WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 2) NESTAPA BERTAMU, DAN TINGGAL


__ADS_3

NESTAPA BERTAMU, DAN TINGGAL.


Aku kadang merindukan sebuah momen, sebuah momen saat aku tersenyum. Aku ingin mengulanginya, sebuah moments saat aku bersama kedua orangtuaku.


Canda tawa di temani langit sore yang indah, berjalan dengan digandeng oleh kedua tangan mereka. Aku sungguh ingin mengulanginya. Dua tangan yang dibalut rasa memiliki, yang membuat nestapa pun gigit jari.


Karena sangat langka, aku sangat menghargai momen itu diingatan. Bahkan aku mengingat setiap detail, gesture maupun omongan mereka di kepala.


**


Tubuhku bergerak luwes, melintasi hamparan rerumputan hijau. Dada ini bergetar, karena ketakutan di kejar oleh seorang monster dadakan.


“Arghhhhh.” Teriak Ayahku.


Raungan monster itu, malah membuatnya terlihat lucu. Hanya berlari, dan terus berlari untuk menjauh dari kejarannya. Tidak perlu waktu lama, monster dadakan itu ambruk bersama nafas beratnya. Melihat hal itu, aku pun hanya tersenyum seraya menatapnya.


Tak lama dari kejauhan, aku lantas melihat lambaian tangan Ibu kearah kami berdua. Lambaian tangan Ibu pun lantas membuat kita menyudahi permainan kejar-kejaran monster.


Hari itu, Ibu tampak cantik dengan celana jeans bewarna biru dan kombinasi baju polo shirt berwarna merah jambu. Serta Ayahku pun terlihat macho dengan kaos polos bewarna hitam.


Hari itu, aku sangat bahagia. Kita duduk di taman, beralas kain bewarna hijau tua.


“Kita kaya keluarga cemara ya?” Tanya Ayahku seraya merangkul pundak kecilku.


“Iya.” Jawab Ibu sambil tersenyum.


“Kita kan manusia yah, bukan pohon?” Tanyaku sambil melihat aneh kearah kedua Orangtuaku.


Pertanyaan ku serentak membuat senyum di wajah mereka. Dan Ayah pun mencoba menjelaskan tentang arti sesungguhnya dari keluarga cemara kepadaku.


“Keluarga cemara itu adalah keluarga yang didalamnya penuh dengan kasih sayang, yang membuat seseorang yang tinggal di keluarga itu, senantiasa bahagia.” Kata Ayah kepadaku.


“Kamu bahagia gak tinggal sama Ayah dan Ibu?” Tanya Ibuku.


“Bahagia.” Jawabku seraya tersenyum.


Aku pun lantas mendapat pelukan dari Ayah dan Ibu, dan aku di penuhi oleh cinta mereka. Dan aku bersyukur karenanya, tertawa dan bahagia bersama mereka. Dan kata-kataku sudah habis untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat bersama mereka.

__ADS_1


“Oh iya, yah. Liburan kali ini, kita ke kebun binatang ya?” Pintaku kepada Ayah.


“Kamu mau lihat mantan pacar Ibu?” Tanya Ayah kepadaku.


Aku pun binggung mendengar pertanyaan Ayah, dan tak lama kulihat tangan Ibu yang sudah berada di perut Ayah. Ayah sedikit meringis karena pukulan itu, kemudian Ayah tersenyum kaku kepada Ibu. Disisi lain, Ibu masih menatap Ayah dengan raut wajah kesalnya.


“Enak aja, bukannya disana ada mantan kamu. Sih Martina!” Sindir balik Ibu.


Mendengar pernyataan Ibu, Ayah pun mengerutkan dahinya. Dan mereka berdua lantas saling bertatapan sinis, lalu tersenyum kearah satu sama lain dan tertawa.


Entah kenapa aku ikut tertawa, bersama mereka. Walaupun aku tidak mengerti, maksud dari obrolan mereka. Dan Ayah berjanji mengajak ku untuk ke kebun binatang.


“Ayo kita lihat Martina.” Teriak Ayahku.


Semuanya terasa baik-baik saja, seakan tidak ada kesedihan yang menempel sedikitpun. Bagai sebuah teriakan di ruangan yang kosong, tanpa isi. Teriakan itu, menggema di ruangan tersebut, dan yang terdengar ditelinga, hanya harapan yang terselip kebahagian yang menyelimuti saat teriakan tersebut menggema di telinga.


Sampai suatu hari, sebuah penglihatan aneh muncul. Dan itu adalah awal, dari semua kesedihanku.


Aku ingat pagi itu, sebenarnya tidak ada yang aneh pada pagi itu. Hari itu adalah hari minggu, dan seperti anak lainya, aku hanya tergeletak santai diruang tamu sambil menonton serial kartun di televisi. Sungguh tidak ada yang aneh pada hari itu, sampai ponsel milik Ayahku berbunyi.


Sebuah telepon, dari perusahaan tempat Ayah bekerja, yang tampaknya sangat penting. Karena setelah telepon itu, Ayah dan Ibu harus bersiap untuk pergi ke kantor.


“Sayang, ayo siap-siap.” Pinta Ayah.


Mendengar permintaan Ayah, Ibu pun lantas menaruh celemek yang ia kenakan, dan masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Setelah mereka siap, aku pun mengantar mereka berdua ke teras.


Dan penglihatan aneh itu muncul, bersamaan saat aku menatap mata kedua orangtuaku. Sebuah penglihatan mengerikan, yang takkan aku lupakan seumur hidupku.


