
KEIRA DAN PIRING KOTOR.
Aku pun terus berkonsentrasi untuk larut akan masa depannya, namun bagaimanapun aku berusaha, aku tidak bisa untuk masuk ke dalam pusaran takdir akan masa depannya itu. Aku pun terus mencoba, dan terus mencobanya lagi dan lagi.
“Udah belum? Gimana … gua menang?” Tanya Keira.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Hari ini sungguh aneh, aku tidak bisa melihat apa-apa. Ini sangat tidak biasa, biasanya aku langsung masuk dan terpatri akan masa depan hanya dengan menatap mata seseorang. Namun kali, aku pun tidak mengetahuinya.
“Ehmmm, apa harus lebih dekat. Kemarin waktu di kelas jaraknya …” Kata Keira bergumam sendiri.
Aku tidak menghiraukan perkataan Keira, dan kembali fokus kepada tujuanku. Namun, aku tetap tidak melihat apapun. Hari ini benar-benar aneh, aku pun sudah tidak tahu lagi. Walau aku terus berusaha, aku tetap tidak bisa melihatnya.
“Oh gua tahu, kenapa lu gak bisa lihat masa depan gua. Lu belom makan kan?” Tanya Keira.
Pertanyaan Keira pun meruntuhkan konsentrasi ku, serta minatku. Aku pun menyerah untuk melihat masa depannya. Dan untuk pertama kalinya, aku kecewa tidak bisa melihat masa depan.
“Lu lapar kayaknya, lu belum makan kan?” Lanjut Keira.
Aku pun hanya menatap kesal, karena Keira sangat sok tahu. Apa hubungannya belum makan dengan tidak bisa melihat masa depan. Hipotesanya membuat aku makin frustrasi, dan sungguh dia adalah tipe orang yang sangat menyebalkan.
“Iya kan?” Tanya Keira.”
“Apa hubungannya belum makan sama bisa atau gak bisa melihat masa depan?” Tanyaku kesal.
“Ya mana gua tahu, kan lu yang bisa melihat masa depan, bukan gua.” Jawab Keira.
Jawaban Keira, membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Apakah benar, dia ini primadona sekolah yang di sukai para siswa di sekolahku karena kecantikannya dan kepintarannya.
Aku benar-benar tidak menduganya, dia begitu bodoh dan menyebalkan. Dan aku sadar bahwa dia tidak sempurna seperti yang ada di bayanganku.
Dan aku makin di kejutkan, saat aku mendengar sebuah suara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.
__ADS_1
“Itu suara perut lu?” Tanyaku.
“Iya, lapar.” Jawab Keira dengan tersenyum.
Senyum Keira lantas terekam di mataku. Dan aku pikir, aku sudah gila. Kenapa ia terlihat begitu lucu, hanya dengan tersenyum. Tanpa aba-aba, senyum ini pun hadir.
Melihat hal itu, aku pun segera menyadarkan diriku, dan menghardik dengan sebuah doktrin jahat, bahwa Keira memiliki takdir yang buruk. Seketika pun senyum ini hilang, dan aku sadar begitu jahatnya diriku.
“Ada mie instan sih, mau?” Tanyaku.
Keira hanya tersenyum kepadaku. Dan sekali lagi, aku larut akan sebuah perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Senyum ini kembali hadir, dengan hanya menatapnya.
Aku pun tidak mengerti akan diriku hari ini, dan lantas berusaha kabur dari senyumannya. Apakah karena aku kesepian, bagaimana aku terus tersenyum kearahnya. Sesampainya di dapur, kenangan lama lantas mengajak diriku bermain.
Sebuah kenangan yang membuatku tersenyum dan juga menangis. Dapur ini masih sama, tidak ada benda yang bertambah atau pun berkurang, begitu juga dengan ingatan ini.
“Wow ... Chef Rasya.” Kata Keira.
“Lu mau mie apa?” Tanyaku.
“Mie kuah, telurnya 2.” Jawab Keira seraya tersenyum.
Sekali lagi, ia membuatku tersenyum. Dan entah kenapa, aku sangat nyaman dengan senyuman itu. Sebuah tembok yang ku buat, perlahan mulai goyah. Dan mungkin, rasanya akan menyenangkan, jika ia bisa menjadi temanku.
“Jangan terlalu lama masaknya, gua gak suka mie yang lembek.” Pinta Keira.
“Gak usah bawel deh.” Jawabku.
Dengan di dampingi Keira sebagai penonton, aku pun mulai memasak mie instan untuk kita berdua. Sementara aku sibuk memasak, kata-kata Keira terus memenuhi pikiran ini, dan membuatku berhati-hati dalam memasak, untuk mendapat mie yang tidak lembek.
Dan hari ini aku sungguh beruntung, di salah satu bungkus mie yang aku masak. Aku mendapat 2 bumbu mie instan, dan hal itu membuat senyum di wajahku. Aku lantas menyimpan bumbu itu, dan aku sadar bahwa bahagia sangat lah sederhana.
__ADS_1
Setelah mie instan matang, aku lantas membawanya ke meja makan. Keira memang kurang ajar. Setelah tahu mie instan sudah matang, ia lantas kabur dan tidak mau membantuku membawa pring berisi mie ke meja makan. Di meja makan, Keira sudah siap menungguku dengan sendok dan garpu di tangannya.
“Asyik, mie instan.” Kata Keira bergumam sendiri.
Aku hanya tersenyum saat melihatnya, walaupun dia kadang tidak tahu malu, tidak setia kawan dan menyebalkan. Tapi karna dirinya lah, hariku sedikit lebih berisik dan bewarna. Dan aku menyukainya, waktu saat bersama Keira.
“Ada nasi gak?” Tanya Keira.
Aku hanya menatapnya sinis, tatapanku pun lantas membuat Keira melupakan pertanyaanya dan kembali menyantap makanannya. Tingkahnya pun membuat senyum di wajah ini, namun ada sebuah perasaan aneh yang hadir di diriku. Dan aku sadar, bahwa hari ini aku tidak makan sendiri.
“Kalo makan jangan ngecap apa, kunyah nya pelan-pelan. berisik tahu!” Kata Keira memprotes cara makan ku.
Ini adalah pertama kalinya, seseorang mengkritik cara makan ku. Aku sendiri pun tidak mengetahui bagaimana cara makan ku selama ini, dan baru tahu saat Keira mengatakannya. Mungkin karena selama ini, aku selalu makan sendiri.
“Rasya, gua mau nanya deh. Waktu lu lihat masa depan gua tadi?” Tanya Keira.
“Iya kenapa?” Tanyaku balik.
“Lu deg-degan kan? lu gak bisa nafas, saat liat mata gue di situasi deket kaya tadi. Makanya lu gak bisa masa depan gua.” Kata Keira.
Kata-kata Keira membuat aku tersedak. Aku pun hanya menatapnya, dan bertanya dalam diam ku. Bagaimana ia bisa mempunyai kepercayaan diri sebesar itu.
“Jujur, iya kan?” Tanya Keira.
“Udah lu jangan ngomong yang engga-engga, lu abisin makanan lu, terus lu cuci piringnya.” Kataku sambil beranjak dari bangkuku.
“Hah… nyuci piring? Gua tamu loh disini.” Kata Keira.
Aku hanya meninggalkan Keira, bersama piring kotor miliknya dan bergegas pergi ke latar rumahku tanpa mendengarkan keluhannya. Aku lantas menyalakan sebatang rokok, dan menatap langit sore.
Hari ini sungguh aneh, aku banyak melakukan hal-hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Dan sepertinya, hari ini aku lebih banyak tersenyum dari biasanya.
__ADS_1