
MENGHAPUS DIRIKU
Malam ini aku berniat menghapus diriku, dari dunia yang penuh dengan kesedihan ini. Berharap tidak ada satu pun ingatan tentang diriku tersisa, waktu akan mewujudkan hal tersebut. Waktu akan menghapus kenangan tentang diriku di hidup mereka.
Tanpa arah dan tujuan, hanya berjalan dan terus berjalan. Aku sudah muak dirundung oleh Tuhan, di patahkan berkali-kali dan rasanya sudah cukup. Dari pada aku kesulitan untuk bernafas, lebih baik aku tidak bernafas sama sekali.
Aku lelah akan sebuah kenyataan, bahwa aku hanya gangguan bagi semua orang yang aku kasihi untuk bahagia, dan mungkin aku akan lebih tenang, karena aku tidak lagi mencemaskan banyak hal. Karena aku pun sudah lelah untuk bersembunyi, dan kuharap semua orang mengerti akan keputusanku dan bahagia.
Aku akan membawa suratan takdir sialan ini, pergi ke neraka bersamaku. Setelah menjalani dunia yang buruk, dan kenyataan yang merobek hati. Di balik langkahku menuju ke kedamaian yang abadi, aku ingin mengatakan sebuah kata kepada diriku. Bahwa aku sudah melakukan yang terbaik, untuk hidupku.
__ADS_1
Dan inilah batas usahaku, tapi kenapa aku masih merasa ketakutan. Bahkan setelah aku sadar bahwa hidup ini terlalu sesak untukku, namun kenapa aku masih ketakutan. Semua ini keputusanku, namun kenapa aku masih ketakutan. Kenapa kematian, begitu menakutkan.
Langkah kaki ini berhenti, di sebuah stasiun kereta bawah tanah. Dan tempat ini, adalah akhir dari perjalananku. Esok pagi aku berniat untuk menghempaskan tubuhku kearah kereta yang melaju. Itulah skenario akan kematian diriku yang aku tulis.
Hanya terduduk di sebuah bangku berukuran sedang di pinggir rel kereta, seraya menunggu pagi datang. Aku berencana mati bersamaan dengan terbitnya matahari.
Malam ini begitu dingin, jadi aku ingin menangis. Kakiku begitu sakit, jadi aku ingin menangis. Dan hidup ini begitu getir, jadi aku ingin menangis. Namun kenapa aku tidak bisa menangis, kenapa aku malah merasa takut.
Dan di tengah kegelapan juga, aku mendengar sebuah langkah kaki mendekat. Langkah kaki itu tampak terburu-buru, suara langkah kaki itu makin terdengar dan lalu menghilang. Dan saat aku membuka kedua mataku, aku melihat Frisca tepat berada di depanku dengan nafas yang terengah-engah.
__ADS_1
Hanya menatap kearahnya dengan kebingungan hebat, kenapa ia berada disini. Dia lantas duduk di sampingku, di bangku di samping rel kereta. Aku lantas menatapnya, bersama rasa penasaran hebat. Frisca tampak sibuk mengatur nafasnya, dan kulihat keringat pun membasahi tubuhnya.
“Kamu ngapain disini?” Tanyaku.
“Mau lihat orang bunuh diri.” Jawabnya Frisca seraya tersenyum.
Aku hanya terdiam seraya menatapnya, dan aku sadar aku melupakan sebuah fakta bahwa dia sama sepertiku, dia bisa melihat masa depan. Sebuah pertanyaan pun lantas mengisi, apakah takdirnya sudah berubah. Dan jika sudah berubah, kenapa dia datang kesini. Apakah dia kesini, untuk memastikan kematian ku. Aku pun tidak mengetahuinya, namun kuharap takdirnya akan berubah dan harus berubah.
“Kenapa kamu ngelakuin ini?” Tanya Frisca.
__ADS_1
Aku hanya terdiam seraya menatapnya, dan jika bertanya alasanku melakukan ini. Alasanku adalah untuk melindungi Keira, dari takdir itu. Selain itu, aku juga sudah lelah dan muak dirundung oleh Tuhan. Dan alasan lainya adalah tentang dirinya dan Pasha.