WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 7) WANITA DENGAN TAKDIR BURUK


__ADS_3

WANITA DENGAN TAKDIR BURUK.


Saat aku melihat matanya, penglihatan itu datang dan memberikanku sejuta pertanyaan. Kenapa itu bisa terjadi kepadanya, penglihatan akan masa depannya membuatku terkejut. Bak sebuah tinta, kesedihan itu telah menempel di takdirnya. Di dalam penglihatan ku, Keira menangis, ia sendiri di rundung nestapa.


Keira, kenapa kamu menangis?


Keira, kenapa kamu memiliki takdir itu?


Keira, kenapa kamu harus kehilangan anakmu?


Aku masuk ke dalam kelas, karena jam pelajaran akan segera dimulai. Dengan perasaan penuh rasa bersalah, aku lantas menatap kearah meja Keira. Dari mejanya, Keira hanya terdiam seraya menatapku dengan tatapan sinis dan dingin.


Aku baru saja mendorong primadona sekolah, dan membuatnya menangis. Aku pun sesegera mungkin menyelamatkan diri dari tatapan itu, dengan mempercepat langkahku seraya memalingkan pandanganku dan bergegas untuk duduk di bangkuku.


“Eh Rasya, Keira kenapa ngeliatin lu?” Tanya Roni.


Pertanyaan dari Roni, mengalihkan ku. Roni adalah teman sebangkuku. Dan dari semua anak yang ada dikelas, mungkin dialah yang paling dekat denganku. Walau sungguh aku tidak menginginkannya, karena Roni memiliki masalah yaitu bau badan.


Bau badannya sering melukai hidungku, jadi aku sering menahan nafasku saat berada di dekatnya. Bau badannya tidak bisa di jelaskan dengan kata mau pun data, sungguh bau, bau mayat mungkin, hmmm … tidak, dia itu mayat.


“Gatau.” Jawabku.


Jawabanku mengakhiri obralan kita berdua, dan tak lama bel pun berbunyi diiringi dengan Pak Amir yang memasuki kelas. Keira selaku ketua kelas pun lantas berdiri, dan menyuruh anak-anak untuk memberi salam kepada Pak Amir.


Pak Amir adalah guru matematika di sekolahku, dan dia juga bertindak sebagai wali kelasku. Setelah kita selesai memberi salam kepada Pak Amir. Di depan kelas, Pak Amir hanya berdiri mematung.


Melihat hal itu, suasana kelas pun berubah menjadi hening. Dan kita semua tahu dan sadar betul, alasan dari sikap Pak Amir itu. Jawabannya adalah tragedi kebakaran yang menimpa sekolah, tiga hari lalu.


Pak Amir pun lantas menjelaskan kejadian yang menimpa sekolah, dan menyuruh kita untuk tidak khawatir dan kembali fokus untuk belajar. Perasaan bersalah pun kembali datang, dan aku sungguh kewalahan karenanya. Tapi dibalik itu semua, senyum ini menyimbak akan perasaan bersalah itu.


Dan aku sadar, bahwa aku masih seorang manusia dan masih memiliki hati nurani.


Setelah lima menit di kelilingi oleh kabut haru, kita semua lantas dikagetkan oleh Pak Amir yang secara tiba-tiba membanting buku yang ia bawa ke atas mejanya. Perhatian anak-anak di kelas pun makin tertuju kepada Pak Amir, Pak Amir memang terkenal tegas, apalagi menyangkut masalah nilai.

__ADS_1


Dan Pak Amir pun tidak segan-segan memarahi bahkan menjewer, anak-anak yang berprilaku tidak sesuai atau melanggar aturan sekolah.


“Kalian dirumah ngapain aja sih, hah? kok bisa nilai kalian makin jeblok, cuma Keira yang mendapat nilai bagus.” Kata Pak Amir.


Anak-anak di kelas pun mematung, mendengar keluhan Pak Amir. Tapi tidak halnya dengan Roni, yang tidak peduli dan masih sibuk dengan Sketchbook miliknya. Impian Roni adalah menjadi seorang mangaka. Mangaka adalah istilah bahasa Jepang untuk orang yang menggambar manga atau sebuah komik.


“Terutama Roni dan Rasya, jika begini terus. Kalian akan sulit untuk naik kelas.” Lanjutnya.


Aku hanya tertunduk diam, dan berpura-pura merasa bersalah akan hal itu kepada Pak Amir. Sebenarnya aku tidak peduli dengan nilai ku, karena bagiku sekolah hanya tempat untuk menghabiskan waktu.


“Gak bisa, Bapak akan merotasi tempat duduk kalian.” Kata Pak Amir.


Kata-kata Pak Amir membuat seisi kelas bersorak kecewa, hal itu mungkin karena anak-anak di kelas sudah nyaman dengan teman sebangku mereka. Namun tidak halnya dengan Roni, dia malah senang dan berharap duduk di samping Keira.


“Semoga gua duduk sama Keira.” Kata Roni berharap.


Aku hanya mengaminkan doa Roni, sehingga aku bisa terlepas dari bau badan nya dan kembali bernafas dengan bebas untuk hari-hariku di sekolah. Namun melihat Roni, membuatku berfikir.


