WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 16) NEW RULES


__ADS_3

NEW RULES


Jejak-jejak dirinya, masih tersirat dirumah ini. Aku sekali lagi melakukan hal bodoh, yang langsung aku sesali detik itu juga. Setelah ciuman itu, Keira lenyap tanpa sepatah kata. Dorongan kecil dari Keira kearah tubuhku, seketika mengakhiri kebodohan itu. Sungguh aku tidak mengerti akan diriku, dan alasan di balik aku melakukan itu.


Sementara aku terus menimbang-nimbang tindakanku, tapi aku tetap tidak menemukan jawaban. Bagaimana aku bertemu dirinya di kala esok, di tuntun aku akan perasaan penuh kekhawatiran. Belum aku siap, bel rumahku kembali berbunyi. Menerka-nerka aku, akan seseorang di balik pintu itu, membuat dada ini bergetar. Jika itu dirinya, sikap apa yang akan kuberikan, memikirkannya saja sudah membuatku menjadi gila.


Setelah terus beranologi, berubah aku menjadi diriku yang lain. Setelah pintu terbuka, kulihat Keira berdiri dengan wajah datarnya. Hanya tatapan datar, seperti biasanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan aku bersyukur karenanya.


“Tas gua ketinggalan.” Kata Keira dengan wajah datar.


“Oh, ambil aja.” Jawabku.


Keira pun lantas masuk dan mengambil tasnya yang berada di sofa tua ruang tamu rumahku. Disisi lain, aku hanya menunggunya di depan pintu. Setelah Keira mengambil tasnya, ia hanya menatapku yang masih mematung di depan pintu.


“Gua balik dulu ya.” Kata Keira.


“Iya.” Jawabku.


Keira pergi bersama rasa cemas ku, pintu rumahku menutup semua jerih payah akan sikapku yang tak alami. Kemudian aku tersungkur lemas dengan raut asliku. Aku terus menyalahkan diriku, dan aku pun tidak tahu lagi tentang semua hal, yang aku tahu, malam ini akan berjalan sangat panjang.


Sama seperti dugaan ku, malam pun terasa panjang dan kantukku dikalahkan akan pikiran-pikiran tentang semua peristiwa hari ini. Hari ini aku terus melakukan hal-hal yang bukan diriku, ingin ku putar mesin waktu sehingga peristiwa itu tidak pernah terjadi.


Disisi lain, aku pun terus mendoktrin diriku akan takdir buruk Keira, hatiku sebagai saksinya. Bagaimana mana dengan kejamnya, aku terus menyerang diriku sendiri. Dan aku menyadari, bahwa aku adalah orang yang sangat jahat, karena aku termakan dan terpatri serta langsung membuang jauh semua peristiwa hari ini.


**


Hawa dingin lantas menyambut diriku, kala aku membuka pintu rumahku. Aku ringkukan tubuhku untuk mengurangi dinginnya pagi. Bus pun mengantarku ke sekolah, macetnya jalanan ibukota adalah sebuah kewajaran.


Dan bergerumul seraya berdesak-desakan dengan penumpang lain adalah siksaan tambahan yang aku harus aku terima. Sekitaran pukul tujuh, aku sampai di sekolah. Terlihat anak-anak pun berlarian bergegas masuk ke sekolah.


Aku pun ikut hanyut akan euforia itu dan bergegas masuk bersama mereka. Saat aku masuk ke kelas, Keira sudah ada di bangkunya. Seperti biasa, dia sedang membaca sebuah buku, aku hanya diam dan duduk di bangkuku yang tepat di sampingnya.


Hari ini, Keira seperti biasanya. Tidak ada perubahan akan sikapnya, hanya duduk diam dan terus menatap buku yang ada di atas meja, aku pun mensyukuri hal itu.

__ADS_1


Banyak pikiran bersarang di benakku sebelumnya, aku takut Keira akan marah, tapi sepertinya dia sudah melupakan kejadian kemarin. Pak Amir pun lantas mengusir suasana riuh kelas, seperti biasa Keira sebagai ketua kelas pun membimbing kami untuk memberikan salam kepada Pak Amir.


