WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 68) NESTAPA LAIN DI TAKDIR KU


__ADS_3

NESTAPA LAIN DI TAKDIR KU


Dan aku sadar, bahwa ini adalah sebuah nestapa di takdir lainya, hanya itu yang ada di benakku saat menatap itu. sekali lagi, aku kehilangan sebuah harapan, dan aku sungguh tidak siap untuk melihat siapa yang berbaring di tempat tidur berselimut kain putih.


Aku sudah habis akan kata-kata, apakah aku akan kembali kehilangan orang yang aku sayangi. Kenapa selalu berujung tangis, jika mengenai diriku. Apakah takdir ini, berujung demikian. Kumohon tidak, karena aku sangat berharap banyak untuk takdir ini.


Dan tak lama Frisca datang dengan tangisannya, ia lantas ambruk di depan tempat tidur itu. Tangisannya mengisi seluruh ruangan, dan menyeret kesedihan hadir di ruangan itu. Di belakang Frisca berdiri seorang pria kecil, ia hanya menatap Frisca kemudian ikut menangis.


Dan dengan tangan gemetar, di temani air mata yang mengalir di wajahnya, perlahan Frisca mengangkat kain putih itu. ketakutan pun melanda diri, dan bertanya-tanya aku akan sosok di balik kain putih itu. dan dengan perlahan, saat kain putih itu terbuka, dan aku terkejut akan sosok dibalik kain putih itu.


Di balik kain putih itu, aku melihat diriku sendiri. Rasanya sangat canggung, dan akhirnya pertanyaan ku selama ini terjawab. Hanya menatap kejadian itu dan tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan diri, ketakutan pun hadir tanpa permisi.


**


Dan saat aku tersadar, aku masih menatap Frisca di hadapanku. Aku masih tidak percaya, dengan apa yang baru aku lihat. Dan aku pun mencoba untuk tidak mempercayainya. Hanya menatap wajah Frisca, dan berharap dia menjelaskan apa yang aku lihat itu tidak benar.

__ADS_1


“Itu …?” Tanyaku.


“Iya, kenapa kamu sekarang takut?” Tanya Frisca balik.


Pertanyaan itu membuat senyum getir di bibir ini, jika aku berfikir kembali. Selama ini, dengan arogansi aku terus meminta kematian kepada Tuhan, agar rasa sakit ini bisa hilang. Namun aku tidak mengerti sekarang, kenapa aku merasa takut.


“Bener, itu masa depan kita.” Kata Frisca.


Jawaban itu, merobohkan harapanku. Hanya kembali tersenyum getir, bagaimana selalu sama jika tentang diriku. Selalu penuh nestapa, selalu begitu. Dan sekali lagi, aku kembali menyeret takdir seorang wanita untuk masuk ke dalam nestapa yang tak bertepi.


“Anak kecil itu?” Tanyaku.


Pertanyaan ku menyulut air mata di wajahnya, dan aku sadar betul akan gesture itu. Lantas berusaha sembunyi, ditengah getir rasa. Tapi Gesturnya terus membegal lapisan mantel yang aku gunakan, yang lantas membuatku bersimpuh akan lara.


Terlepas dari segala harapan, Frisca menangis bersama kesedihan di hatinya. Dan bergerumul akan kepedihan hatinya, harapanku sebentar ia menangis, lalu lupa akan segala nestapa itu. Tangisan Frisca memenuhi ruangan ini, mufakat aku akan lara di hatinya.

__ADS_1


Setelah lelah, dan untuk sementara ia berdamai akan rasa sakit itu. Aku kembali merundung nya, dengan keingintahuanku. Meskipun aku tahu, hal itu akan menyakiti kita berdua.


“Ceritain semua yang kamu lihat.” Pintaku.


Ia hanya menatapku getir dengan gesture ragu-ragu. Setelah itu, ia berfikir panjang sampai akhirnya dia bersedia berbagi rasa sakit itu kepadaku.


“Anak kecil yang kamu lihat, itu Pasha, anak kita.” Jawab Frisca.


Getir duniaku, saat aku mendengarnya. Cerita sayu kembali terulang, hanya mengingat ingatan dalam kepala. Sebuah memori, dimana aku menyaksikan jasad kedua orangtuaku berbaring di kamar mayat rumah sakit. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa anakku akan menyaksikan peristiwa yang serupa.


“Aku gak tahu pasti, sejak kapan hubungan ini di mulai, tapi yang aku tahu, bahwa kita berdua saling mencintai.” Lanjut Frisca.


Aku juga melihat hal itu, di penglihatan ku akan masa depannya. Disana kita berdua banyak berbagi senyuman, aku juga tidak mengerti kenapa itu terjadi. Kenapa aku bisa melupakan Keira, dan jatuh cinta kepada Frisca.


“Dan anehnya, kita berdua tahu takdir itu akan terjadi? Tapi karena keegoisan kamu.” Lanjut Frisca.

__ADS_1


__ADS_2