WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 64) WANITA YANG BISA MELIHAT MASA DEPAN


__ADS_3

WANITA YANG BISA MELIHAT MASA DEPAN


Saat aku berjalan masuk keruang tamu, dan berniat untuk mematikan lampu. Aku melihat Frisca tertidur di sebuah sofa rumahku, melihat hal itu aku pun berjalan kearahnya. Aku tidak mengerti kenapa dia masih disini, dan tertidur di sofa rumahku. Apakah dia menungguku, atau dia hanya kelelahan dan tidak sengaja ketiduran.


Aku pun menatap jam yang ada di tanganku, dan mendapati jam sudah menunjukan sembilan malam. Aku pun berniat untuk segera membangunkannya, dan menyuruhnya untuk pulang.


Namun saat aku menatapnya tertidur di sofa, aku mengurungkan niatku tersebut. Dia tertidur sangat pulas, aku tidak tahu rasanya, aku tidak tega untuk membangunkannya. Hari ini, dia banyak menangis. Karena itu, mungkin dia sangat lelah.

__ADS_1


Meskipun aku tidak mengerti alasan dibalik tangisan itu, tapi aku sangat paham bahwa melihat takdir akan masa depan orang lain, itu adalah sebuah siksaan. Dan aku tahu betul perasaan itu, karena aku juga mengalaminya.


Aku juga tidak mengerti, alasan dia menceritakan takdir masa depan Keira sudah berubah kepadaku.


Apakah karena rasa bersalahnya, tentang peristiwa ciuman di atap sekolah. Dan karena setelah peristiwa itu, aku putus dengan Keira. Namun apapun alasannya, aku sangat berterimakasih kepadanya, karena telah memberitahuku bahwa takdir Keira sudah berubah. Aku pun memutuskan untuk membiarkan dia tidur lebih lama, dan setelah itu aku mengantarnya pulang. Aku pun duduk di salah satu sofa, untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran ini.


Setelah duduk, aku lantas mencopot kaca mata minus ku karena mataku sudah sangat lelah dan kepalaku mulai pusing karena terlalu lama memakainya. Mataku tidak minus sedikit pun, aku memakainya karena untuk mengaburkan penglihatan diriku saat berkomunikasi dengan orang di sekitarku.

__ADS_1


Aku lantas memejamkan mata ini untuk mengurangi rasa sakitnya, di tengah gelap senyum ini tercipta. Menghilangkan resah untuk sementara akan masa depannya, fakta akan tulus rasanya kepadaku membuat bibir ini tersenyum dengan sendirinya.


Rasanya sungguh cukup, setelah mengetahui perasaanya kepadaku. Aku pun membulatkan tekad untuk menjauh dari takdir itu, sedikit egois kerena itu bencilah aku dan terus lah hidup seperti itu, karena dengan itu, kau tidak akan pernah merasakan takdir itu.


Bersedih lah untuk sementara, akan ada seorang yang akan membuat senyum lain di hidupmu. Terimalah dia, lalu tersenyum lah di sisa hidupmu. Lupakan aku, karena aku hanya duri yang akan menyakitimu. Keputusanku pun sudah bulat, dan aku akan berusaha untuk berdamai bahwa kita tidak ditakdirkan bersama. Aku akan pergi ketempat dimana kau tidak bisa menjangkau diriku, karena itu kumohon terimalah takdir barumu itu.


Setelah terdiam bersama segala pikiranku, aku menatap jam tangan dan mendapati bahwa malam sudah pukul 9:30. Aku pun beranjak dari sofa dan berjalan kearah Frisca yang sedang tertidur pulas di sebuah sofa, aku berniat untuk membangunkannya dan mengantarnya pulang.

__ADS_1


Namum saat aku mendekat kearah Frisca, dan berniat untuk membangunkannya, entah kenapa aku masih tidak tega dan hanya berdiri menatapnya. Dalam sepi, aku menatapnya yang masih tertidur pulas di atas sofa. Mengetuk iba di mataku, saat melihatnya. Dia juga sama sepertiku, selalu dirundung oleh Tuhan.


Dan saat aku menatapnya, secara tiba-tiba aku di kejutkan akan takdir akan masa depan Frisca. Bukan karena masa depannya yang pilu dan penuh nestapa, melainkan karena aku melihat diriku ada di masa depannya.


__ADS_2