Namun saat aku membayangkan penglihatan akan masa depannya yang tadi aku lihat. Membuatku merasa kasihan kepadanya, sekaligus membuatku bertanya-tanya. Kenapa seorang seperti Keira, bisa mempunyai takdir yang mengerikan seperti itu.


Mary Enggelbreit, seorang seniman grafis asal Amerika pernah berkata, Hidup ini terlalu misterius, untuk orang yang terlalu serius. Tentang masa depan Keira, aku pun menyadari betapa menjengkelkannya hidup ini. Dan hal itu, membuatku semakin tidak mempercayai akan kehidupan. Dan kata harapan, aku membuang jauh kata itu dari kamus di hidupku.


Pak Amir pun mulai sibuk mendesain tempat duduk baru kami. Dan anak-anak pun mulai berkemas, dan pergi ke bangku baru mereka seperti yang di intruksikan Pak Amir. Dan aku sungguh sial, karena aku harus duduk dengan Keira.


Aku pun berfikir banyak, terutama akan kejadian tadi pagi, dan tampaknya Keira sangat marah kepadaku. Namun aku tidak mempunyai pilihan lain, dan langkahku di iringi tatapan iri dari anak-anak di kelas.


Tatapan sinis kudapatkan dari Keira, saat mata kami bertemu. Hanya menghiraukannya, dan duduk di bangku baruku. Tak lama Pak Amir pun mendatangi ke mejaku dan Keira.


“Keira, kamu bantu Rasya ya.” Pinta Pak Amir kepada Keira.


“Iya Pak.” Jawab Keira sambil tersenyum melihat Pak Amir.


Senyuman Keira lantas hilang dari wajahnya, saat Pak Amir memalingkan pandanganya. Aku pun hanya menghiraukannya, dan pelajaran pun lantas dimulai.

__ADS_1


Setelah 15 menit, aku mulai bosan dan langsung mengambil posisi yang nyaman untuk tidur. Dan saat aku memejamkan mataku, dan bersiap masuk ke alam mimpi.


Aku dikagetkan saat sebuah tangan memukul kepala belakangku, dan saat aku membuka mata dan mencari sumber dari pukulan itu. Aku melihat Keira menatapku dengan tatapan tanpa ekspresi.


“Sakit!” Kataku menatapnya.


“Iya tahu, makanya gua pukul.” Jawab Keira tanpa ekspresi.


Jawaban Keira membuat amarahku memuncak. Dan yang membuatku lebih kesal, dia melakukanya tanpa ekspresi. Aku pun berfikir banyak, apakah tidak terlalu berlebihan bila dia harus memukul kepalaku.


Karena selama aku hidup, belum ada yang pernah memukul kepalaku. Tapi setelah memikirkan kejadian tadi pagi, kata yang tepat adalah hari ini aku sungguh sial.


“Ini sekolah, bukan hotel.” Kata Keira tanpa ekspresi.


“Sorry banget buat yang tadi, tapi bisa gak, lu urus urusan lu sendiri.” Pintaku kepada Keira.


Keira masih menatapku dengan wajah datarnya, aku pun menatapnya dengan semua rasa bersalahku dan tulus meminta maaf akan hal tersebut, karena aku ingin kembali ke normal ku. Dan aku tidak ingin mempunyai urusan, atau pun masalah dengan orang lain.


“Ehmmm, Ok.” Jawab Keira dengan senyum setelah berfikir sebentar.


Mendengar jawaban Keira, aku pun tenang dan lega karena permintaan maaf ku telah di terima olehnya. Karena aku sadar, bahwa aku sangat berlebihan tadi pagi. Aku pun kembali mencari posisi tidur nyaman dan kembali bersiap memejamkan mataku.


Namun baru saja aku memejamkan mataku, aku kembali mendapat serangan yang tak terduga dari Keira.


“Pak Rasya, tidur dikelas.” Teriak Keira mengadukan ku kepada Pak Amir.


Aku hanya terkejut seraya memandangnya, dan tanpa sadar tangan Pak Amir sudah berada di telingaku. Hanya bertatapan canggung, sebelum Pak Amir meledak dan menyuruhku keluar dari kelas.


Hanya bisa tertunduk dan beranjak untuk keluar dari kelas yang bisa aku lakukan. Sementara di tempat duduknya, kulihat Keira menatapku dengan wajah datarnya, dan kembali menatap buku yang ada di atas meja.


Aku sungguh tidak percaya akan kejadian itu, bagaimana Keira bisa menggadukanku kepada Pak Amir. Aku pun bertanya-tanya, sebesar itu rasa bencinya kepadaku. Hanya berdiri di depan kelas, dengan pikiran-pikiran itu.


Permintaan maaf yang tulus pun mulai terlintas di pikiranku, karena aku hanya ingin hidup dengan tenang dan lulus dari sekolah ini. Dan seharusnya aku tidak datang ke sekolah sepagi ini. Sehingga peristiwa itu, tidak akan pernah terjadi. Dan mungkin jika peristiwa itu tidak terjadi, sekarang aku sudah tidur dengan nyaman di mejaku.

__ADS_1


__ADS_2