
WANITA BERISIK DI DUNIA KU
Kunjungan Keira kali ini, sangat mengganggu diriku. Sementara aku masih di sibukkan menatapnya di hadapan ku. Aku pun terus berusaha untuk menyangkal perasaan kepada Keira. Namun semakin aku berusaha untuk menyangkalnya, semakin aku mengenal diriku. Mata ini diam-diam melihat kearahnya. Aku pun terus mencari definisi tentang cinta yang ingin aku yakini, tapi bagaimanpun aku berusaha mencarinya, aku tetap tidak bisa menemukanya.
“Menurut lu, gua harus gimana?” Tanya Keira.
Pertanyaan Keira kembali menggangguku, siasat demi siasat mulai muncul di benakku untuk menggangu rencana Keira. Walaupun disisi lain, aku sangat ingin Keira menang dalam pemilihan itu, karena itu keinginannya. Tapi memikirkan syarat yang di berikan Romi, membuatku merasa tak nyaman. Aku pun tidak mengerti akan diriku, apakah aku takut kehilangan Keira, aku pun tidak mengetahuinya.
Dan jika aku memikirkan lagi, syarat yang di berikan Romi, hal itu membuatku yakin, bahwa Romi bukan lah pria baik. Karena jika ia pria baik, dia tidak akan melakukan itu. Karena status Romi masih berpacaran dengan Arum.
Aku masih terdiam akan pertanyaan yang di berikan Keira, sementara aku terus melihat senyum di wajah Keira. Dan tanpa sadar, aku larut akan senyuman itu. Aku tidak mengerti diriku hari ini, apakah karena aku terlalu lelah atau aku telah jatuh cinta kepada Keira.
Semoga karena aku terlalu lelah lah jawabannya, walaupun disisi lain, aku sungguh tidak menginginkan Keira berpacaran dengan Romi.
Terlintas bait-bait pertanyaan tercipta di benakku, apakah dia akan berhenti jika aku mencegahnya. Tapi bagaimana jika dia berhenti, apakah aku bisa berjalan kearahnya. Dengan suratan kejam telah memenuhi takdirnya, apakah aku akan sanggup. Tapi aku sungguh, tidak rela melihatnya bersama Romi. Aku begitu egois, karena itu, aku mengutuk diriku.
“Jangan … jangan lu lakuin itu.” Jawabku.
“Kenapa?” Tanya Keira.
__ADS_1
Pertanyaan Keira membuat detak jantungku bergetar, dan pertanyaan itu juga yang membuatku menjadi gila. Sementara detak jantungku tidak karuan, aku masih disibukan oleh tatapannya. Mengambil langkah yang jauh, apakah akan menjadi happy ending di akhir cerita.
Aku pun tidak mengetahuinya, yang aku tahu, aku tidak ingin kehilangan Keira. Aku pun memberanikan diri menatapnya, dan tak lama setelah aku menatap matanya. Masa depan Keira mengundangku dan mengajak diriku untuk bermain bersamanya.
**
Disebuah rumah bewarna biru, rumah itu sangat besar. Dan di sebuah ruangan dirumah itu, aku melihat Keira terduduk di sebuah meja kerja. Keira disibukan oleh tumpukan kertas-kertas tebal yang memenuhi meja kerjanya.
Keira terus membaca tumpukan kertas itu, halaman demi halaman dan terus begitu. Tak lama terdengar suara tangisan seorang anak kecil, tangisan itu tidak membuat Keira beranjak dari tempat duduknya. Keira masih terus membaca tumpukan kertas-kertas tebal itu.
Aku di kejutkan oleh suara bukaan pintu yang sangat keras dan mendadak, seorang laki-laki datang dan langsung menghampiri Keira dengan terburu-buru, tanpa berkata-kata ia lantas mengobrak-abrik tumpukan kertas itu.
Di sebuah rumah sakit, Keira berlari dengan wajah panik. Ia berlari sangat cepat, aku pun tidak mengerti, kenapa ia berlari seperti itu. kulihat ia berlari dengan hanya menggunakan satu sepatunya.
“Rasya.” Kata Keira.
Suara Keira, menyadarkan ku. Dan di tengah sadar ku, aku melihat Keira di hadapanku. Ditengah diam ku, aku pun masih memikirkan penglihatannya yang barusan aku lihat. Siapa laki-laki itu, laki-laki yang akan menjadi suami Keira, dan kenapa ia berlarian seperti orang gila di rumah sakit.
“Rasya … lu Kenapa?” Tanya Keira.
__ADS_1
Keira hanya menatap, dan bibir ini seketika terdiam. Aku berfikir kembali, bagaimana aku bisa berjalan kerahnya, ada sebuah tombok besar yang sudah siap menghalangiku. Sebuah tembok yang aku buat sendiri, dengan segala ketakutan ku akan takdirnya, tembok itu menjulang begitu tinggi, bahkan aku tidak bisa melihat dimana puncak dari tembok itu. Keraguan kembali menerkam ku dan membombardir niatku.
Aku begitu pengecut, tapi jika di pikir kembali, aku juga tidak sempurna, bahkan jauh dari kata sempurna. Orang bilang, ketidaktahuan adalah kebahagian, dan kurasa itu benar. Seandainya aku tidak mengetahui takdirnya, pasti aku sudah mendekat kearahnya.
“Lu kenapa?” Tanya Keira.
“Engga, lagi juga lu gak akan berhenti kan? walaupun gua larang.” Jawabku.
Aku menghentikan niatku, dan aku kecewa akan diriku. Sekedar berkata-kata, nampaknya aku belum terlalu yakin. Dan inilah diriku, bagiku cinta terlalu mewah. Bukan … aku terlalu takut akan takdirnya.
“Dasar bodoh.” Kata Keira kesal.
“Hah?” Tanyaku.
“Gua tungguin dari tadi juga, udah ah gua pulang, tapi gua pasti menang kan?” Tanya Keira.
Aku hanya menjawab pertanyaan Keira, dengan senyumanku. Tertunduk aku akan kebodohan ku, Keira pun pergi karena malam mulai berkuasa di langit, dan kumohon rasaku juga ikut pergi bersamanya. Renta aku melawan penyesalanku, yang terus menghardik ku.
Rasa itu terus melekat dan aku masih menyimpan senyum Keira di ingatan. Memutar kembali waktu, rasanya bukan jawaban. Karena aku pasti akan melakukan hal yang sama, takdir Keira lah yang menjadi alasan akan hal itu. Jika di pikir kembali, sungguh lucu.
__ADS_1
Aku telah lama berguru akan rasa sakit, tapi aku masih takut untuk menghadapinya. Tuhan kumohon, hilangkan takdir itu darinya. Kau mungkin telah meninggalkanku, tapi tolong jaga dia Tuhan. Aku yakin engkau mendengarnya, jadi kumohon jaga dia Tuhan.