WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 24) BERTEMU IBU KEIRA


__ADS_3

BERTEMU IBU KEIRA


Misi ku telah selesai, aku telah mengantar gadis yang aku sukai pulang kerumahnya dengan aman. Aku pun berniat pulang namun saat Keira membuka gerbangnya secara tiba-tiba ia menoleh kearah ku.


“Lu ngapain disini?” Tanya Keira sambil membuka headset di telinganya.


Keira mengagetkanku, dan pertanyaan dari Keira seketika membuat seluruh tubuhku berfikir. Sementara aku masih disibukan mencari jawaban dari pertanyaan Keira, Keira mendekat Ke arahku. Aku pun terus mencari alibi agar Keira tidak curiga terhadapku bahwa aku diam-diam mengikutinya.


“Ehmm, rumah temen gua di daerah sini.” Jawabku.


“Emang lu punya temen?” Tanya Keira.


Aku hanya terdiam dan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, sementara aku masih terjebak oleh tatapan Keira. Dan kuharap aku punya sihir dan aku akan menghilang dari tempat ini, agar terhindar dari tatapan Keira.


“Lu ngikutin gua kan?” Tanya Keira.


“Iya, gua mau mamastikan aja, lu pulang dengan aman.” Jawabku.


Tidak ada yang bisa aku lakukan selain jujur, karena aku tahu, aku tidak akan bisa lolos dengan mudah dari prasangka Keira. Aku mengenal Keira, dan cita-citanya adalah pengacara.


Pasti dia akan mencecar ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat alibi ku nantinya akan patah, karena aku tahu, dia adalah wanita yang sangat menyeramkan.


“Terus gua harus bilang, terimakasih gitu ke lu?” Tanya Keira.


“Engga juga sih, yaudah gua balik ya.” Jawabku sambil bersiap pergi.


Aku pun bersiap pergi, walaupun rencana ku gagal karena berhasil di pergoki Keira. Tapi aku cukup senang, karena aku bisa tahu lebih banyak tentang Keira.


Seperti aku tahu Bus mana yang di tumpangi Keira, aku bisa tahu rumah Keira, dan yang terpenting, aku bisa memastikan Keira selamat sampai kerumah.

__ADS_1


“Tunggu, masuk dulu yuk!” Kata Keira.


Keira lagi-lagi mengejutkanku, dia membawaku masuk kerumahnya. Walaupun aku tahu bahwa aku akan kikuk, tapi rasanya sungguh menyenangkan karena untuk pertama kalinya aku menginjakan kedua kakiku kerumah seorang wanita yang aku suka.


Aku hanya duduk ruang tamu dan aku sungguh tidak tahu harus melakukan apa-apa, karena, sekali lagi-lagi ini terlalu awam bagiku. Sebuah sofa bewarna hijau yang aku duduki membuatku sedikit nyaman, sementara aku terus menerka-nerka kejadian apa yang akan menimpaku.


Tak lama Keira keluar dengan membawa dua buah cangkir teh hangat, dan menaruhnya di atas meja. Aku pun sungguh kewalahan akan situasi canggung itu, karena sekali, peristiwa


ini sungguh awam bagiku. Kecanggungan


itu pun lantas membuat diriku meminum teh


yang baru di suguhkan Keira. Dan celaka nya, teh itu masih sangat panas.


Dengan Refleks aku pun ingin memuntahkan teh panas itu, namun aku takut mengacaukan segalanya. Jadi aku memutuskan berdamai akan teh panas itu, dan hanya menyimpannya di mulut ini. Disisi lain Keira hanya tersenyum menatap kejadian itu.


ingin mati pada detik itu juga. Kesan pertama adalah hal yang terpenting dalam sebuah pertemuan. Dan celakanya, aku datang ke rumah Keira dengan wajah babak belur.


Rasanya ingin aku putar waktu, sehingga aku dapat menolak undangan Keira, dan terhindar dari situasi ini. Entah kenapa, aku merasa di jebak oleh wanita yang aku suka.


Setelah bersalaman dengan Ibu Keira dan memperkenalkan namaku, aku hanya terdiam dan terus menghindar dari tatapan Ibu Keira. Ibu Keira tidak berbicara sama sekali dan aku sungguh tidak enak kepada Keira.


Dengan wajahku yang babak belur seperti ini, pasti Ibu Keira berfikir hal yang bukan-bukan terhadapku. Dan aku menyimpulkan bahwa Ibu Keira tidak menyukaiku. Jika di pikir kembali, mana mungkin ada orangtuaku yang mau anaknya bergaul dengan anak yang bermasalah.


Aku hanya tertunduk malu, rasanya aku ingin hilang saja dari permukaan bumi ini. Situasi sangat kikuk dan kumohon siapapun, tolong cairkan situasi ini. Dan Keira hanya tersenyum sambil melihatku, dan aku sungguh membenci Keira kala itu.


"Memang Kadang, pria nakal memang lebih menggoda.” Kata Ibu Keira sambil tertawa.


Aku terdiam sejenak, seluruh tubuhku berfikir, respon apa yang aku harus berikan. Apakah aku harus tertawa atau apa, kumohon siapapun beri aku petunjuk. Sialan otak ku membeku, dan aku kehilangan timing.

__ADS_1


"Yaudah Ibu tinggal dulu, udah malam juga.” Kata Ibu Keira sambil meninggal kami.


Apakah itu kode untuk mengusirku secara halus, apakah aku harus pulang sekarang. Ibu Keira pun meninggalkan kita berdua, dan aku hanya tertunduk lesu. Ini adalah awal yang buruk, dan semua ini karena diriku sendiri. Imageku telah rusak di depan Ibu wanita yang aku suka, dan aku membenci kenyataan itu.


"Lu sengaja kan?” Tanyaku.


Keira hanya terdiam sambil tersenyum kearah ku, dan tak lama ada suara Ibu Keira membuatku sadar, bahwa inilah saat yang tepat untuk pulang.


"Keira, cream night mamah dimana ya? Mamah mau tidur nih.” Teriak Ibu Keira.


Itu adalah kode yang mengharuskan aku untuk pulang, dan kulihat waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Imageku sudah hancur di mata Ibu wanita yang aku suka. Rasanya menyebalkan dan aku kecewa akan diriku sendiri. Setelah pamit dengan Ibu Keira, Keira mengantarku ke depan rumah.


"Lu pikir, gua bakal menyerah. Jawabannya enggak.” Kataku.


Keira hanya menatapku dan karena tatapan itu juga, aku ingin menantang diriku di batas maksimal. Untuk menjadikan dia miliki. Untuk menjadikan dia, selalu ada di pihak ku.


"Beri gua waktu, buat menggoda lu?” Pintaku.


"Berapa lama?” Tanya Keira.


"Satu minggu.” Jawabku.


"Kayaknya ga bakal cukup deh.” Kata Keira sambil tersenyum.


Aku pun mendekatkan diriku kepada Keira, Keira lantas menutup mulutnya dengan tangannya. Mungkin Keira khawatir aku akan kembali mencium bibirnya, jika di pikir kembali aku memang terlalu mengekspresikan perasaanku.


"Tenang aja, gua ga bakal mencium lu tanpa persetujuan dari lu.” Kataku.


Keira hanya terdiam, dan tak lama ia tersenyum kepadaku. Saat aku melihat senyuman itu, seketika aku lantas menyesali segala perkataan ku. Jika aku pikir kembali, bagaimana aku bisa meluluhkan hati Keira dan membuatnya hanya melihatku hanya dalam waktu seminggu. Sungguh bodoh, sehingga aku terus mengutuk diriku.

__ADS_1


__ADS_2