
WANITA MISTERIUS
Setelah 10 putaran, kaki sudah tak kuat dan aku terkapar di tengah lapangan basket dengan keringat yang membanjiri tubuhku. Terlentang menatap langit biru, kuatnya terik matahari membuatku seketika menutup mataku.
Saat aku membuka kedua mataku, aku di kejutkan oleh seorang siswi berdiri menatapku. Di tengah lapangan basket, mata kita bertemu. Dan aku sungguh terganggu akan tatapannya. Jika aku mendefinisikan tatapan itu, kata yang tepat adalah kata kasihan yang membalut tatapan itu.
Tak lama ia memberikan sebotol air mineral yang berada di tangannya. Walaupun aku heran dan ragu-ragu menerima sebotol air mineral itu darinya, tapi rasa haus yang terus berusaha membunuhku, membuat aku mengambil air mineral itu.
Tanpa sepatah kata, ia kemudian pergi meninggalkanku. Aku hanya menatapnya heran, tak lama langkahnya berhenti saat melihat poster salah satu calon ketua OSIS. Wanita itu kemudian menatapku.
“Dia adalah ketua osis sekolah kita berikutnya.” Katanya.
Aku makin binggung dan hanya menatapnya aneh, aku sempat berfikir bahwa wanita itu hanya imajinasi ku karena aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Aku pun lantas melihat, siapa orang di poster itu dan kulihat ia adalah Teddy anak kelas 2D, Teddy adalah wakil ketua OSIS sekolah kami, yang notabene adalah saingan berat Keira di bursa pemilihan ketua OSIS.
“Karena sepupuku, dia terpilih menjadi ketua osis.” Kata wanita itu sambil menunjuk orang di samping Teddy.
Aku lantas melihat orang di samping Teddy, dan wajah Romi yang aku lihat di poster itu. Romi adalah anak 1B, siswa paling popular disekolah kami. Dia adalah pemain andalah di tim basket sekolah kami.
__ADS_1
Tidak hanya di sukai siswi-siswi di sekolah kami, dia juga di sukai siswi-siswi sekolah lain. Selain keterampilan basketnya, wajah Romi juga rupawan. Itulah yang membuat ia di sukai, dan Romi adalah wakil ketua OSIS yang akan mendampingi Teddy di bursa pemilihan ketua OSIS.
Dan wanita itu, pergi setelah mengatakan kata itu. Dan aku hanya menganggap kata-kata itu, hanyalah angin lalu. Tapi aku cukup berterimakasih akan air mineral yang ia berikan. Aku lantas kembali bersiap, menyelesaikan hukumanku yang tinggal lima putaran lapangan basket.
Waktu berlalu dan aku terus mengutuk nama Pak Amir di kepala, kakiku rasanya ingin patah, sementara tanpa daya aku terus menyusuri lapangan basket berbentuk persegi panjang yang berukuran 26,5 kali 13 meter. Setelah lima putaran dengan kepayahan, aku kembali ke kelas.
**
Kelas riuh dan ramai, merayakan ketidakhadiran Ibu Melly. Ibu Melly adalah guru ilmu kesenian di sekolahku. Tanpa sadar aku pun ikut akan euforia itu, dan dengan lelahku aku berjalan menuju tempat duduk ku. Setelah aku duduk, aku pun lantas mencari posisi yang pas untuk merebahkan tubuhku. Sementara di samping ku, Keira masih sibuk dengan buku nya.
“Kapan lu mau bergerak? Pemilihan udah sebentar lagi.” Kata Keira tanpa melihatku.
Selain aku takut melihat masa depan Keira, rasanya agak tidak nyaman jika aku harus menatap matanya, setelah semua hal yang terjadi.
Entah kenapa aku teringat akan kata-kata wanita yang kutemui di lapangan basket tadi, wanita yang memberiku sebotol air mineral. Jika aku pikir kembali, tadi aku belum mengucapkan terimakasih kepadanya, mungkin karena itu aku terus mengingatnya.
Dan omongan wanita itu juga cukup masuk akal, tentang Teddy lah yang akan menjadi pemenang di bursa pemilihan ketua OSIS. Karena Teddy juga bisa dibilang siswa popular di sekolah, tidak kalah dari Keira.
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk melihat masa depan Teddy. Aku pun lantas mencari Teddy di kelasnya, riuh dan ramai suasana kelasnya sama seperti di kelasku. Tampaknya kelas ini juga tidak ada guru, entah kenapa banyak guru yang tidak hadir hari ini.
Mataku pun berkonsentrasi dan mulai menatap setiap sudut demi sudut kelas, tapi aku tidak bisa menemukan Teddy di kelas ini.
Aku pun memutuskan mencari Teddy di tempat lain, dan ruang OSIS, menjadi tujuanku. Aku pun mulai berjalan ke ruang OSIS yang letaknya di samping ruang UKS di lantai 2. Mengetahui akan menuruni tangga, membuat otot kakiku sudah tegang.
Perlahan, ku buat perlahan ritme langkah kakiku untuk menuruni tangga. Setelah sampai ruang OSIS dan mencari Teddy, lagi-lagi aku tidak bisa menemukan Teddy. Rasa lelah pun sudah melebur bersama rasa kesal ku, karena aku tak kunjung menemukan Teddy
Aku lantas masuk ke ruang UKS yang letaknya di sebelah ruang OSIS, untuk sebentar mengistirahatkan tubuhku. Dan sesampainya disana, aku tak sengaja menyaksikan kejadian yang tidak seharusnya aku lihat.
Saat pintu ruangan UKS terbuka dan aku melangkah masuk. Di tengah ruangan UKS yang sepi, dari balik tirai aku melihat Romi sedang berciuman dengan seorang siswi sekolah kami. Saat aku melihat kembali siswi itu, aku melihat Arum teman sekelas ku.
Arum adalah teman sekelas ku, dia adalah teman dekat Keira. Dan saat melihatku, mereka yang kaget pun menghentikan romansa itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa-apa, karena bagiku kejadian ini sangat awam.
Romi pun lantas beranjak pergi, dan saat Romi melewati ku yang mematung di depan pintu. Dan aku melihat masa depan Romi, saat mata kami bertemu. Dan kata-kata yang aku yakini hanya omong kosong dan angin lalu sebelumnya, ternyata adalah sebuah kenyataan, hal yang pertama yang terlintas di pikiranku adalah siapa gadis itu.
Saat mata kami bertemu dan aku melihat serpihan masa depan Romi, benar seperti kata wanita aneh yang aku temui di lapangan basket. Romi akan menjadi wakil ketua OSIS dan Teddy lah yang memenangkan bursa pemilihan ketua OSIS dan mengalahkan Keira.
__ADS_1
Dan saat aku tersadar, aku hanya melihat Arum berada di depanku. Aku sungguh tak enak dengan Arum, dan tak lama Arum berlari dan melewati ku. Aku masih terdiam dalam tanya, di sela-sela kebingunganku. Aku siasati penglihatan ku tadi adalah fakta, dan aku tutup kasus ini.
Aku lantas beranjak menuju kelas, dengan bait-bait tanda tanya yang terus mengajakku diriku bermain. Siapa gadis itu, dan kenapa dia mengetahuinya. Apakah dia hanya asal menebak atau dia sama sepertiku, dia bisa melihat masa depan. Aku simpan pikiran itu, dan siap memberitahu Keira tentang apa yang aku lihat.