“Ya anak-anak, tugas matematika minggu lalu di kumpulin di depan.” Pinta Pak Amir.


Permintaan Pak Amir pun lantas membuat anak-anak sibuk mengeluarkan buku tugas mereka, begitu juga Keira. Sementara aku, hanya terdiam membeku di bangkuku. Aku ingat tugas itu, tapi aku hanya diam dan hanya bisa diam.


Setelah kejadian kemarin, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ditengah diam ku, aku terkejut saat Keira memberiku sebuah buku yang sudah ada tugasku di dalamnya, sebuah buku khusus yang aku dan Keira siapkan setelah perjanjian konyol di kelas waktu itu.


Tanpa menatapku, ia memberikan buku itu dan lantas bergegas ke depan kelas untuk mengantarkan tugasnya ke meja Pak Amir.


Sementara anak lain sibuk mengantarkan tugas mereka, aku hanya terdiam menatap buku yang di berikan Keira.


Entah kenapa, aku merasa bersalah kepadanya. Hanya sebatas berfikir, tampaknya ini tidak benar. Seharusnya aku tidak menerima perjanjian itu dan tetap menjadi diriku seperti sebelumnya.


“Udah semua?” Tanya Pak Amir.


Waktu terus berjalan, sementara aku masih diam akan pikiranku. Di sampingku, Keira pun hanya menatapku. Waktu terus mendesak ku, dan aku membencinya. Dan dengan tidak tahu malu, aku mengantarkan buku itu, ke meja Pak Amir.


Ini bukan apa-apa dan tidak akan mempengaruhiku sama sekali, karena ini bukan apa-apa. Kata-kata itulah, yang aku tanamkan di diriku. Setelah kita semua selesai mengumpulkan tugas, Pak Amir pun memulai pelajarannya yang membosankan.


Hari ini, dia mengikat rambutnya, dan itu terlihat baik karena dia tampak cantik. Matanya tak teralih dan terus menatap kearah papan tulis sambil sibuk menggoreskan ilmu di bukunya.


Hari ini, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Aku pun bertanya-tanya, apa yang menganggu malamnya. Apakah karena kejadian kemarin, namun kurasa tidak.


“Kamu lagi ngeliat apa?” Kata Pak Amir sambil menjewer telingaku.


Aku di kejutkan saat tangan Pak Amir menjewer telingaku, aku lantas bangun dari posisi tidurku. Dan aku lihat perhatian anak-anak di dalam kelas, tertuju ke mejaku dan Pak Amir, termasuk Keira yang berada di sebelahku.


“Sejak kapan papan tulis pindah bukan di depan? Kamu ngeliatin Keira?” Tanya Pak Amir sambil menjewer dan tak lama melepas jeweran nya telingaku.


Perkataan Pak Amir, membuat seisi kelas bergemuruh dengan menyuarakan sorakan kepadaku. Kulihat Keira hanya menatapku datar dan kembali menatap bukunya. Saat itu, rasanya aku ingin menghilang dari dunia ini, namun sebelum itu, aku akan memukul wajah Pak Amir sebanyak dua kali, karena dia aku harus mengalami hal memalukan semacam ini.


“Kamu belum jawab pertanyaan bapak! Kenapa kamu ngeliatin Keira? Kamu suka sama dia?” Tanya Pak Amir kepadaku.

__ADS_1


Lagi-lagi pertanyaan Pak Amir membuat anak-anak makin bersemangat menggodaku. Aku pun terus memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.


Terus berfikir membuatku sadar, betapa bodohnya aku dan menyesal karena tidak pernah membaca sebuah buku sebelumnya. Walaupun aku tahu, situasi ini tidak pernah ada di buku pelajaran mana pun. Aku terus mencari kata, tapi aku tetap terjebak dengan mata dan prasangka itu.


