
LANGIT KEMBALI MERUNDUNG KU
Saat aku tersadar, aku hanya melihat Frisca yang masih tertidur di atas sofa. Aku masih tidak mengerti akan potongan masa depannya yang terakhir aku lihat, alasan sesungguhnya yang membuat ia menolak lamaran ku. Aku juga penasaran akan Pasha, siapa itu Pasha.
Kenapa diriku dan Frisca menangis, saat membahas nama itu. Apakah Pasha anakku dan Frisca. Tapi kenapa Frisca tidak menginginkannya, aku sungguh ingin mengetahuinya.
Ditengah pikiran ini, aku di kejutkan oleh tatapan Frisca. Sambil berbaring di atas sofa, ia menatapku. Aku yang terkejut pun hanya berusaha menghindari tatapan itu, namun dengan tiba-tiba ia meraih tanganku. Aku pun tidak punya pilihan selain membalas tatapannya.
“Kamu udah lihat?” Tanya Frisca.
Aku hanya terdiam akan pertanyaan itu, tatapan serta gesturnya makin membuatku yakin bahwa ia sangat tidak menginginkan takdir baru itu. Aku pun lantas ingat kata yang terakhir yang ia ucapkan, dia ingin aku merubah takdir itu.
Tampaknya dia sangat tidak menyukai takdir itu, takdir barunya bersamaku. Karena itu aku merasa bersalah kepadanya, dan aku tidak berniat untuk merubah takdir itu. Aku tidak punya pilihan, hanya ini satu-satu caraku untuk memastikan takdir baik Keira akan berjalan.
__ADS_1
Frisca lantas beranjak dari posisi tidurnya, ia lalu terduduk dan menatapku seraya menguatkan pegangannya di tanganku. Dengan raut wajah tak menentu, ia menatapku.
“Kita harus merubahnya.” Pinta Frisca.
Aku hanya terdiam mendengar permintaanya itu, dan sadar bahwa aku sungguh egois. Karena aku masih tidak berniat merubahnya, karena aku takut jika aku kembali merubahnya, takdir itu akan kembali ke Keira.
“Maaf.” Kataku.
“Pasti karena Keira?” Tanya Frisca.
Hanya terdiam akan pertanyaan itu, dan aku tidak bisa membantahnya. Karena prasangka Frisca benar, semua itu aku lakukan demi Keira. Karena aku tidak ingin ia kembali terseret akan takdir penuh nestapa itu, dan menangis disisa hidupnya.
“Pasti karena dia kan?” Tanya Keira.
__ADS_1
“Iya.” Jawabku.
Jawabanku membuat ia beranjak dari sofa, lalu berdiri menatap dengan raut wajah penuh amarah. Lalu ia mengayunkan tangannya, dan menamparku yang masih terduduk di sofa. Aku tidak punya pilihan lain, selain menerima tamparan itu bersama rasa bersalahku.
“Kamu brengsek, Rasya. Kamu Egois! ” Kata Frisca.
Dan saat aku menatapnya, aku akhirnya mengerti sikap ini. kenapa ia tidak menginginkan takdir ini, dan kenapa ia ingin merubahnya. Saat aku menatap wajah yang penuh amarah itu, penglihatan akan masa depannya muncul, dan tanpa daya aku terseret akan potongan akan masa depannya itu.
**
Malam, disebuah ruangan yang berciri, sebuah tempat yang paling aku benci di dunia. Karena disana banyak sekali tangisan, aku hanya berdiri disebuah kamar mayat sebuah rumah sakit. Di hadapanku, aku hanya melihat satu buah tempat tidur berselimut kain putih di atasnya.
Dan aku sadar, bahwa ini adalah sebuah nestapa di takdir lainya, hanya itu yang ada di benakku saat menatap itu. sekali lagi, aku kehilangan sebuah harapan, dan aku sungguh tidak siap untuk melihat siapa yang berbaring di tempat tidur berselimut kain putih.
__ADS_1