WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 39) THE SOUND OF LOVE


__ADS_3

THE SOUND OF LOVE


Malam pun merenggut dirinya dari sisiku, aku pun mengantarnya pulang. Aku sedikit kesal karena bus ini melaju kencang, sehingga membuat waktuku bersamanya lebih sedikit.


Dan aku hanya duduk berdua bersama Keira di kursi belakang bus.


Keira hanya tersenyum melihatku, dan aku langsung melakukan niatku. Terduduk di kursi bus dengan buku paket fisika, terus membacanya dan membacanya. Meskipun awalnya cukup menyiksa, namun jika kita tidak berubah, tidak akan ada yang berubah.


Aku sudah hampir membaca dua lembar bolak-balik di buku ini, dan aku mulai menyukainya. Walau terganggu oleh gaya menyetir yang kurang elegan dari sopir bus, dan aku sadar belajar di dalam Bus sangat tidak efektif, karena itu aku menyerah dan menutup buku yang ada di tanganku.


“Kok udahan?” Tanya Keira sambil tersenyum.


“Gak enak belajar di bus.” Jawabku.


“Tapi aku sadar deh, kamu emang gak cocok ya kalo baca buku.” Kata Keira meledekku.


Mendengar perkataan Keira, aku lantas tersenyum dan kembali membuka buku yang ada di tanganku. Fisika, itu buku yang sedang aku baca. Walau akau tidak tahu, manfaat belajar pelajaran fisika di dunia nyata.


Namun aku sudah bertekad untuk menjadi pria yang layak untuk Keira.Keira lantas memegang tanganku, memberi isyarat bahwa tujuan kita akan sampai. Aku pun menutup buku fisika yang ada di tanganku dan memberikannya kepadanya, Keira lantas memasukan buku itu kedalam tas.


Kita pun turun di daerah Blok M, dan setelah turun kita lantas berjalan memasuki sebuah gang. Aku pun meraih tangan Keira dan kita berjalan di temani lampu jalan, hanya senyuman yang tersurat di wajah kita berdua.


Keira lantas menghentikan langkahnya, dan menatapku. Ia tak lama mengambil bungkus rokok dari dalam tasnya. Dan mengambil satu batang rokok yang ada di bungkus tersebut, dan memberikannya kepadaku.


“Ini, kamu pernah bilang, katanya kalo abis makan gak ngerokok mulut kamu asem.” Kata Keira sambil memberikan sebatang rokok kepadaku.

__ADS_1


Aku hanya terdiam menatapnya, aku tidak mengerti isi kepalanya. Ia sungguh tidak bisa di tebak, ia melanggar perjanjian yang ia buat. Perjanjiannya adalah bahwa aku harus menyetor satu rumus atau satu pengertian tentang pelajaran untuk dapat satu batang rokok.


“Tapi aku belum setor rumus ke kamu?” Tanyaku.


“Engga apa-apa, aku cuma gak mau mulut kamu asem, cukup ketek kamu aja yang asem.” Jawab Keira.


“Kok kamu menyebalkan sekali ya? Tanyaku.


Keira hanya menatapku dengan wajah menyebalkan nya, dan menjauh dariku. Raut wajahnya. membuat senyum di wajah ini sekaligus membuatku ingin menghukumnya karena ia tampak sangat imut.


“Ih, bau asem.” Kata Keira meledek diriku.


Aku lantas mengejarnya, melihat hal itu dia pun melarikan diri seraya berlari menjauhiku. Aku yang kesal pun mengejarnya, namun kita sadar bahwa kita sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Kita pun menyerah untuk saling kejar mengejar.


“Udah, aku capek.” Kata Keira.


“Ketangkep.” Kataku sambil mendekapnya.


Setelah tertangkap, aku pun menggelitik perutnya. Keira pun meronta-ronta kegelian, dan kita pun tersenyum bersama. Setelah momen itu, tenaga kita benar-benar habis.


