
LOVELY HORRIBLY
Malam di depan rumah Paman, aku berdiri bersama rasa sakit di hatiku. Setelah kejadian itu, aku lantas mengemas segala baju dan bergegas ketempat ini. Aku melakukan ini bukan karena aku membencinya, ketakutan ku bahwa dia akan menjalani takdir akan masa depan itulah yang melatarbelakanginya.
Menjauh sejauh mungkin darinya, dan membuatnya terhindar dari takdir itu. Walaupun aku tahu, bahwa pilihan ini akan sangat menyakitiku. Bahkan selama aku berjalan ketempat ini, aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku.
Karena aku sudah benar-benar lelah akan semuanya. Di setiap momen di hidupnya, aku bersyukur. Namun disisi lain, aku juga menyesali semuanya. Karena aku akan membuatnya menangis, dan akhir dari cerita cinta ini sudah bisa kulihat.
Saat pintu terbuka, senyum dari Paman tidak bisa menyembuhkan rasa sakit ini. Aku sungguh lelah, dan hatiku sangat sakit. Rasa sakit itu membuatku sulit untuk bernafas, rasanya akan lebih mudah jika aku hanya menghempaskan tubuh ini, menuju ke kedamaian yang abadi.
Di tengah rapuhku, Paman hanya memberikanku senyumannya, tanpa bertanya apapun. Paman lantas mengajakku masuk ke dalam kerumahnya. Saat aku menginjakan kaki dirumah ini, keheningan menyambut ku. Rumah ini sama seperti rumahku, sangat besar namun kosong. Dua tahun setelah kepergian orangtuaku, Paman juga harus kembali kehilangan orang yang ia kasihi. Istrinya juga pergi meninggalkannya karena penyakit yang ia derita.
Saat aku melihat Paman, aku bisa melihat diriku sendiri. Tuhan tidak adil kepada kami berdua, ia terus mengambil orang yang kita kasihi di hidup ini. Jika kita pikir kembali, kita tidak mempunyai sebuah dosa yang besar. Tapi mengapa Tuhan begitu kejam kepada kita. Hadiah dari sebuah kebaikan adalah kebaikan, begitu pula sebaliknya.
Namun melihat kenyataan ini, aku mengutuk garis takdir yang begitu kejam terhadap kita. Paman pernah berkata, bahwa balas dendam terbaik adalah menjalani hidup kita dengan baik.
__ADS_1
Tapi bagaimana aku bisa melakukanya, jika aku pikir kembali aku sudah kehabisan nafas walau hanya mengingatnya. Kadang kala kita dipaksa kalah akan sebuah keadaan, dan ada kalanya kita dipaksa maju akan sebuah keadaan.
Dunia seperti itu, karena itu aku membencinya. Tidak semua yang kita inginkan berjalan mulus, berjalan sesuai keinginan. Dan aku dipaksa untuk berlari ke langit gelap, dimana aku tidak bisa menemukan senyumannya. Malam, disebuah ruang tamu, dua orang yang terluka akan dunia. Saling menatap dan saling menguatkan satu sama lain.
“Kamu istirahat sana, besok kan kamu sekolah.” Kata Paman.
Setelah mendengar perkataan Paman, aku pun berniat mengutarakan niatku. Sebuah niat untuk membuat senyum di wajah Keira, dan niat itu adalah usahaku untuk menjauh darinya.
“Paman, Rasya ingin pindah sekolah.” Jawabku.
Paman lantas pergi meninggalkanku yang masih terduduk di atas sofa bewarna coklat muda. Aku pun bersyukur karena Paman langsung mengiyakan niatku itu, namun walaupun seperti itu aku sangat paham bahwa malam ini akan terasa sangat panjang.
Seperti saat ini, pikiran tentang dirinya, langsung mengisi kepala, walau aku hanya menatap ponsel milikku. Walau baru beberapa jam, aku sudah merindukannya. Bagaimana ini, Keira terus menstimulus diriku untuk berjalan kearahnya. Sementara aku tahu betul, itu tidak mungkin aku lakukan.
Hanya bisa mengubur keinginan itu, dan kembali mengecewakan diri. Aku lantas mematikan daya ponselku dan mengeluarkan kartu ponselku. Aku akan menghapus semua jejak ku di hidup Keira. Seraya berharap, bahwa garis takdir akan berubah.
__ADS_1
Aku hanya menatap kartu ponsel itu, aku ingin membuangnya dan menutup semua akses. Karena aku tahu, aku hanya bisa membuat lara di hatinya. Tapi kenapa aku tidak sanggup membuangnya, meskipun entah berapa kali aku mendorong keras diri ini. Namun rasanya tetap sulit untuk mengerti fakta itu, fakta bahwa aku dan dirinya adalah sebuah luka.
Aku telah berhasil menghentikan nestapa
itu, bahkan sebelum nestapa itu di mulai. Namun kenapa, duniaku tampak kosong.
Dan aku juga telah berhasil, membakar bab sedih di kisah hidupmu. Namun kenapa, air mata ini datang. Perpisahan ini adalah jalan terbaik, namun kenapa kenangan semakin
kuat.
Mungkin karena aku belum pernah dan aku belum mampu, mendefinisikan kebahagiaan lain sesempurna saat aku bersamanya. Dan mungkin akan terdengar sedikit gila. Tanpa hadirnya Keira di hidupku, semua hal mulai
hancur dan berantakan.
Dan seperti biasa, dunia ini tidak berhenti untuk kesedihanku. Luka akan getirnya hidup, membangunkan seorang pemimpi. Dan membuat ia, tidak bisa bermimpi lagi.
__ADS_1