WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 10) WALAUPUN BERDURI, BUNGA TETAP BUNGA


__ADS_3

WALAUPUN BERDURI, BUNGA TETAP BUNGA


Sepasang mata melihat ke satu arah, kemudian berpaling. Aku bagai alien di kelas ini, mereka semua melihatku dengan tatapan aneh. Setelah peristiwa itu, aku mulai mencari sebuah alasan untuk kabur ke langit sore, dimana aku bisa pulang ke rumahku dan terhindar dari tatapan mereka.


Tapi sore selalu datang terlambat, dan membuatku terjebak dengan mata serta asumsi yang ada di kepala mereka. Seharusnya bukan tatapan ini yang kudapat, setelah peristiwa senar gitar milik Roni yang hampir mengenai mata Agus.


Banyak anak-anak dikelas, mulai mendekatiku. Mereka melakukanya, sekedar untuk bertanya kepadaku tentang kejadian itu, tidak sedikit pula yang terang-terangan menjauhiku, dan menganggap ku seorang manusia yang aneh.


Seharusnya aku lebih bisa menahan diriku, seperti biasanya. Rasanya ingin ku putar waktu, dan duduk diam seraya menatap kejadian itu seperti semestinya.


Saat itu pelajaran kesenian, dentingan piano dan petikan suara gitar mengisi kelas hari itu, aku hanya duduk di bangku ku seraya menikmati ramainya alunan melodi yang membuat kehampaan mulai menari.


Sampai penglihatan itu muncul, senar gitar yang dimainkan Roni akan putus dan mengenai mata Agus yang berada tepat di depannya. Awalnya aku hanya menghiraukannya, tapi aku berfikir kembali. Aku tidak ingin, penglihatannya tentang masa depan, mengubur hati nurani ku sebagai seorang manusia.


Dan mungkin, ini adalah sebuah ujian yang diberikan oleh Tuhan untukku.


Dan saat tersadar, aku langsung berdiri dari bangku ku. Dan aku melihat Roni dan Agus, sama seperti yang ada di penglihatan ku. Di depan kelas, mereka berdua sedang asyik bersenandung bersama gitar yang di mainkan Roni.


Aku masih sempat berfikir, apa yang harus aku lakukan. Dan apakah tindakan yang ada di pikiranku ini tepat, jika aku lakukan.

__ADS_1


Namun tanpa sadar, aku berjalan menghampiri mereka berdua.


Dan dengan sedikit tenaga, aku menarik badan Agus menjauh dari gitar Roni. Dan berbarengan saat aku menarik badan Agus, senar gitar yang di mainkan Roni putus, dan mengenai tanganku.


Satu hal yang ada di benak ku kala itu, aku berhasil. Tapi saat aku tersadar, kulihat semua mata menatapku. Kelas pun yang tadinya ramai berubah menjadi sunyi, kulihat semua mata melihat kearah ku.


“Kok lu bisa?” Tanya Roni sambil heran melihatku.


Aku hanya terdiam, dan tidak tahu bagaimana harus merespon pertanyaan itu. Jika ku jelaskan detail mengenai hal itu, mereka pasti mengira aku aneh dan akan berfikir hal yang bukan-bukan. Aku hanya kembali ke tempat dudukku, tanpa menjawab pertanyaan dari Roni.


Silakan berasumsi, yang kulakukan bukanlah suatu kejahatan. Dan sejak peristiwa itu, mereka semua menatapku dengan tatapan aneh dan aku di berondong sejuta pertanyaan, yang membuatku enggan untuk menginjakan kakiku dikelas.


Hangat kurasakan, saat sinar matahari mengenai kulitku.


Dan sejuk kurasakan, saat hembusan angin menerpa wajahku. Dan hal itu, sedikit menghilangkan kepenatan ku akan sekolah dan isinya. Inilah titik tertinggi di sekolah ku, dimana aku bisa melihat langit lebih dekat. Sebatang rokok menemaniku, dan tempat ini membuatku tampak tinggi dan kuat.


Dan aku sangat menyukai tempat ini, karena di tempat ini, aku bisa terhindar dari berbagai mata dan prasangka. Tapi waktu istirahat tidak panjang, terus memaksaku untuk kembali ke kelas.


Saat aku masuk ke dalam kelas, suasana yang tadinya riuh berubah menjadi hening. Dan semua mata lantas menatapku, tatapan yang seragam, dan aku sungguh terganggu akan tatapan itu. Aku hanya menghiraukannya dan berjalan ke bangku ku.

__ADS_1


“Lu gak apa-apa?” Tanya Keira.


Aku terkejut dan lantas menatap Keira, dan tanpa sadar kalimat itu menyulam senyum di wajahku. Kalimat yang sangat ingin aku dengar, sebuah kalimat sederhana. Tapi seakan ada yang memahami ku, bahwa aku tidak selalu kuat, dan baik-baik saja. Tersisir opini di benak ku tentang Keira, dia tidak seburuk yang aku bayangkan.


Tak lama ia kembali mengejutkanku. Setelah kalimat itu, ia mengambil sebuah parfum dari dalam tasnya.


“Nih … biar gak bau, lu habis merokok kan?” Tanya Keira seraya memberiku sebuah parfum.


Aku hanya terdiam seraya menatapnya, Keira kemudian kembali menjulurkan Parfum itu kepadaku. Sebuah parfum wewangian bunga vanili, sebuah wangi yang membuatnya berciri. Aku lantas mengambil parfum yang ada di tangannya, dan menyemprotkan ke berbagai sudut seragam sekolahku.


“Jangan banyak-banyak, sedikit aja.” Kata Keira sambil tersenyum kepadaku.


Hanya senyuman yang bisa aku berikan kepadanya, sebuah senyuman yang mewakilkan rasa terimakasih ku kepadanya.


Kita berdua pun lantas kembali, ke normal kita berdua. Sunyi dan tenang, lantas mengisi tempat duduk kita berdua. Dan dalam diam ku, rasa bosan mulai memenuhi diri.


Kulihat Keira masih terduduk di sampingku sambil membaca sebuah novel yang ada di tangannya. Sambil menyandarkan kepalaku dia atas meja, aku hanya menatapnya.


Keingintahuanku lantas memenuhi pikiran ini, mengapa takdir mengerikan itu melekat padanya. Pikiranku pun terus beranologi, namun tak kunjung kudapatkan hasil yang hirarki.

__ADS_1


Dan penglihatan akan masa depannya itu, kembali datang dan mengajakku untuk masuk kedalam sebuah ironi akan sayu nya takdirnya. Dan saat aku tersadar, bersimbah aku akan air mata.


__ADS_2