
TRAGEDI PELAJARAN BIOLOGI
Aku sungguh tidak mengerti, apakah Keira bersemangat karena ia menyukai pelajaran Biologi atau dia menyukai Pak Widi. Aku tidak bisa membedakan kedua hal tersebut, rasa cemburu mulai menghampiri, dan aku terus di sibuk kan melihat mereka berdua bertukar pandangan.
Dan hal itu, membuatku menjadi gila, dan aku melakukan hal bodoh sekali lagi.
“Bisa gak sih, menatap Pak Widi gak pake senyum?” Tanyaku kepada Keira.
Keira hanya menatapku dengan tatapan datar, dan tak lama ia kembali menatap Pak Widi dengan senyumannya. Senyuman itu memukulku keras, dan aku sangat membencinya saat itu.
Aku tidak mengerti akan diriku, yang aku tahu aku tidak bisa menahannya lagi. Aku harus secepatnya, menghentikan kegilaan ini. Tanpa sadar tanganku memukul meja, di ikuti semua orang terkejut dan lantas menatapku. Keheningan mulai mengisi, dan saat aku sadar itu semua. Aku hanya berpura-pura tidak ada peristiwa aneh.
“Pak, saya ingin ke kamar mandi.” Kataku.
Pak Widi hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan pelajarannya yang membosankan. Aku hanya tertunduk lesu, dan melangkah keluar kelas. Dan Kulihat Keira masih tersenyum kearah Pak Widi, dan aku sungguh membencinya hari ini.
Dan setelah keluar kelas, aku lantas menyesali segala perbuatan ku. Seharusnya aku bisa lebih menahan diriku, dan aku sadar Keira telah mengalahkan ku. Dan saat aku beranjak menuju kamar mandi, aku melihat seorang siswi menatapku dengan wajah cemas.
Dan saat aku menatapnya, aku ingat siapa siswi itu. Dia adalah siswi yang aku lihat di lapangan basket saat aku di hukum Pak Amir, dan memberikan botol air mineral kepadaku. Siswi aneh yang memprediksi kemenangan Teddy di bursa ketua OSIS. Seorang yang aku yakin sama sepertiku, bisa melihat masa depan. Aku hanya terdiam dan terus menatapnya.
“Jauhi Keira, maka semuanya akan baik-baik saja.” Kata wanita itu kepadaku.
__ADS_1
Dan dia pergi setelah mengatakan kalimat itu, aku pun bertanya-tanya maksud dari perkataanya. Apakah dia juga sudah melihat masa depan Keira sepertiku, dan hal itu membuatku yakin bahwa dia sama sepertiku, bahwa ia bisa melihat masa depan.
Tapi kenapa dia memberitahu itu kepadaku, walaupun aku terus memikirkannya dan aku tetap tidak bisa menemukan jawabannya.
**
Aku hanya duduk terdiam di salah satu bilik kamar mandi, sambil menunggu pelajaran Pak Widi usai. Rasanya aku enggan untuk menginjakan kedua kakiku kembali ke kelas, akan sangat canggung jika sekarang aku bertemu dengan Keira.
Aku tahu cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri, namun aku sekarang sungguh tidak percaya diri. Dan setelah bel berbunyi, aku pun kembali ke kelas. Sampai di dalam kelas terlihat ramai anak berkumpul di mejaku.
Aku pun bertanya-tanya, apa yang terjadi. Dan aku melihat Teddy dan komplotannya sedang merundung Keira. Teddy terlihat asyik merundung Keira yang terdiam duduk di bangkunya, tema yang sama seperti sebelumnya tentang pemilihan OSIS.
ia melakukan itu. Sementara kulihat semua
anak-anak yang ada di dalam kelas hanya diam melihat kejadian itu, dan aku pun sadar bahwa mereka akan selalu seperti itu. Karena Teddy, memang mempunyai kuasa akan hal
itu.
Namun Keira memang kepala batu, ia tidak bergeming sama sekali setelah mendapat perundungan bertubi-tubi dari Teddy. Dan hal itu menyakitiku. Gadis bodoh itu akan tetap berdiri akan pilihannya. Dalam benak diriku
pun timbul sebuah siasat untuk menghentikan kejadian itu, dan untuk menghentikan usaha
__ADS_1
nya untuk bersikap tegar. Tak lama, mata kita berdua pun bertemu. Dan aku rasa, aku akan benar-benar menjadi gila.
“Lu pengen banget apa, jadi ketua osis?” Kataku sambil menatap mata Keira.
Aku lantas berjalan maju memasuki keramaian anak-anak yang sedang berkumpul, dan aku berfikir bahwa aku sudah gila. Teddy dan temanya pun lantas menatapku dengan mata keheranan, dan aku kembali akan gesture ku yang alami dan menatap mata Teddy dengan penuh amarah.
“Segitu gak percaya dirinya lu, sampai melakukan hal norak kaya gini.” Kataku sambil menatap mata Teddy.
Teddy pun hanya menatapku dengan raut wajah keheranan. Dan nampaknya ia tidak percaya akan kata yang barusan ia dengar. Aku berniat memukulnya lebih keras, dan mempermalukannya di depan umum. Aku ingin mengajarkannya, bahwa semut pun akan mengigit jika ia merasa terancam.
“Oh samsak men.” Kata Teddy saat melihatku.
Sejak kejadian itu, setelah Teddy menghajar ku habis-habisan. Aku memang mempunyai julukan baru, yaitu samsak men. Dan sejak saat itu juga, aku bertekad untuk membalasnya. Meskipun aku tahu, bahwa itu adalah pertandingan yang tidak mungkin aku menangkan.
“Ga usah ikut campur deh.” Pinta Keira Kepadaku.
Aku hanya diam dan tidak memperdulikan permintaan Keira. Karena aku sadar, tidak ada jalan untuk aku kembali. Dan dadu pun sudah aku lemparkan, yang bisa aku lakukan adalah terus memprovokasinya lebih keras, sehingga membuatnya menjadi gila.
“Apa lu gak malu? cara lu kaya gini tuh kaya preman pasar. Kalo Pak komisaris tahu hal ini, gua yakin dia bakal malu banget sama lu, yang menghalalkan segala cara untuk bisa menang.” Kataku sambil menatap mata Teddy.
Teddy hanya terdiam akan perkataan, begitu juga semua anak-anak yang ada di kelas. Dan kata-kataku, merubah pandangan semua siswa di kelas terhadap Teddy. Teddy hanya bisa terdiam, karena semuanya yang aku katakan adalah fakta. Wajahnya pun memerah dan penuh amarah, dengan kedua tangan yang sudah mengepal ia kembali menatapku dengan penuh amarah.
__ADS_1