
AMBISI KEIRA
Menyimak lagi aku akan rasa sakit, datang dan terus datang menghantuiku. Mimpi yang sama, tentang kecelakaan kedua orangtuaku. Mengurai harapanku sedikit demi sedikit di hidup ini. Hari ini tampaknya aku akan telat untuk pergi ke sekolah. Untuk mempersingkat waktu, aku pun memutuskan hanya membasuh wajahku.
Semprotan minyak wangi yang cukup banyak malah menimbulkan bau yang aneh tersirat di badanku. Namun aku tidak punya pilihan lain, karena aku tidak ingin telat untuk pergi ke sekolah. Karena bagiku, sekolah adalah mesin pembakar waktu utama di hidupku.
Kulihat jam sudah menunjukan pukul 6:45 pagi, untuk mempersingkat waktu perjalanan. Aku pun kemudian berfikir untuk pergi ke sekolah dengan menggunakan sebuah taksi. Tapi setelah mempertimbangkan secara matang, biaya yang harus aku keluarkan.
Aku menyerah, karena dompetku. Dan tampaknya akan sama saja karena taksi pun harus melalui jalanan yang sama seperti kendaraan lain, aku lantas mengutuk diriku karena memikirkan hal bodoh itu dan memutuskan pergi ke sekolah dengan naik bus saja.
Aku pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan bus, dan rasanya sangat menjengkelkan. Selain aku harus berdesak-desakan karena bus sangat penuh, tatapan aneh saat orang melihatku seraya menutup hidung mereka, makin membuatku merasa tidak nyaman.
Jika aku mengetahui akan seperti ini, rasanya aku akan mandi dulu tadi. Sebenarnya aku tidak terlalu cemas, karena aku tahu jalan tersembunyi untuk ke sekolah tanpa perlu melewati pintu gerbang depan sekolah.
Namun hal itu sangat beresiko, karena kita harus melompati tembok belakang sekolah yang tingginya sekitar 2 meter.
Di dalam bus, kondisi pun semakin tidak terkendali. Lonjakan penumpang di setiap halte membuat sebuah kerumunan padat dan mengikis udara di bus ini. Keringat pun lantas membasahi tubuhku, dan entah seperti apa rupa diriku sekarang, aku tidak mengetahuinya.
Di depanku aku melihat seorang siswi dengan seragam sekolah sepertiku. Tampaknya dia juga kesiangan sama seperti diriku. Kemudian datang pertanyaan bodoh di benak ini, apakah dia tidak mandi sepertiku.
Dan setelah berjibaku dengan penumpang lain, tibalah aku disekolah. Aku pun lantas turun dari bus, dan benar seperti dugaan ku, gerbang sekolah sudah tertutup. Dan saat aku berbalik arah, aku melihat siswi yang tadi aku lihat di dalam bus.
Siswi itu tersenyum, melihat gerbang sekolah yang tertutup.
Walaupun aku merasa aneh, aku hanya menghiraukannya dan lantas pergi untuk masuk ke sekolah lewat tembok belakang sekolah.
Setelah sampai di tembok belakang sekolah, aku menelan ludahku. Entah kenapa tembok ini sangat tinggi, aku juga tidak mengerti kenapa tembok ini bisa terlihat sangat tinggi hari ini. Walaupun aku sering melewatinya, namun aku tetap merasa takut.
Pikiran-pikiran negatif pun hadir, dan semua pikiran itu sepakat untuk menghentikan niatku untuk melompati tembok ini. Bagaimana jika ada nanti ada guru yang melihatku, bagaimana jika aku melakukan pendaratan yang salah dan melukai diriku. Pikiran-pikiran itulah yang memenuhi diriku.
Setelah bersusah payah melawan tingginya tembok belakang sekolah, dan diriku sendiri. Aku pun berhasil masuk ke dalam sekolah. Dan dengan berhati-hati aku pun berjalan menuju kelasku.
Dan setelah sampai depan kelasku, aku bernafas lega. Aku sangat beruntung, karena belum ada guru yang datang. Aku pun masuk ke kelas dan duduk di bangkuku.
Tubuhku masih di banjiri oleh keringat, dan aku sungguh tidak nyaman akan visual ku hari ini. Dan aku lihat, beberapa kali Keira pun menyemprotkan parfum di area bangku kami berdua. Aku hanya mengibaskan baju seragamku, dan berpura-pura bodoh akan kejadian itu.
__ADS_1
Dan begitu kagetnya aku saat Keira tiba-tiba menoleh ke arahku.
“Gak bisa nih kalo kaya gini, bisa gak sih kalo sekolah lo mandi dulu.” Kata Keira kesal sambil menutup buku yang ia baca.
Aku hanya terdiam dan tak berani menatap wajah Keira. Dan aku sadar, bahwa banyak hal yang terjadi hari ini dan aku menyesali semuanya. Terutama aku merasa sangat bersalah kepada Keira, karena aku sendiri pernah mengalaminya.
