WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 6) SEJAK KEJADIAN ITU, AKU MENGABAIKANYA


__ADS_3

SEJAK KEJADIAN ITU, AKU MENGABAIKANNYA.


Setelah pulang sekolah, aku selalu menemani Ibu Ani beraktivitas di dapur, seraya menunggu Yusuf pulang sekolah. Aku kadang bosan, karena Ibu Ani hanya fokus dengan masakan nya dan membuatku tidak tahu harus melakukan apa-apa.


Namun Yusuf tidak pernah telat, dan selalu menyelamatkanku dari keheningan yang menyiksa saat aku bersama Ibu Ani.


Hari ini Yusuf datang dengan membawa selembaran kertas di tangan nya, dan dengan lantang ia mengatakan bahwa dia akan menjadikan Ibu Ani seorang tuan tanah, kata itu membuat senyum di wajah Ibu Ani.


Aku pun lantas bertanya tentang selembaran itu, dan dengan menggebu-gebu, Yusuf menceritakan isi dari selembaran itu, kepada kami berdua.


Arsenal Soccer School Indonesia adalah sekolah sepakbola yang menfasilitasi anak-anak muda Indonesia yang ingin memulai pelatihan sebagai pemain sepakbola professional. Tidak hanya sebagai sarana dalam belajar sepakbola, sekolah sepakbola ini juga menjembatani para anak didiknya untuk berkarir menuju Tim Profesional.


Dan Yusuf sangat bersemangat karena Arsenal Soccer School Indonesia membuka sebuah beasiswa untuk anak-anak berbakat dengan mengadakan sebuah seleksi massal, dan program ini tidak di pungut biaya.


Setelah membuat kegaduhan di dapur, Yusuf lantas pergi ke lapangan sepakbola. Dan seperti biasa, aku mengikuti Yusuf dan pergi ke lapangan bersamanya. Selain sepakbola, Yusuf juga suka dan hobi membaca sebuah buku.


Dia pernah berkata kepadaku, sebuah kalimat yang dikutip dari buku yang ia baca. Jangan lakukan sesuatu yang mudah aku lakukan, atau sesuatu yang popular, tapi lakukan sesuatu yang aku suka. Dan saat ini, Yusuf sedang melakukanya. Ia sedang mengejar mimpinya, untuk menjadi seorang pesepakbola professional.


Hari demi hari, Yusuf terus berlatih dan terus membual akan mimpinya. Dan semangat Yusuf semakin bertambah, saat Ibu Ani membelikan sepasang sepatu sepakbola untuknya. Yusuf sangat senang akan hadiah itu, ia pun memakai sepatu itu kemana punia pergi, saat di lapangan, saat mandi, bahkan sepatu itu ia pakai saat ia tidur.


Dan setelah penantian panjang, hari ini adalah hari seleksi. Aku terbangun dari tidurku, karena bunyi suara alarm yang Yusuf pasang. Yusuf mengatur alarm pukul 5 pagi. Dan aku sangat membencinya pagi itu, karena seleksi itu baru akan dimulai pukul 10 pagi.


Dengan semangat, ia lantas mengambil sepatu bola miliknya dan bersiap untuk latihan ringan pagi itu. Dengan mata yang masih digerayangi rasa kantuk, aku hanya mengikutinya dan kita berdua pergi ke teras rumah. Yusuf sangat semangat memulai latihan pagi itu, dan aku hanya menatapnya.


Serentak aku sangat terkejut, saat aku menatap Yusuf berlatih. Penglihatan ku akan masa depannya muncul, dan membuatku lantas terjaga. Di Penglihatan ku, aku melihat Yusuf akan mengalami sebuah insiden saat ia mengikuti seleksi.

__ADS_1


Sebuah tackle horor dari seorang pemain bernomor punggung 5, akan membuat kaki Yusuf patah. Dan setelah peristiwa itu, Yusuf tidak bisa berjalan dengan normal lagi.


Dan ia akan mengabiskan sisa hidupnya, dengan berada di sebuah kursi roda.


Saat aku tersadar, aku masih melihat euforia di wajah Yusuf. Langit merenggut mimpinya, dan senyum di wajahnya. Tersiksa aku hanya dengan melihatnya, dan membayangkan senyumnya akan hilang dari wajahnya, membuatku sulit untuk bernafas.


Aku hanya pergi meninggalkan Yusuf, aku tak kuat walau hanya dengan menatapnya. Ku baringkan kembali tubuhku di kasur, dan diam akan sebuah kenyataan pahit. Terlintas berbagai siasat di benakku, untuk mencegahnya untuk tidak pergi ke seleksi itu.


Tapi sebuah pertanyaan kembali datang, apakah peristiwa mengerikan itu bisa dicegah. Bergerumul aku akan siasat yang terus lalu lalang di pikiranku. Dan aku pun membulatkan tekad untuk mencegah hal itu terjadi. Aku tidak mau lagi, kehilangan orang yang aku sayangi lagi.


