WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 71) DUA MANUSIA YANG TIDAK BERUNTUNG


__ADS_3

DUA MANUSIA YANG TIDAK BERUNTUNG


Aku hanya terdiam seraya menatapnya, dan jika bertanya alasanku melakukan ini. Alasanku adalah untuk melindungi Keira, dari takdir itu. Selain itu, aku juga sudah lelah dan muak dirundung oleh Tuhan. Dan alasan lainya adalah tentang dirinya dan Pasha.


“Apakah karena takdir kita?” Tanya Frisca.


Aku hanya menatapnya, dan entah kenapa aku merasa malu untuk mengakui itu di depannya. Mengakui bahwa alasan aku melakukan ini, salah satunya demi dirinya. Aku hanya mengangguk, membalas pertanyaannya. Frisca lantas tersenyum, setelah mengetahui itu.


“Yaudah kamu pulang sana.” Pintaku.


“Eemm, ga mau. Aku juga udah capek sama dunia ini.” Jawab Frisca.


Aku hanya menatapnya getir, dunia ini emang sangat tidak adil. Ternyata Frisca sama seperti diriku, dia juga di rundung oleh Tuhan. Dan tanpa sadar senyum ini datang, dan entah kenapa aku merasa lega. Dan tersenyum oleh sebuah fakta, bahwa aku tidak menderita sendirian selama ini.

__ADS_1


“Aku ikut ya, aku juga udah lama mau ngelakuin itu. Tapi aku takut, mungkin kalo sama ada temanya rasa takutnya berkurang.” Lanjut Frisca.


Aku kembali menatapnya getir, aku pun bertanya-tanya. Apa yang telah ia lalui, dan apakah hidupnya sangat berat sehingga dia mempunyai niat itu sedari dulu. Ditengah iba ku, aku ingat sebuah fakta. Bahwa alasanku melakukan ini, adalah demi dirinya. Dan jika aku mati, dia tidak akan mempunyai takdir mengerikan itu. Melihat hal itu, aku pun terkejut dan menatapnya.


“Gak ada yang berubah, orang lain akan gantiin kamu. Dan dia juga akan ninggalin aku dan Pasha.” Tuntas Frisca.


Aku hanya terdiam akan kata-kata itu, aku pun lantas menatap matanya untuk memastikan takdir itu. Apakah tidak berubah seperti yang di katakan oleh Frisca, hanya terus menatap matanya dan terus seperti itu.


Namun aku tidak bisa masuk dan melihat masa depannya, aku pun tidak mengerti. Kenapa aku tidak bisa melihat masa depannya, apakah karena aku akan mati. Jadi aku sudah tidak bisa melihat masa depan, aku pun tidak mengerti akan hal itu.


Aku hanya terdiam akan pertanyaannya, aku pun tidak mengerti. Kenapa aku tidak bisa melihat masa depannya. Dan aku pun penasaran, kenapa Frisca bisa tahu masa depannya sendiri. Sedangkan aku hanya bisa tahu masa depan orang lain.


Dan selama ini, aku tidak bisa melihat masa depanku sendiri. Hanya menatap masa depan orang yang terkait denganku saja, baru aku bisa mengetahuinya. Tapi kenapa dia bisa mengetahui masa depannya sendiri, aku pun sungguh penasaran.

__ADS_1


“Aku penasaran deh, kok kamu bisa tahu masa depan kamu?” Tanyaku balik.


“Hah, ga usah bercanda deh.” Jawab Frisca.


Aku pun hanya menatapnya, rasa keingintahuanku yang melatarbelakanginya. Frisca pun akhirnya menatapku, dan mengatakan alasan bagaimana dia bisa melihat masa depannya sendiri.


“Saat aku menatap cermin, dan melihat aku di dalamnya. Aku bisa melihat masa depannya.” Jawab Frisca.


Aku pun tertegun mendengar jawabannya, dan mengerti alasan dia mempunyai niat bunuh diri itu sejak lama. Karena hidupnya sungguh berat, dimana dia mengetahui masa depannya sendiri. Dia pasti sangat ketakutan, saat melihat masa depannya sendiri. Dan dia melihat masa depan itu, setiap saat.


“Sejak kapan kamu melihatnya?” Tanyaku.


Dia hanya tersenyum getir, dan aku sangat kagum akan dirinya. Bagaimana dia bisa bertahan sampai sejauh ini, melihat takdirnya setiap saat. Dan mungkin dia membenci Tuhan, lebih dari diriku. Dan jika aku jadi dirinya, mungkin aku sudah lama bunuh diri.

__ADS_1


“Eemm sejak aku kecil, aku melihat seseorang bunuh diri. Setiap aku bercermin, aku selalu melihat orang itu. Dan setelah aku besar, akhirnya aku tahu bahwa orang yang selama ini aku lihat, adalah aku.” Jawab Frisca.


Aku hanya menatapnya, dan aku kemudian menyesal. Karena tidak seharusnya aku memulai percakapan ini, dan saat aku melihat dia bercerita.


__ADS_2