WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 36) LIKE A DOG WITH TWO TAILS


__ADS_3

LIKE A DOG WITH TWO TAILS


Terik matahari mengisi celah-celah jendelaku, menyilaukan mata dan membangunkan ku dari tidurku. Ketenangan lah yang aku rasakan saat aku membuka kedua mata ini, lantas bergegas untuk memeriksa handphoneku.


Sebuah kebiasaan baru, setelah Keira hadir di hidupku. Aku pun lantas tersenyum saat melihat sebuah pesan darinya, aku pun membalas pesan itu dan aku bergegas untuk menemuinya. Pagi ini aku banyak mengeluh tentang banyak hal, itu semua karena ketidaksabaran diriku untuk bertemu dengannya.


Dan aku sadar bahwa masa-masa itu telah usai, aku mulai keluar dari neraka yang ku tinggali selama ini. Sementara bus ini berjalan layaknya siput, teringat pesan Paman di ingatan yang serentak mengusir senyum dari wajah ini.


Serba salah memang, disisi lain aku ingin memenuhi harapan Paman, namun disisi lain juga, aku tidak ingin berpisah dengan Keira. Hanya membuang jauh pikiran itu, hanya itu yang aku bisa demi menyelamatkan hariku. Dan yang pasti, aku harus merahasiakan itu darinya, dari Keira.


Bus pun berhenti di depan sekolahku dan aku bergegas untuk menemuinya, langkahku aku buat cepat dan bertenaga, ketidaksabaran mengisi diriku. Saat aku sampai di bangkuku, kulihat dia duduk diam seraya menatap sebuah kertas.


Dan saat aku lihat kertas itu, aku hanya bisa menelan ludahku. Kertas itu adalah kertas ulangan milikku, aku hanya duduk diam seraya membuat gesture tidak ada masalahnya.


Keira lantas menatapku dan memberikan kertas ulangan itu, ulangan matematika minggu lalu dan aku saat aku melihat kertas itu, aku mendapat nilai 20. Aku memang tidak berharap banyak untuk ulangan itu, bahkan aku sedikit bangga untuk nilai itu. Karena aku hanya mengisi jawaban itu, asal-asalan.


Hanya tersenyum menatap hasil ulangan itu, namun saat aku memalingkan wajahku dan menatap Keira. Kulihat Keira masih menatapku dengan raut wajah kesal, melihat hal itu, aku pun berusaha menghindari tatapannya seraya mencoba merubah topik pembicaraan.


“Kemarin, kamu tidur jam berapa?” Tanyaku.


Aku pun hanya bisa menelan ludah, karena Keira masih menatapku kesal. Rencana ku untuk merubah topik pembicaraan gagal, dan aku masih terpenjara oleh tatapan Keira.


“Gak bisa kaya gini terus, mulai detik ini kamu harus belajar.” Kata Keira.”

__ADS_1


“Tapi …” Jawabku.”


“Sebentar lagi kita naik ke kelas 3 Rasya!” Kata Keira memotong perkataan ku.


Selama hampir tiga bulan, aku sungguh tidak pernah melihat Keira seserius ini. Aku pun hanya tertunduk menyerah, dan hanya menuruti niatnya walaupun belajar adalah hal yang paling aku benci di dunia.


“Mulai detik ini, kamu harus serius belajar. Aku akan bantu kamu!” Kata Keira.


“Iya.” Jawabku.


Keira hanya menatapku, dan aku tidak pernah melihatnya seserius ini sebelumnya. Bu Arini pun masuk dan mengusir tatapan Keira kepadaku, Bu Arini adalah guru Fisika di sekolahku.


Pelajaran pun di mulai, dan Bu Arini terlihat serius menjelaskan pelajaran fisika di depan kelas. Setelah 10 menit, aku mendengarkan omongan Ibu Arini.


“Perhatiin!” Pinta Keira Kepadaku.


Aku pun mengiyakan permintaan Keira dan kembali menatap Bu Arini yang sedang menjelaskan di depan kelas. Namun entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Bu Arini, bagai sebuah mantra tidur untukku.


Dan tanpa daya, aku larut oleh pusaran kantukku. namun saat aku berniat memejamkan kedua mataku. lagi-lagi aku dikagetkan saat Keira kembali mencubit tanganku. Dengan refleks, aku pun kembali membuka mataku, dan kembali melihat Bu Arini di depan kelas. Entah kenapa, hari ini aku membenci Keira.


Aku tahu ini demi kebaikanku, tapi aku benar-benar tidak menyukai belajar. Namun Keira terus menyiksaku dan membuatku terjaga di setiap pelajaran. Dan ini pertama kalinya, aku tidak terlalu senang saat bersamanya.


**

__ADS_1


Sudah tiga jam setelah pulang sekolah, kelas pun sudah sepi dan hanya tersisa kami berdua. Tapi Keira masih membuatku menatap buku fisika miliknya, walau entah beberapa kali aku membacanya, aku masih tidak mengerti apa yang aku baca. Sementara Keira masih menatapku, dan aku terpenjara akan tatapannya.


“Kalo kamu malas-malasan gini, kamu bakal gak naik kelas.” Kata Keira dengan wajah cemas.


“Kan ada kamu, yang ngasih contekan ke aku.” Jawabku.


“Hidup ini, gak sebercanda itu Rasya.” Kata Keira sambil menaikkan suaranya.


Aku pun tertunduk akan perkataan Keira, walau aku tidak sependapat dengannya. Bagiku, hidup ini sangat lah bercanda, dan selama ini aku telah di permainkan olehnya dan aku membencinya.


Keira lantas menatapku dengan sinis, ia kemudian mendekatkan dirinya dan mengutuk buku yang ada di depanku dengan pulpen seraya menatapku, tatapannya memberi isyarat bahwa aku harus kembali menatap buku.


Tanpa daya dan upaya, aku pun kembali menatap buku. Namun bagaimana aku berusaha memahami maksud dari buku ini, aku tetap tidak bisa memahaminya. Hanya menatap dan menatap, dan berpura-pura mengerti. Hanya itu yang kulakukan untuk mengukir senyum di wajahnya.


Sebelum aku bertemu dengannya, aku memang tidak pernah berdedikasi atas apapun. Karena aku pun sudah menyerah untuk hidup pertama dan terakhirku ini. Bagaimana tidak, Tuhan mengambil semuanya di hidupku. Aku bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali aku tersenyum.


Namun saat dirinya datang , dan aku melihat hangatnya tatapannya. Getir ini memudar, dia membuatku menatap dunia dengan cara yang berbeda.


Orang bijaksana mengatakan, bahwa balas dendam terbaik adalah menjalani hidup


dengan baik. Dan untuk pertama kalinya, aku ingin berjuang, bertarung seperti orang-orang pada umumnya. Aku ingin menjadi seorang pahlawan baginya, yang selalu dapat ia andalkan.


Walaupun aku harus menjalani kehidupan

__ADS_1


getir ini berulang-ulang kali, aku tidak pernah menyesali sedikit pun fakta akan pertemuan kita. Karena getirnya hidupku, aku bertemu dengannya. Dan jika aku dapat memundurkan waktu, aku akan melakukannya. Sehingga aku dapat bertemu dengan dirinya lebih awal. Dan aku bisa lebih lama untuk bersamanya.


__ADS_2