
DARK HOLE
Setelah Azka berumur dua tahun, aku membeli sebuah rumah di bilangan Jakarta Selatan. Rumah untuk keluarga kecil kita, aku sengaja untuk membeli rumah di kawasan tersebut karena jaraknya dekat dengan firma hukum tempat Keira bekerja. Karena ia sering mengeluh karena jarak rumah kami sebelumnya sangat jauh dari kantornya.
Aku kadang menyesal hanya dengan melihat Keira, ia sudah kepayahan karena pekerjaannya. Di tambah lagi ia harus mengurus kami berdua, karena itu aku membeli rumah itu. Aku ingin ia tetap bisa mengejar karirnya dan terus bisa mengurus kami berdua. Dan aku sungguh bersyukur karena ia bisa melakukan dua hal tersebut secara baik.
Bisa di bilang karir Keira cukup sukses sebagai pengacara, hal itu terjadi setelah ia menangani kasus malapraktik yang di lakukan rumah sakit terkemuka di Jakarta. Ia membela Ibu Syahrini, seorang Ibu tunggal yang harus kehilangan anaknya, karena salah resep dokter.
Bisa dibilang sebelum ia menangani kasus itu, ia sama seperti pengacara baru lainya yang kesulitan untuk mendapat sebuah kasus. Bahkan ia pernah tidak memiliki satu pun kasus selama enam bulan full. Melihat hal itu pun, aku kadang mencoba membantunya dengan koneksi ku. Namun ia selalu menolak, karena hal itu, aku bangga akan dirinya.
Namun setelah kasus itu, ia mendapat banyak perhatian dari publik. Dan ia berhasil dengan caranya sendiri. Kasus itu bermula saat aku dan Keira datang kerumah sakit di bilangan Jakarta, kala itu aku dan Keira ingin melakukan medical check up di rumah sakit. Dan di depan rumah sakit itu, aku dan Keira bertemu Ibu Syahrini.
Di tengah terik matahari, dengan wajah sayu ia berdiri dengan sebuah kertas cartoon bersisi tulisan protes dirinya kepada rumah sakit. Ibu Syahrini meminta pertanggung jawaban rumah sakit, karena kelalaian rumah sakit, ia harus kehilangan anak yang ia cinta.
Melihat hal itu pun, Keira pun menghampiri Ibu Syahrini. Dan mengeluarkan tangannya, kepada Ibu Syahrini. Setelah berdiskusi dengan Keira dan mengetahui benang merah dari permasalahan itu. Keira dan Ibu Syahrini pun sepakat untuk melakukan gugatan kepada rumah sakit di pengadilan.
Aku pun tidak habis pikir, kenapa Keira sangat ingin membantu Ibu Syahrini. Bahkan ia melakukan itu tanpa di bayar, karena Ibu Syahrini mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang untuk membayar jasa Keira. Namun saat aku bertanya, dan tahu alasan di balik niatnya itu.
Aku bersyukur dan bangga kepadanya. Alasan dibalik niatnya itu adalah Ia tidak ingin kasus itu terulang lagi, karena ia juga seorang Ibu seperti Ibu Syahrini. Ia tidak mau kasus itu menimpa kepada Azka, anak kami berdua.
__ADS_1
Setelah melewati beberapa persidangan yang melelahkan, Keira berhasil menang dengan gugatannya di pengadilan.
Setelah berhasil mengalahkan 8 pengacara yang di sewa rumah sakit itu. Dan membuat rumah sakit harus meminta maaf dan memberi kompensasi 1 Milyar kepada Ibu Syahrini. Walau bukan itu hal utamanya, karena rumah sakit juga mengakui kesalahannya untuk kasus-kasus lain yang pernah terjadi.
Rumah sakit itu memang sering kena kasus malapraktik dan merugikan banyak pasien-pasien. Rumah sakit selalu menugaskan dokter-dokter Koas untuk menangani kasus-kasus besar yang harusnya di tangani oleh dokter yang sudah memiliki pengalaman. Dan setelah persidangan, terungkap alasan rumah sakit melakukan itu. Alasan di balik itu, adalah untuk mengurangi biaya yang harus di keluarkan rumah sakit untuk membayar tenaga medis.
Namun rumah sakit, selalu berhasil keluar dari beragam gugatan-gugatan tersebut. Karena ia memiliki uang yang banyak untuk menyewa pengacara-pengacara handal. Dan aku bersyukur bahwa Keira akhirnya bisa memenangkan pertarungan yang melelahkan itu.
Media pun ikut membesarkan masalah tersebut. Dan masalah tersebut pun menjadi headline news di berbagai surat kabar, dan TV Nasional. Karena kasus tersebut pun membuat masyarakat mulai memberi rasa simpati kepada keluarga korban seraya mengutuk perbuatan keji rumah sakit.
