WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 22) CIUMAN KEDUA


__ADS_3

CIUMAN KEDUA


Setelah bersusah payah, aku berhasil sampai ke UKS. Keira pun lantas membantuku merebahkan tubuhku ke tempat tidur UKS, aku lantas terdiam cukup lama bersama amarahku. Dan saat aku menoleh, Keira masih menatapku dengan tatapan cemas.


“Bisa gak sih, lu jangan ngeliat gue kaya gitu.” Pintaku kepada Keira.


Keira hanya terdiam, seraya menatapku. Kemudian ia mengambil kotak P3K di sudut UKS. Dan dan mulai menempelkan kapas berisi obat merah ke luka di area. Aku hanya tersenyum menatapnya, sebagai rasa terimakasih ku kepadanya.


“Aduh sakit.” Teriakku.


Keira tidak memperdulikan kata-kataku dan terus menempelkan kapas demi kapas berisi obat merah ke luka diarea wajahku. Sekelebat rasa muncul saat aku menatapnya, mengurai perasaanku kepadanya.


Mata ini hanya terus melihatnya dan terus seperti itu, tanpa aku sadari aku menikmatinya. Lantas muncul keserakahan dalam diri ini, aku ingin memilikinya. Bagai sebuah buku, aku ingin membacanya dan mengenalnya lebih jauh.


Bagaimana dia hidup selama ini, bagaimana dia bisa memiliki wajah secantik itu, dan kenapa dia memiliki takdir itu. Keserakahan pun mulai memenuhi diri ini.


Keira kemudian menatapku dengan amarah di wajahnya, dan ia kemudian dia menangis. Dilanjutkan pukulan kecil kearah tubuhku, aku pun bertanya-tanya apakah ini raut aslinya. Lemah dan tak berdaya, dan hal itu membuatku semakin ingin memilikinya.


Dia terus menangis sambil terus mendaratkan bahuku dengan pukulan kecil, aku sungguh awam akan kejadian ini, jadi aku hanya diam menatapnya dan terus begitu. Sudah lama rasanya, aku tidak melihat orang menangis untukku, rasanya cukup aneh, tapi aku menyukainya.

__ADS_1


Setelah 15 menit ia menangis, dia kemudian menatapku. Dan aku di kejutkan oleh kata yang pertama keluar dari mulutnya. Sungguh wanita unik, karena semua kata yang keluar dari mulutnya, semuanya berisi makian.


“Dasar Teddy bajingan, tukang beling, kuda laut. awas aja! gua bakal bales perlakuannya, 200 kali lipat, engga belum cukup, gua akan bales dia 1000 kali lipat.” Kata Keira.


Aku hanya tersenyum melihatnya, aku pun bertanya-tanya. Bagaimana dia tetap cantik, walaupun dia sedang memaki. Dan hari ini aku sadar bahwa, aku sudah jatuh cinta kepada Keira.


“Lu kenapa senyum?” Tanya Keira.


“Karena lu cantik.” Jawabku.


Kata-kataku membuat raut wajah Keira berubah, dan aku menyukainya. Keira makin cantik, jika sedang tersipu malu. Hari ini aku melihat berbagai ekspresi dari Keira, ekspresi wajah sedih dan ekspresi wajah marah, dan ekspresi wajahnya tersipu malu.


“Jangan, lu pasti bakal nyesel jika dengar kata-kata itu.” Jawabku.


“Engga, gua gak bakal nyesel. Emang dia tadi ngomong apa?” Tanya Keira.


“Gua siap, di hukum Pak Amir besok.” Jawabku.


Keira hanya terdiam menatap ku, dan dengan perlahan kedua tanganku meraih wajah kecilnya. Di tengah kebingungannya, aku mendekatkan wajah ku dan mencium bibir merah Keira. Dorongan tangan Keira kearah tubuhku tidak menghentikan ku. Beralaskan keinginan ku memilikinya, aku mencium Keira.

__ADS_1


Aku tidak lagi ragu akan diriku, takdir akan masa depannya yang menjadi tembok penghalang diriku selama ini, akan aku hancurkan dengan sekali hentakan, sebuah hentakan yang berisi harapan tentang kebahagiaan dirinya.


Persetan akan penglihatan masa depan itu, persetan akan takdir buruk yang mengikutinya, dan persetan akan semuanya. Akan aku buat kesedihan itu menjadi senyuman. Jika Keira adalah buah berduri, aku akan akan tetap memeluknya, meskipun aku akan mati karena tertusuk duri tersebut.


Setelah ciuman itu, Keira menampar pipiku dengan keras. Dan rasa sakit akan tamparan itu, malah membuat diriku lega, akhirnya aku bisa jujur akan diriku, jujur akan perasaanku. Aku pun berfikir, seharusnya aku melakukan ini dari dulu.


“Dasar mesum.” Kata Keira sambil beranjak dari tempat duduknya.


Aku hanya menatapnya, Keira tampak marah dan binggung akan kejadian yang baru saja terjadi. Wajah memerah, dan aku sadar bahwa ia sangat cantik. Aku bersyukur dan berterimakasih kepada Teddy karena dirinya, aku yakin akan perasaanku kepadanya.


“Siap-siap di hukum Pak Amir.” Lanjut Keira.


Keira pergi dan meninggalkan sebuah senyuman di wajah ini. Sementara wajah Keira, masih tersurat di ingatan ini, dan tanpa aku sadari, aku menikmati ingatan itu. Ingin aku lukis ingatan itu kedalam sebuah kanvas, agar tidak pernah pergi dari kepala ini.


Dan akan aku nikmati keindahan nya di pagi dan senjaku. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bahwa aku akan merasakan cinta. Sebuah kemewahan di hidupku, harapan timbul dari rasa sakit dan kumohon kebahagian lah yang menyertaiku.


Diriku memang belum mengenal cinta, pepatah mengatakan bahwa setetes cinta bisa membuat lautan air mata, dan aku akan melihat nya sampai akhir dan semoga aku tidak di tenggelam di lautan itu.


Keraguan diriku lah yang membuat aku mendekat kearahnya, ketakutan ku akan masa depannya lah yang melatarbelakangi. Dan aku belajar sesuatu hal, bahwa keraguan adalah jaminan untuk kita percaya. Dan aku percaya, bahwa aku bisa melukis senyuman di wajah Keira.

__ADS_1


__ADS_2