Hal itu terjadi saat aku duduk sebangku dengan Roni, yang notabene memiliki masalah bau badan. Dan aku sadar betul, bahwa itu sangat tidak menyenangkan.
“Gua gak bisa konsentrasi tau gak!” Lanjut Keira.
“Maaf!” Kataku seraya menundukkan kepalaku.
“Gua sebenarnya gak masalah, lu mau mandi atau engga. Itu urusan lu, tapi tolong jangan bau! Ganggu tau engga.” Tuntas Keira.
Keira lantas mengambil parfum di dalam tasnya dan menyemprotkan parfum itu kearah ku. Aku hanya terdiam, dan tak berdaya saat menerima hujatan dari Keira. Aku sungguh malu akan diriku sendiri, dan kuharap waktu berjalan cepat.
Dan setelah bel istirahat, untuk pertama kalinya Keira pergi dari bangkunya. Tampaknya bau badanku, sangat mengganggunya. Aku pun merasa bersalah kepadanya, namun tanpa sadar senyum ini hadir saat melihat bangku miliknya kosong. Dan kantukku berhasil mengalahkan nurani ku. Aku pun lantas bersiap mencari posisi enak untuk tidur. Namun saat aku ingin memejamkan mataku, dengan langkah penuh tenaga Keira kembali ke tempat duduknya.
Dan tidak sampai disitu, Keira lantas menatapku. Dan sungguh aku sudah siap dengan semua hinaan yang akan keluar dari mulutnya, namun bukannya hinaan yang keluar dari mulutnya, melainkan sebuah senyuman yang Keira berikan kepadaku.
Melihat senyumannya malah membuatku merasa khawatir, karena itu bukan bagian dari kebiasaanya.
“Jangan senyum!” Pintaku.
“Ok.” Jawabnya.
Keira pun lantas merubah mimik wajahnya, dan menatapku datar. Sambil menatap Keira, aku pun menerka-nerka, apa yang ada di pikirannya saat ini. Karena sangat tidak biasa, Keira memulai sebuah obrolan, jika obralan itu tidak menguntungkan baginya.
“Rasya.” Kata Keira dengan wajah datar.
“Apa?” Tanyaku.
“Gua mau nanya deh, tapi jawab yang jujur!” Pinta Keira.
“Iya, apa?” Tanyaku.
__ADS_1
“Emang lu bisa ngeliat masa depan?” Tanya Keira.
Pertanyaan itu membuatku bertanya-tanya, tentang apa yang melatarbelakangi pertanyaan itu tercipta. Gosip tentang diriku memang sudah menyebar di sekolah, tentang aku bisa melihat masa depan. Hal itu terjadi setelah peristiwa senar gitar Roni, namun aku masih tidak habis pikir, kenapa Keira memulai topik obrolan ini.
“Bohong kan?” Tanya Keira.
“Hah?” Kataku binggung.
“Bohongan kan? mana mungkin orang kaya lu, punya kemampuan kayak gitu.” Lanjut Keira.
“Maksudnya orang kaya gua?” Tanyaku.
Keira hanya menatapku, dan aku sungguh terganggu oleh tatapan itu. Jika aku mendefinisikan tatapan itu, tatapan itu mengisyaratkan sesuatu hal yang tidak mungkin dan tidak cocok. Dan tatapan itu, melukai diriku.
“Udah lupain, tidur sana.” Jawab Keira.
Entah kenapa aku merasa sangat kesal, gesture, mimik wajah, dan nada bicara Keira
lah yang melatarbelakangi nya. Aku pun tidak mengerti akan diriku, harusnya aku senang karena fakta bahwa aku bisa melihat masa depan tidak terungkap.
“Nyesel gue mulai obrolan ini!” Tuntas Keira.
Keira pun lantas mengambil buku dari dalam tasnya, dan menaruh buku itu di atas meja. Sementara aku hanya bisa terdiam seraya menatapnya dengan rasa kesal yang memenuhi diriku. Harga diriku sungguh terluka, dan rasanya aku tidak bisa menahannya lagi. Aku pun lantas membulatkan tekad untuk menampar kesombongannya. Dan dengan penuh tekad, aku menutup buku yang sedang Keira baca.
“Lu apaan sih?” Bentak Keira kesal.
“Gimana kalo bisa ngeliat masa depan?” Tanyaku.
Keira menatapku, dengan tatapan kesal. Aku lantas memegang bahunya dengan kedua tanganku dan menyelaraskan badannya sejajar denganku. Aku berniat untuk melihat masa depannya, itu semua aku lakukan demi harga diriku.
“Lu mau ngapain?” Tanya Keira.
“Lihat mata gua.” Pintaku.
Aku pun lantas menatap matanya, dan terus menatap matanya. Berharap potongan akan masa depannya, datang kepadaku.
__ADS_1