
SESEORANG DARI MASA DEPAN
Gadis yang menungguku adalah Frisca, gadis yang sama sepertiku, bisa melihat masa depan. Dan karenanya, aku menyakiti hati Keira. Dia hanya menatapku dengan raut wajah kesal, aku pun bertanya-tanya kenapa dia ingin bertemu denganku. Aku pun berfikir, apakah karena ciuman di atap sekolah.
Namun itu tidak mengkin, karena kita berdua sudah setuju untuk mengubur peristiwa itu. Aku pun tidak mengerti kenapa dia ingin bertemu denganku, sementara itu aku masih terganggu akan tatapannya.
Di depan gerbang sekolahku, berjarak satu meter kita hanya saling menatap. Dan secara tiba-tiba, ia manampar pipiku. Aku pun terkejut, akan tamparanya. Aku hanya memegang pipiku, karena tamparanya sangat keras. Dan saat aku kembali menatapnya, ia kembali menampar pipiku.
Aku pun terkejut karena tidak menduga kejadian ini akan terjadi. Tingkahnya membuat orang disekelilingku menatap aneh kepadaku, aku pun berusaha menjelaskan dengan gestureku kepada orang di sekelilingku bahwa ini tidak seperti yang ada di bayangkan mereka.
Aku pun cukup kesal akan perilaku random Frisca kala itu, namun saat aku menatapnya.
Kulihat ia berdiri sambil meneteskan air mata, aku pun bertanya-tanya alasan di balik tangisanya itu. Dan tangisanya semakin deras, melihat itu pun aku hanya menariknya menjauh dari kerumunan mata yang menatap kami berdua. Aku pun menariknya masuk kedalam bus, namun setelah di dalam bus, aku masih direpotkan oleh kerumunan mata lain yang menatap kami.
Karena ia terus saja menangis dan membuatku terlihat bagai seorang bajingan yang menyakitinya.
Aku pun segera memutar otak, untuk menjauhkan diriku dari tatapan itu. Terpikir berbagai siasat di otakku. Apakah aku harus meninggalkanya sekarang, kulihat dia masih menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Tapi bagaimana dengan kerumunan mata ini, jika aku meninggalkannya dan turun dari bus ini.
__ADS_1
Namun aku mengurungkan niat itu, karena ia tidak akan mungkin diam dan menatap saat aku meninggalkannya, karena aku tahu gadis ini sedikit gila.
Sepanjang perjalan di dalam bus, Frisca terus menangis dan membuatku terpenjara oleh banyak mata di bus ini. Dan saat aku melihat jalan yang sedikit familiar di mata, aku yang tidak tahan lagi pun menariknya keluar dari Bus ini. Dan setelah turun dari bus, aku melepaskan tanganku dan menatapnya. Ia masih menangis seraya menatapku, aku dibuat gila akan tangisan itu.
Dan saat aku melihat jalan ini, aku pun memutuskan untuk membawanya kerumah peninggalan kedua orangtua karena jaraknya tidak jauh dari taman ini. Kulihat dia pun masih menangis, aku pun hanya meraih tanganya. Dan membawanya berjalan menuju rumah peninggalan kedua orangtuaku, dan aku sungguh tidak mengerti apa yang aku lakukan saat ini.
Dan kulihat gadis gila ini masih menangis, dan aku terus terpenjara oleh setiap mata yang berpapasan dengan kami berjalan menuju rumahku. Dan setelah 15 menit yang menyiksa, kita akhirnya berada di depan rumah peninggalan kedua orangtuaku. Aku pun lantas melepaskan tanganku dari tangannya, dan membuka pintu rumahku.
Setelah pintu terbuka, kulihat gadis itu masih menangis. Aku hanya menghumbuskan nafasku, dan manariknya masuk kedalam rumah. Setelah masuk kedalam rumah, aku pun membawanya keruang tamu rumahku. Setelah kita berdiri diruang tamu, aku lantas mendudukkan dia di sofa seraya melepaskan tanganku darinya.
“Kamu kenapa sih?” Tanyaku kesal.
“Haus.” Kata Frisca.
Aku pun tercengang, dia mempunyai bakat membuat orang lain kesal. Namun aku memendam amarahku, demi membuatnya nyaman dan membuatnya bercerita. Karena aku juga penasaran, kenapa ia menemuiku. Dan Kenapa ia menamparku dan menangis seperti orang gila.
“Kamu mau minum apa?” Tanyaku.
__ADS_1
“Susu coklat dingin enak kayaknya. Jawabnya.”
Aku hanya beranjak dan langsung disibukan oleh permintaan susu coklat dingin permintaan Frisca, di tengah kesibukanku sebuah kenangan lama datang. Aku teringat pertama kali Keira datang kerumahku, dengan permintaan yang sama. Susu coklat dingin, dan perasaanku juga sama saat membuat susu coklat dingin ini.
Sedikit kesal, namun cukup menyenangkan. Sambil sibuk membuat susu coklat dingin, aku menatap Frisca yang duduk di ruang tamu. Dia adalah orang kedua yang datang ke rumah ini, aku pun kembali penasaran apa yang membawanya sehingga mencari ku.
Setelah selesai membuat susu coklat dingin untuk Frisca, aku lantas membawanya keruang tamu. Dan dia menyambut susu coklat di tanganku, dengan senyum di wajahnya. Aku pun lantas menatapnya, dengan terburu-buru ia meminum susu coklat dingin miliknya.
“Kamu putus ya dari Keira?” Tanya Frisca.
“Iya.” Jawabku.
“Kenapa?” Tanya Frisca.
Aku hanya menatapnya, dan teringat semua kenangan sayu di benak ini. aku menutup mataku untuk sedikit menghilangkan rasa sakit di hati ini, karena kenangan itu.
“Takdir Keira berubah.” Frisca.
__ADS_1