Dimana mobil Audi bewarna putih milik Ayah, akan mengantarkan mereka menuju sebuah kecelakaan tragis dan merenggut mereka dari hidupku. Saat aku mendapat penglihatan itu, awalnya aku hanya menghiraukannya dan menganggap itu hanya sebuah imajinasi ku. Tapi aku meragu, karena peristiwa itu terlihat sangat nyata.


Dan saat aku tersadar, aku melihat senyuman Ayah dan Ibu di hadapanku.


Aku pun sesegera mungkin membuang penglihatan dan pikiran itu, dari benak ini. Semuanya akan baik-baik saja, tapi entah kenapa aku masih saja terus-menerus memelihara penglihatan dan pikiran itu di kepala.


Setelah melepas mereka pergi. Perasaanku terus beromansa, bagai sebuah tali yang tak berujung.


Aku pun terus mengikuti tali tersebut, tapi aku tak kunjung menemukan ujung dari tali itu. Dan aku terus mengulanginya, lagi dan lagi. Terasa sangat jauh, sampai akhirnya aku menemukan ujung dari tali tersebut saat Paman datang ke rumahku.

__ADS_1


Dengan kaos oblong berwarna biru, Paman datang menjemput ku, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dan saat aku melihat wajah Paman kala itu. Wajah Paman mengisyaratkan, suatu hal buruk telah terjadi, dan itu sangat menggangguku.


Serentetan pertanyaan pun lantas mengisi, namun mulut ini terkunci karena ketakutan ku akan jawaban dari segenap rasa penasaranku itu.


Paman pun lantas membawaku pergi dengan mobilnya, dan tanpa daya, aku hanya mengikuti arus bersama dengan perasaan cemas yang memenuhi diri ini. Mobil Paman pun terus berjalan seraya membawa serentetan pertanyaan di benakku, sebuah pertanyaan yang tidak ingin aku dengar jawabannya.


Dan perasaanku pun semakin berkecamuk, saat melihat wajah Paman yang tak menentu di tengah kemudi. Wajahnya terus beranologi, seraya sibuk mengatur gerak tubuhnya yang tak alami.


Mobil Paman lantas beranjak memasuki basemen parkiran sebuah gedung, kulihat sunyi sorot mata Paman kala itu. Sementara mata ini, terus disibukan oleh mobil-mobil yang tersusun rapih.


Disisi lain Paman terus mencari sebuah sisi. Tidak menemukan lahan parkir yang ia inginkan, dia jadikan lahan parkir sebagai ruang privasi untuknya.


Setelah mobil berhenti, Paman lantas menarik nafasnya. Kemudian ia tersenyum seraya menatapku, senyuman itu sedikit menenangkan ku. Kita berdua pun turun dari mobil.


Paman lantas memegang erat tanganku, dan kita berdua pun masuk ke dalam sebuah gedung. Saat kaki ini menapaki gedung tersebut, tercium bau yang khas, sebuah bau yang berciri dan harapanku perlahan hilang.


Aku terus melewati lorong demi lorong, kulihat ramai tatapan sendu dari hingar-bingarnya manusia yang saling menguatkan. Sebuah skema yang tersusun rapih, dari rumah para dokter berbaju putih. Langkah kita lantas terhenti di depan sebuah ruangan, disana aku mendengar banyak suara tangisan.


Paman pun bergetar, hanya menatap dan terus menatap pintu ruangan itu. Dan genggamannya memudar seiring berjalanya waktu, dan kembali menguat saat dia menarik diriku untuk masuk ke ruangan itu. Gemercik tetesan air mata pun mulai membasahi wajah Paman, ia menangis. Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya kala itu, dan dia terus mengulanginya dan terus mengulanginya.


“Semuanya akan baik-baik saja.” Katanya.


Langkah kita pun semakin dalam memasuki ruangan itu, bersama dengan gemetarnya kaki Paman. Langkah kita lantas berhenti, dan kita berdua berdiri di suatu sudut ruangan itu. Di hadapanku, kulihat ada dua buah tempat tidur yang ditutupi kain bewarna putih diatasnya.


Melihat hal itu, serentak terjelma sebuah pertanyaan di benakku. Apakah aku harus menangis seperti Paman dan seperti semua orang yang berada di ruangan ini.


Tapi mengapa air mata ini tidak mengalir sedikit pun, dan ketika aku mengetahui jawabannya, kebahagiaanku pun perlahan sirna.


**


Setelah kejadian itu, penglihatan ku kembali datang dan datang seraya menenggelamkan ku kepada sebuah rasa sakit yang teramat sakit. Aku sering memimpikan kejadian itu, sebuah penglihatan tentang kecelakaan yang menimpa kedua orangtuaku.


Mimpi buruk yang terus menghantuiku setiap malam, dan membuatku tidak ingin memejamkan kedua mata ini, meski alam mimpi telah memanggil.


Aku pun bertanya-tanya, apa maksud Tuhan tentang semua ini. Dan kenapa harus aku, dari jutaan umat manusia yang ada di bumi, kenapa harus aku.


Dan dari jutaan umat manusia yang ada di bumi, kenapa harus aku yang melihat bagaimana kedua orangtuanya meninggal.

__ADS_1


Kadang terlintas bait-bait pertanyaan yang tercipta di benakku. Sebuah pertanyaan bodoh, yang seharusnya tidak aku teduh kan di kepala ini. Pertanyaan tentang, apakah aku akan tahu, kapan dan dimana aku akan mati. Dan apakah aku akan melihatnya, bagaimana diriku akan mati. Dan hal itu, membuat hidupku serasa di neraka.


__ADS_2