
KEMBALINYA MESIN PEMBAKAR WAKTU.
Waktuku berjalan lambat, hari demi hari berganti. Dan aku hanya menonton film lama milik Ayahku, yang entah sudah berapa kali sudah aku tonton sebelumnya. Dan setelah tiga hari terombang-ambing, tanpa arah dan tujuan, hari yang kutunggu telah tiba.
**
Dan setelah tiga hari terombang-ambing, tanpa arah dan tujuan, hari yang kutunggu telah tiba.
Kulihat sekolah terlihat sepi, tampaknya aku terlalu pagi datang ke sekolah hari ini. Di dalam kelas, kulihat bangku-bangku pun masih tertumpuk rapih di atas meja, serta papan tulis pun masih mengisahkan proses belajar-mengajar tiga hari yang lalu.
Tanpa sadar, aku mengambil ponsel yang berada di sakuku dan memfotonya. Walaupun aku tidak berniat untuk membaca ataupun mempelajarinya. Hanya saja, aku menginginkannya. Aku lantas berjalan menuju tempatku duduk.
Tempatku duduk di area belakang kelas, tempat paling aman dan nyaman untukku tidur. Aku lantas menurunkan bangku ku, dan duduk. Tak lama terdengar suara langkah kaki berjalan menuju ruang kelas, dan kulihat itu Keira.
Dengan rambut yang diikat nya seperti ekor kuda, serta sepatu warna merah jambu yang ia pakai, tampak pas dan serasi dengan seragam sekolah yang ia kenakan. Keira terlihat cantik hari ini. Keira adalah teman sekelas ku dan ia juga siswi paling populer di sekolah.
Keira mempunyai kulit yang putih, dan rambutnya lurus, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Semua aspek itulah yang membuatnya menjadi primadona di sekolah. Banyak siswa di sekolahku, berlomba untuk merebut hatinya. Karena selain cantik dia juga pintar. Dan selain itu dia juga aktif dalam keorganisasian, Keira menjabat sebagai sekertaris OSIS di sekolah.
__ADS_1
Kata lain yang menggambarkan dirinya, adalah dia sempurna.
Keira masuk ke dalam kelas dan berjalan kearah tempat duduknya. Karena mata kita bertemu, aku mencoba bersikap ramah dengan memberi senyum kepadanya.
Tapi setelah aku melakukan itu, aku langsung menyesalinya, karna ia hanya dingin menatapku. Tempat duduk Keira, berjarak tiga bangku dari bangkuku.
Dan alangkah kagetnya saat dia duduk dan menaruh tasnya, tanpa aba-aba dia tiba-tiba menoleh ke arahku.
“Eh … siapa nama lu? tolong ambilin absen dong di ruang guru.” Pinta Keira dengan wajah dingin.
Aku juga lupa membawa dasi, aku takut mendapat poin pelanggaran.
“Ehmm, Rasya. Tolong ambilin absen dong di ruang guru.” Kata Keira lagi.
Aku kembali diam dan pura-pura tidak dengar. Dan kulihat dia mulai emosi, tak lama Keira mulai beranjak dari bangkunya, dan berjalan menuju kearah ku.
Hanya menghela nafas, karena mengetahui masalah ini akan membesar. Sungguh aku hanya ingin hidup tenang di sekolah. Aku pun berfikir, harusnya aku mengiyakan saja permintaanya tadi, sehingga urusan ini tidak menjadi panjang.
__ADS_1
Dan setelah dia sampai di depan mejaku, dengan amarahnya Keira memukul mejaku dengan keras. Dan saat aku melihat matanya, penglihatan ku akan masa depannya muncul.
**
Di sebuah sudut rumah sakit, tepatnya di ruangan mayat. Keira menangis, didepan sebuah tempat tidur beralaskan kain putih diatasnya. Di tempat itu, dia menangis seorang diri.
Dia terus berucap kata penyesalan, dan kulihat seorang anak laki-laki tanpa nyawa di bawah kain putih itu. Aku pun terkejut melihat itu, melihat akan gambaran mengerikan masa depannya.
Di masa depan, Keira harus kehilangan anaknya, kehilangan buah hatinya.
Dan saat aku tersadar, aku melihat Keira berada di depanku. Aku yang kaget pun lantas mendorongnya, untuk menjauh dariku.
Karena kuatnya dorongan ku, Keira terjatuh ke lantai. Ia tampak terkejut, dan tak lama ia menatapku dan kemudian ia menangis. Melihat hal itu, aku yang masih terguncang akan masa depannya yang baru aku lihat, tidak tahu harus berbuat apa. Dan dengan tanpa perasaan, aku hanya pergi meninggalkannya.
Di tengah langkahku, rasa bersalah mulai menghampiri. Dan sungguh aku tidak sengaja melakukanya. Inilah yang membuatku tidak ingin bersahabat dengan siapa pun.
Mempunyai seorang teman, berbagi canda tawa atau sekedar membagi keluh kesah akan sekolah. Bagiku itu sesuatu hal yang mustahil aku raih, karena nantinya penglihatan itu akan merenggut mereka dariku, seperti orang aku sayangi.
__ADS_1