Begitu juga Keira, ia mendapat popularitas di masyarakat. Bahkan masyarakat memberinya sebuah julukan untuknya. Sebagai pengacara untuk orang kecil. Keira pun terkenal seantero negeri, dan sejak itu juga banyak orang berbondong-bondong meminta di bela olehnya. Dan itu membuat Keira lebih sibuk dari biasanya.
Karena sebelumnya aku dan Keira sepakat untuk mengurus Azka bersama tanpa bantuan baby sister. Hal itu aku lakukan karana aku ingin Azka mendapat perhatian penuh dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Namun niat itu mulai terganjal karena kesibukan kami, sehingga Azka mulai menjadi korban. Kami sering menitipkan Azka dirumah Paman dan Ibu Keira. Azka pun mulai kehilangan waktu bersama kami, dan aku sangat khawatir kepadanya.
Melihat fakta itu, aku pun berniat untuk membukakan Keira firma hukum miliknya sendiri, sehingga waktunya tidak dihabiskan di tempat ia bekerja. Dan tujuan utama dari niat itu adalah agar ia bisa mengatur waktu kerjanya sendiri, sehingga ia dapat memiliki waktu untukku dan Azka.
Setelah empat tahun wacana itu mengudara, akhirnya niat itu terlaksana. Keira akhirnya membuka firma hukum miliknya sendiri. Firma hukum itu diberi nama KAR Lawyer, nama itu berasal dari inisial nama kami bertiga yaitu Keira, Azka dan Rasya.
Namun setelah Firma hukum tersebut berdiri, Keira malah menjadi super sibuk. Dan sebagian besar waktunya tertuju pada Firma hukum miliknya. Kesibukannya itu membuatnya melupakan tugasnya, untuk menjadi seorang istri bagiku dan seorang Ibu bagi Azka.
__ADS_1
Bahkan karena kesibukan Keira, Azka pernah bertanya kepadaku dan pertanyaan itu lantas menyakitiku. Ia bertanya, apakah Ibu membencinya. Sehingga ia tidak pernah meluangkan waktu dengannya, dan fakta itu menyakitiku. Bagaimana anak sekecil itu, mempunyai pikiran itu. Melihat itu, aku pun mengajak Keira berdiskusi akan masalah ini. Tapi tidak pernah ada solusi, hanya pertengkaran dan pertengkaran yang terjadi diantara kami berdua.
Firma hukum miliknya mengubahnya, dan setelah firma hukum itu berdiri yang ia pikirkan hanya lah karirnya saja. Bekerja dan bekerja, aku tidak pernah melarang dia untuk menjadi seorang wanita karir, karena dia meyakinkanku dengan senyuman.
Tapi yang membuatku kesal, adalah fakta bahwa ia melupakan tugas-tugasnya sebagai seorang istri bagiku dan seorang Ibu bagi Azka. Aku memang mengerti dan tidak berharap bahwa ia akan menjadi sosok istri yang baik untuk diriku, karena senyumannya sudah cukup bagiku. Tapi tidak dengan Azka, aku tidak ingin ia kehilangan figur Ibu di hidupnya. Aku tahu karena aku pernah mengalami hal tersebut, dan aku tidak ingin hal tersebut terjadi kepada Azka.
Tapi janji tinggal janji, dan itu yang selalu membuat rumah tangga kami, selalu di bumbui akan pertengkaran dan pertengkaran.
Aku yang tidak tega melihatnya selalu bermain sendiri, membuatku sering mengambil cuti di perusahaan ku. Namun aku sadar aku tidak bisa terus melakukanya, karena tanggung jawabku besar di perusahaan itu. dan aku tidak mau, perusahan yang di bangun Ayah dan Ibu serta Paman, hancur karena ketidakmampuanku mengelolanya. Dan hari itu tiba, hari dimana aku akan kehilangan seorang anak yang aku sayangi, aku menangis saat menyaksikan penglihatan tersebut.
Barangkali, aku kesulitan dalam membaca sebuah tanda yang datang. Untuk beberapa alasan, semua hal yang telah berlalu, selalu mengajariku sesuatu. Tentang rasa bahagia, maupun tentang sebuah rasa sakit. Namun bunga, tidak sedikit pun membenci koloni lebah. Bukan karena ia, tidak bisa ataupun
tidak mampu melakukannya. Namun karena
ia memilih, untuk tidak melakukannya.
Begitu pula pandangan diriku terhadapnya.
Bahkan setelah, aku melihat cuplikan takdir yang menyesakan hati itu. Aku masih ada di tempat yang sama. Dan masih ingin tetap berjalan kearahnya. Masih menginginkan tempat itu, meski aku tahu tempat itu hanya berisi sebuah luka.
__ADS_1
Aku pun sadar, bahwa rasa sakit mungkin tidak bisa kita hindari, namun penderitaan adalah sebuah pilihan. Apakah aku harus bersikap egois, dan dengan tidak tahu malu pergi kearahnya. Ini bukan cinta yang aku inginkan, karena dia terus menangis saat menjalaninya.