WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 56) KENAPA CINTA KITA MENYAKITKAN


__ADS_3

KENAPA CINTA KITA MENYAKITKAN


Hanya bisa me-rewind ingatanku bersamanya di sekolah ini, begitu banyak dan membuatku kembali menjadi serakah. Senyum ini terus hadir di wajah, ingatan itu membuatku kembali menginginkannya. Sungguh gila, aku merasa aku akan gila tanpanya. Sekitaran 30 menit, hanya berdiri di depan gerbang sekolah bersama ingatanku bersamanya.


Walau sudah berapa puluh kali, aku masih terus memutar segala ingatan di kepala ini. Namun aku terus menjadi serakah, dan sangat tidak puas jika tidak melihatnya. Aku pun tidak kehilangan akal, karena kerinduan ini membuatku gila. Aku lantas menaiki Bus No. 1 M dengan rute Meruya – Blok M, aku memutuskan pergi kerumah Keira. Di dalam Bus ini, kenangan lama mengajakku bermain, dan senyum ini tersulam di wajahku dengan sendirinya.


Sebuah ingatan saat aku pulang bersama Keira dengan bus ini, disana juga ada kenangan saat aku belajar di dalam Bus dan Keira tersenyum kepadaku. Aku sungguh ingin mengulanginya, segala kenangan ku bersamanya.

__ADS_1


30 Menit di dalam Bus, bersama segala ingatan tentangnya. Aku pun turun di daerah Blok M, dan setelah turun aku lantas berjalan memasuki sebuah gang menuju rumahnya. Berjalan di temani lampu jalan, dan jalanan ini kembali membawaku ke sebuah kenangan bersama dirinya.


Di jalan ini, aku pernah menggenggam tangannya. Menangis serta tertawa bersamanya. Aku sungguh ingin mengulanginya, segala kenangan ku bersamanya di jalan ini. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku bisa melihat rumah wanita yang aku cintai. Berjarak 15 langkah, aku menatap rumah berpagar warna coklat itu. Sekumpulan ingatan pun kembali mengajakku bermain, akan kenangan ku bersama Keira.


Bagaimana ini, meskipun ini menyakitkan, tapi aku ingin mengulanginya lagi dan lagi. Momen bersama Keira, aku masih ingin mengulanginya. Hanya berdiri menatap, dan me-rewind segala ingatanku tentangnya. Setelah hampir satu jam berdiri menatapnya, aku berfikir bahwa ini tidak benar. Aku pun memutuskan untuk pulang kerumah Paman, karena jika seperti ini tidak akan tidak ada habisnya. Karena aku akan terus bersikap serakah jika itu tentangnya.


Namun saat aku membalikan badanku dan berniat pulang, aku melihat sebuah momen biasa yang aku lihat dan hancur karena momen itu. Saat aku membalikan tubuhku, aku menatap Keira di depanku. Ia menatapku bersama air matanya, bagaimana ini aku sudah membuat momen itu bagai sebuah hal yang bisa ia lakukan. Di jalan, berjarak 15 meter dari rumahnya. Dua orang yang terluka saling menatap dan saling menyakiti satu sama lain.

__ADS_1


Aku terdiam akan kata-katanya, benar seharusnya aku melakukanya dengan baik. Pergi darinya dengan benar, dan hilang bersama takdir mengerikan itu. Sehingga aku tidak akan melihat air matanya hari ini.


“Jahat kamu tau gak!” Tuntas Keira.


Jadi ini pikiranmu sekarang tentang diriku, walaupun aku sudah mengetahui fakta itu. Namun mendengar langsung dari mulutmu, sungguh menyakitkan. Jadi ini akhir cerita kita, maafkan aku karena merubah cinta menjadi sebuah rasa sakit.


Aku pun lantas melangkahkan kakiku dan pergi meninggalkannya, namun saat aku melewatinya. Gadis menyedihkan itu meraih tanganku, dan membuatku kembali menatapnya.

__ADS_1


“Aku mohon, jangan pergi. Maafin aku, aku yang salah, seharusnya malam itu aku gak ngomong kaya gitu.”


Kata-kata itu membunuhku, bagaimana kau bisa mengatakan kata-kata itu. Kenapa kau meminta maaf, padahal semua tahu bahwa disini aku yang bersalah. Maafkan aku karena membuatmu meminta maaf atas kesalahan yang tidak kau lakukan. Keira terus memintaku untuk tidak pergi, dan terus menangis seraya memegang tanganku. Jika seperti ini bagaimana aku bisa melangkah pergi dan menghentikan takdir itu.


__ADS_2