Sampai bel kelas pun menyelamatkanku. Pak Amir pun tersenyum dan meninggalkanku, kelas pun bubar di ikuti para siswa yang berhamburan keluar kelas. Aku pun lega, karena berhasil terhindar dari masalah itu, tapi datang masalah lain dan tampaknya hari ini, aku akan sibuk menjelaskan sesuatu.


“Ikut gua ke atap sekolah.” Pinta Keira dengan wajah datar.


Keira membawaku ke atap sekolah, kita berdua pun berdiri di titik tertinggi disekolah. Terik mata hari serta desiran angin pun menemani perbincangan kita. Dia tampak marah, dan aku tahu betul alasan yang melatarbelakangi amarahnya tersebut.


“Lu ngapain sih? lu mau gua kalah ya?” Tanya Keira.


Aku hanya terdiam dengan kata-kata Keira. Jujur aku tidak mengerti, apa yang ia katakan dan tujuan dari perkataanya. Saat aku mencari, ia menjelaskan kalimat dengan amarah yang memenuhi dirinya.


“Gua gak bisa ngelarang perasaan lu, karena itu hak lu tapi jujur gua gak mau kalah di pemilihan ini.” Tuntas Keira.


Setelah aku mendengarnya, aku lantas mengerti maksud dan tujuan dari kata-katanya. Dia tidak mau terjebak, skandal cinta bersamaku, karena baginya fakta bahwa aku menyukainya adalah sebuah kesalahan yang mungkin bisa membuatnya kalah dalam pemilihan ketua OSIS.


Dan mendengar kata-kata darinya membuatku lega, walau hati kecilku sedikit terluka dan menyadarkan ku bahwa aku ada di kasta terendah di sekolah. Aku sebenarnya ingin menjelaskan bahwa prasangka nya tentang diriku menyukainya adalah kesalahpahaman. Walaupun awalnya, aku sempat binggung akan diriku, tapi itu yang coba aku yakini bahwa aku tidak menyukai Keira.


“Dan kalo lu ngelakuin sesuatu seperti yang kemarin, perjanjian kita batal. Dan gua akan lapor sama Pak Amir bahwa lu mengancam gua, buat ngerjain tugas-tugas lu dan maksa gua buat ngasih contekan buat lu saat ulangan.” Tuntas Keira dan pergi meninggalkanku.


Keira pergi, bersama amarahnya. Aku hanya diam, dan menerima semua kata-katanya. Hanya menatap langit, dan menyulut rokok yang ada di saku celanaku, berharap mood ku kembali setelah segala kerumitan hari ini.


Setelah beberapa hisapan, aku pun sedikit lebih baik. Namun lagi-lagi, Pak Amir kembali merusak hariku.


“Enak betul ya? Bapak kira sekolah kebakaran, ternyata mulut kamu yang kebakaran.” Kata Pak Amir.


Melihat Pak Amir, aku pun lantas membuang rokok yang ada di tanganku. Tanpa aba-aba, tangan Pak Amir sudah berada di telingaku. Selain guru matematika dan wali kelasku, Pak Amir juga menjabat sebagai guru BK di sekolahku.


Dan aku sadar, bahwa hari ini aku benar-benar sial. Sambil tetap menjewer telingaku, Pak Amir membawaku ke lapangan basket sekolah. Setelah sampai, Pak Amir lantas melepaskan tangannya, kupingku rasanya pun ingin putus. Setelah itu, Pak Amir lantas menatapku tajam.


“Jalan jongkok 15 putaran.” Pinta Pak Amir.

__ADS_1


Pak Amir pergi setelah mengatakan hukuman itu, disisi lain aku pun hanya menundukkan kepalaku, ini pertama kalinya, aku tertangkap basah merokok disekolah.


Dan aku pun tidak mempunyai pilihan lain, dan mulai berjalan jongkok di lapangan basket bersama terik matahari dan panasnya aspal lapangan basket. Aku terus berjalan jongkok seperti permintaan Pak Amir, pahaku pun rasanya ingin copot. Dan mungkin, ini terakhir kalinya, aku merokok di sekolah.


__ADS_2