Pagi mulai mengering, dan Yusuf kembali kerumah dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Setelah menaruh sepatu sepakbolanya di rak, ia lantas berjalan masuk kedalam kamar mandi. Tubuh ini, serentak tergerak saat melihat sepatu bola milik Yusuf.


Dan tanpa aba-aba, aku mengambil sepatu itu dan bergegas melangkahkan kakiku untuk pergi keluar dari rumah. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan, dengan harapan ia tidak akan pergi ke seleksi itu, karena sepatunya tidak ada.


“Kamu mau ngapain?” Tanya Yusuf seraya memegang tanganku.


Pertanyaan itu seketika membuat air mataku tumpah, aku hanya bisa menangis dan terus menangis, berharap Yusuf mengerti maksud dari tangisanku.


Aku memang menyembunyikan kemampuanku dari mereka, aku takut sikap mereka akan berubah, jika mereka tahu, aku bisa melihat masa depan. Aku tahu aku memang egois, namun tidak ada niat lain, selain aku hanya tidak ingin kehilangan mereka.


“Rasya kamu kenapa nangis?” Tanya Yusuf.


Pertanyaan Yusuf kembali menyiksaku, serentak timbul beragam pertanyaan di benakku. Apakah ia akan percaya dengan apa yang akan aku katakan.


Dan apakah ia akan mengurungkan niatnya, jika aku mengatakan bahwa ia akan celaka, jika ia pergi untuk mengikuti seleksi. Terdesak aku akan kebimbangan, namun aku tidak bisa berjudi mengenai hal ini.

__ADS_1


“Maafin aku Kak.” Kataku sambil menepis tangan Yusuf.


Hanya ini yang bisa aku lakukan, untuk menyelamatkan Yusuf dari nestapa. Aku pun lantas pergi keluar dari rumah seraya membawa sepatu bola milik Yusuf. Panasnya aspal dan batu krikil jalanan, terus menjegal ku langkahku.


Dari arah belakang, kulihat Yusuf terus mengejar ku. Melihat hal itu, aku pun hanya berlari dan berlari sampai langkahku di hentikan oleh ramainya mobil dan sepeda motor yang berlalu-lalang di hadapanku.


“Rasya, bahaya!” Teriak Yusuf.


Peringatan dari Yusuf, tidak menggetarkan niatku. Sedikit demi sedikit, kakiku pun melangkah masuk kedalam jalan raya yang hampir penuh di isi mobil dan motor yang berlalu lalang.


Klakson mobil dan motor sedikit menjegal ku dan menghardik langkahku untuk terus menjauh dari kejaran Yusuf yang berada tepat di belakangku. Tapi serpihan penglihatan akan masa depan Yusuf, menguatkan langkah kakiku dan ku jadikan bahan bakar untukku menyebrang ke sudut jalan raya.


Lirih dan tak seirama langkah kakiku, saat berusaha menjauh. Beberapa kali langkahku pun harus terhenti, untuk menghindar dari sambaran mobil dan motor.


Namun ketakutan ku akan penglihatan masa depan Yusuf, terus membuatku melangkah.


Aku terus berlari ke ujung jalan, sampai sebuah suara keras menghentikan langkahku. Dan saat aku menoleh ke sumber suara itu, aku sadar Tuhan telah membunuhku sekali lagi. Aku hanya bisa menatap kejadian itu, dan ku lihat Yusuf tergeletak dan tidak berdaya di atas aspal. Darah pun mulai menyelimuti tubuh nya, tak lama sekumpulan orang mulai mengerumuni Yusuf.


Dan hari itu, adalah hari terakhir aku melihat Yusuf. Aku ingat sebuah pepatah lama yang sering Yusuf katakan kepadaku, dan aku membencinya. Ketika manusia berencana, Tuhan tertawa. Aku yang berniat ingin menyelematkan Yusuf, karena percaya bahwa takdir bisa di rubah, malah membunuhnya dengan tanganku sendiri. Yusuf meninggal, setelah dua minggu koma dirumah sakit.


Dan itu semua salahku, mungkin ini hukuman untukku, karena mencoba mengubah sebuah garis yang sudah di tetapkan.


Dan setelah Yusuf meninggal, Ibu Ani pulang ke kampungnya. Dan awan gelap mulai kembali, setelah pergi sejenak. Setelah kejadian itu, aku hanya bisa mengutuk diriku. Karena diriku, Yusuf meninggal.


Dan karena diriku, Ibu Ani kehilangan senyum dan harapannya. Dan aku tidak punya pilihan lain, selain berdamai dengan garis itu. Dan sejak saat itu, aku mulai mengabaikannya, setiap penglihatan masa depan yang aku lihat.

__ADS_1


__ADS_2