepalanya, Kenek Bus datang menghampiriku.
“Ongkos.” Pinta Kenek Bus.
Aku pun memberinya uang 4500 rupiah, sebagai upah untuk mengantarku ke sekolah.
Butuh 30 menit untuk menaklukan kemacetan Jakarta, dan aku pun sampai di sekolahku yang letaknya di sebrang jalan raya. Setelah turun dan berjalan sebentar, kulihat sekolah tampak sepi dan pagar sekolah pun tertutup.
Aku pun bertanya-tanya, apakah aku telat dan pelajaran sudah dimulai, tapi kulihat jam masih menunjukan pukul 7 kurang. Aku pun mendekati gerbang sekolah, dan kulihat sebuah pengumuman terpampang disana.
Sekolah di liburkan 3 hari, akibat kebakaran sekolahku. Melihat hal itu, aku pun hanya terdiam. Dan ini pertama kalinya, aku kecewa tidak bisa ke sekolah.
Aku pun berjalan seperti kapal yang berlayar tanpa tujuan. Dan aku pun berfikir, bagaimana aku bisa membakar waktuku. Karena bagiku, selama ini sekolah adalah tempat membakar waktuku. Walaupun aku hanya menghabiskan waktu di sekolah dengan tidur, tapi itu cukup efektif dan membuat hariku berganti dengan cepat.
Dan aku tidak punya pilihan lain, ku langkahkan kakiku kembali ke rumah, dengan sepi yang sudah menyapa bahkan sebelum aku menginjakan kedua kakiku dirumah.
Kesunyian ini membuatku menjadi gila. Sementara waktuku berjalan sangat lambat, tersesat aku akan kemarahan yang menyelinap masuk dan menusuk dadaku. Bagaimana aku bisa membakar waktu, hanya itu yang ada di kepalaku.
Monoton, hidupku sangat monoton. Selalu sama dengan skema yang sudah terpatri, balada kehidupan memar-memar. Jika memang benar ada reinkarnasi untuk kehidupan selanjutnya, aku pasti menolaknya.
Aku tak sudi terus di permainkan seperti ini. Mungkin aku terlalu mendramatisasi keadaan, tapi ini satu-satunya caraku untuk tetap bertahan.
Dengan kebencian menjadi bahan bakar, serta ketidakpuasan menjadi alas kaki untuk diriku berpijak di bumi ini. Walaupun amarahku tidak bisa menghancurkan kekacauan hidupku, tapi aku bertekad untuk terus berkelahi akan suratan.
__ADS_1
**