WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 65) MASA DEPAN KITA BERDUA


__ADS_3

MASA DEPAN KITA BERDUA


Namun saat aku menatapnya, secara tiba-tiba aku di kejutkan akan takdir akan masa depan Frisca. Bukan karena masa depannya yang pilu dan penuh nestapa, melainkan karena aku melihat diriku ada di masa depannya.


Disebuah ruang tamu, aku melihat diriku duduk di depan sebuah laptop. Begitu fokus, aku beberapa kali membenarkan kaca mataku. Dengan kaca mata yang sama, seperti yang sering aku gunakan. Sebuah kaca mata minus yang sering aku gunakan untuk mengaburkan pandanganku saat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarku.


Aku tidak mengerti, kenapa aku melihat diriku dimasa depannya. Disana aku terduduk di sebuah sofa bewarna coklat tua, tak lama sebuah kertas mengalihkan pandanganku. Disana aku tersenyum menatap kertas itu, cukup lama dengan senyum yang lantas menghiasi wajah.


Aku pun bertanya-tanya, apa yang aku lihat. Dan apa kertas itu, rasa penasaran datang ke dalam benakku. Dan saat aku ingin mendekat kearah diriku untuk mengetahui apa kertas itu. Aku dikejutkan saat melihat Frisca, dari arah dalam rumah.


Dia berjalan seraya membawa secangkir kopi di tangannya, sambil tersenyum kearah diriku yang terduduk di sebuah sofa. Ia lantas duduk, di sampingku dan menaruh kopi di atas sebuah meja.


Kulihat diriku tersenyum kearahnya, Frisca membalas senyumanku dengan mengaitkan tangannya di lenganku. Aku tidak mengerti apa yang aku lihat, kenapa aku tersenyum kepada Frisca. Hanya terdiam dan terus melihat potongan masa depan itu, potongan masa depan Frisca. Sambil mengaitkan tangannya, Frisca menatap diriku yang tak lama menaruh kertas itu di atas meja.

__ADS_1


“Kamu mau dateng?” Tanya Frisca.


“Boleh gak?” Tanyaku.


“Emang kalo aku larang, kamu bakal nurut?” Tanya Frisca balik.


Aku menatap percakapan itu dengan kebingungan yang mengisi, kenapa ada aku di masa depannya. Dan kenapa aku terus memberikan senyumanku kepadanya, dan kenapa aku melihat diriku dan Frisca dengan keintiman ini. Ada apa ini, dan apa yang terjadi. Apakah dimasa depan, aku dan Frisca saling menyukai. Karena aku mengenal tatapan itu, ada di cinta di dalamnya.


Tatapan yang sama, yang kuberikan kepada Keira selama ini. Di tengah kebingunganku, aku masih disibukan menatap diriku dan Frisca disana. Aku terus tersenyum kearah Frisca, begitu juga sebaliknya.


“Menurut kamu?” Tanyaku balik.


Aku lantas melihat diriku, menarik tangan Frisca. Tarikan itu membuat tubuh Frisca bergerak kearah diriku yang duduk di samping ku. Mereka kemudian saling menatap dan melempar senyum kepada satu sama lain. Di lanjutkan aku melihat diriku secara membabi buta mencium kening, pipi dan bibir Frisca.

__ADS_1


Aku sungguh terganggu saat menatap kejadian itu, karena aku terlihat bahagia disana. Bagiku ini cukup membingungkan, fakta bahwa akan aku menyukainya dan fakta aku bisa melupakan Keira. Karena itu aku tidak mengerti, apakah ini sungguh terjadi dimasa depan. Di tengah kebingunganku, aku masih di sibukkan melihat keintiman itu.


Potongan masa depan ini mengejutkanku, sekedar berkata-kata. Rasanya tidak mungkin aku bisa melupakan Keira, tapi yang aku lihat sekarang ini mengatakan itu. Bahwa aku sangat menyukai Frisca, begitu juga sebaliknya. Kemudian aku melihat diriku beranjak dari sofa, dan mengangkat tubuh Frisca dengan kedua tanganku. Lalu berdiri dan menatap Frisca dengan senyum, disisi lain Frisca tersenyum malu-malu saat merespon tindakanku itu.


“Ihhh kerjain novelnya.” Pinta Frisca sambil tersenyum.


“Gak penting.” Jawabku.


Sambil mengangkat tubuh Frisca, diriku tersenyum kearahnya. Diriku lantas mencium bibir merah Frisca, tanpa perlawanan berarti, Frisca menerima ciuman itu. Kata yang menggambarkan wajah diriku dan Frisca pada momen itu, adalah kebahagian.


Tak lama aku melihat diriku, beranjak seraya membawa tubuh Frisca masuk lebih dalam kearah rumah. Lagi-lagi hanya senyuman yang tersirat di wajah mereka berdua, dan membuatku tersesat akan beragam opini.


Ditengah ruang tamu, aku hanya terdiam bersama kebingungan hebat yang mengisi kepala ini. Diantara banyaknya pikiran yang membebani, hanya satu pertanyaan yang terlintas di kepala.

__ADS_1


Apakah ini masa depanku nanti, kenapa aku sangat bahagia disini. Walaupun awalnya membuatku linglung, dan tidak percaya akan apa yang aku lihat. Aku menyukai potongan itu, karena aku kembali tersenyum di dalamnya. Dan saat aku melihat kertas itu, kertas yang membuat diriku tersenyum. Kertas itu adalah undangan pernikahan dari Keira.


Aku pun bersyukur karena kita berdua, akan tersenyum menatap masa depan. Dan walaupun sangat mendadak, aku sangat menyukai masa depan baru ini.


__ADS_2