Dan kita pun sepakat untuk berhenti, namun senyum ini tidak hilang begitu saja dari wajah kita berdua. Keira pun melihat rokok yang ia pegang, dan ia kemudian menghukum ku dengan memukulku lenganku.


Karena rokok yang ia pegang patah, melihat itu kita pun tertawa. Keira kemudian kembali membuka bungkus rokok dan mengambil sebatang rokok, tak lama ia memberikan sebatang rokok itu kepadaku dan kembali menaruh bungkus rokok itu kedalam tasnya.


Aku pun mengambil rokok itu dan membakarnya, dan aku bersyukur, untuk rokok ini dan untuk kebersamaan ku dengan Keira malam ini. Kita pun kembali berjalan di temani lampu jalan, tiba-tiba di tengah jalan kita, Keira meraih tanganku.

__ADS_1


Namun langkahnya terhenti dan memandangi tanganku, aku pun menatapnya. Dan saat aku melihat tanganku, terlihat tanganku yang memerah akan bekas cubitan Keira. Kita berdua pun berdiri di bawah lampu jalanan. Keira pun kemudian menangis sambil memegang tangan kananku, melihat hal itu aku pun membuang rokok yang ada di tanganku dan menatapnya seraya menyeka air mata di wajahnya.


“Maafin aku? Pasti sakit.” Kata Keira.


“Aku gak apa-apa.” Kataku sambil memeluknya.


Lampu jalan ini, menjadi saksi akan rapuhnya dia. Dan sekali lagi, aku membuatnya menangis. Aku sangat membenci diriku, karena terus membuatnya menangis. Aku pun lantas melepaskan pelukanku dan menatapnya, kulihat air matanya terus berjatuhan di pipinya. Aku hancur melihat hal itu.


“Aku gak apa-apa.” Kataku sambil menyeka air matanya.


Tapi air matanya, tidak kunjung berhenti mengalir dan terus membasahi pipinya. Aku pun kembali memeluknya, dan memberikan waktu untuk dirinya melampiaskan kesedihannya.


Cukup lama kita berdiri di sebuah jalan di bawah lampu jalan itu, Keira pun meluapkan seluruh kesedihannya. Sementara aku memaksa diriku untuk membuat gesture bahwa aku kuat melihat hal tersebut, walau hal itu sangat menyiksaku. Setelah ia meluapkan seluruh kesedihannya, aku pun melepaskan pelukanku. Aku menatap wajah sendunya, dan mengusap sisa air mata di wajahnya.


Manusia hanya akan berfikir, ketika mereka sudah tertikam oleh sebuah masalah. Dan hari ini, aku berfikir tentang banyak hal. Sebuah realitas menamparku, dan membuat aku sadar seketika. Karena ketidakmampuan diriku, wanita yang aku cintai mengoreksi tindakan serta gagasan miliknya. Karena itu aku mengutuk diriku, dengan makian yang paling kasar.


Selama ini, aku memang enggan untuk mengambil dan menanggung sebuah resiko. Karena itu, aku tidak beranjak dari tempatku.


Selama ini aku hanya mengkhawatirkan tentang akhir sesuatu, hingga aku tidak pernah benar-benar memulainya. Selalu berada di zona nyaman. Seorang pengecut, yang takut akan sebuah luka.


Manusia memang tidak di haruskan untuk menanggung kebahagiaan milik orang lain.


Namun aku akan terus berusaha untuk memberikan visual terbaikku. Setidaknya untuk hidupku sendiri. Karena aku sadar bahwa kebahagiaan, bukanlah sesuatu hal yang sudah jadi dan pasti. Jika kamu tidak


merubahnya, tidak akan ada yang berubah. Dan cara paling ampuh untuk mengetahui masa depan, ialah dengan menciptakan

__ADS_1


masa depan itu sendiri.


“Kita pulang ya.” Kataku sambil menyeka air matanya.


__ADS_2