
KETIKA DEWA BERUBAH PIKIRAN
Aku hanya menatapnya, dan teringat semua kenangan sayu di benak ini. aku menutup mataku untuk sedikit menghilangkan rasa sakit di hati ini, karena kenangan itu.
“Takdir Keira berubah.” Frisca.
Aku terkujut akan kata-kata Frisca, dan aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagiaku. Fakta bahwa ia akan tersenyum, membuatku lupa akan kesedihanku. Di tengah kegembiaraanku, aku di kagetkan oleh Frisca yang secara tiba-tiba menginjak kakiku seraya mengerutkan dahinya.
“Kita harus merubahnya kembali.” Pinta Frisca.
“Aku pergi dulu, kamu minum aja dulu. Nanti kalo lu mau pulang, tutup aja pintunya. Thanks banget Frisca.” Kataku.
__ADS_1
Aku pun lantas meninggalkan Frisca, bersama susu coklat dinginya, senyuman yang menyertaiku saat aku melangkahkah kaki menuju kearahnya. Aku berniat kerumah Keira, untuk memastikan bahwa takdir itu telah berubah.
Aku lantas menaiki Bus No. 1 M dengan rute Meruya – Blok M, aku memutuskan pergi kerumah Keira. Di dalam bus, senyuman ini tidak hilang. Dan semoga yang di katakan Frisca benar, bahwa takdir Keira sudah berubah.
Bus ini bergerak layaknya seekor siput, karena itu aku mengutuknya. Hanya duduk gelisah seraya memandangi jalan, menunggu tempat tujuanku sampai. Aku sungguh tidak sabar untuk memastikan takdir itu telah berubah, tidak terbayangkan sebelumnya ini akan terjadi.
Hanya ada senyumanya, dan kumohon selalu seperti itu. 45 Menit di dalam Bus, bersama dengan segala harapan tentangnya. Aku pun turun di daerah Blok M, dan setelah turun aku lantas berlari memasuki sebuah gang menuju rumahnya. Ketidaksabaran ku akan melihat takdirnya, yang melatarbelakanginya.
Berjarak satu meter, aku dan Keira berdiri bertatap-tatapan, aku pun mendekatkan diriku seraya melepas kaca mata minus di mata ini, dan mendekat kearahnya. Melihat langkahku, Keira tampak mundur karena langkahku. Aku pun lantas mendekat, dan memegang pundaknya dengan kedua tanganku.
Aku pun berkonsentrasi menatap wajahnya, kita pun hanya bertatap-tatapan disituasi yang sangat dekat. Aku pun mulai menatap matanya, dan terus menatap matanya. Disisi lain Keira tampak kikuk, dan hanya terdiam menerima tatapanku. Aku pun terus menatapnya, namun aku tidak melihat apapun. Aku pun terus mencobanya lagi dan lagi.
__ADS_1
“Kamu ngapain sih?” Tanya Keira.
“Sebentar, cuma sebentar.” Jawabku.
Aku pun kembali menatap matanya, dan terus menatap matanya. Aku pun mulai mencoba lagi dan lagi dan berkosentrasi untuk larut akan masa depanya. Dan tak lama, penglihatanku akan masa depan Keira muncul. Potongan kisah akan masa depannya, menarik diriku dan membuatku untuk melihat potongan kisah itu.
**
Pagi disebuah kampus, disebuah ruangan kulihat ramai para mahasiswa duduk di bangku mereka menatap seorang dosen di depan kelas. Di suatu sudut diruang itu, di pojok ruangan, tepatnya di samping jedela. Kulihat Keira sibuk mencatat apa yang di ajarkan dosen itu, ia tampak cantik dengan memakai kemeja bewarna putih, di padukan dengan celana levis. Ia tampak semangat dan antusias, mendengarkan penjelasan dari dosen yang berada di depan kelas.
Dosen itu menjelaskan menggunakan bantuan sebuah power point yang di tembakan ke depan di papan tulis. Dan aku tersenyum saat melihat mata kuliah itu, mata kuliah itu adalah pengantar ilmu hukum. Keira mengejar cita-citanya, dan aku bersyukur karena itu. Keira berjalan lebih dekat, kearah mimpinya yaitu menjadi pengacara.
__ADS_1