WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 23) MENGANTAR WANITA YANG AKU SUKA


__ADS_3

MENGANTAR WANITA YANG AKU SUKA


Aku lantas beranjak menuju kelas, dan aku disibukan oleh tatapan siswa-siswi di sekolahku. Teddy baru saja mengubahku menjadi samsak hidup, tapi rasanya terlalu lelah jika aku harus memikirkan semua pandangan dan omongan orang lain tentang diriku. Hanya melangkah menjauh, meskipun aku cukup terganggu oleh tatapan itu.


Mata dan pikiran di kelas ini juga demikian, aku merasa sendiri di kelas ini. Hanya pergi menjauh, yang bisa aku lakukan. Kulihat Keira sudah ada di mejanya dan seperti biasa dia sibuk dengan buku pelajarannya. Dan tanpa aba-aba senyum ini tersurat di wajah ini, dan aku tenang melihat Keira seperti biasanya. Aku lantas duduk di bangkuku, Keira menyambut ku dengan tatapan sinis.


“Pak Amir gak masuk, jadi tunggu aja besok.” Kata Keira sinis.


“Semoga hukumannya diskors, gua butuh istirahat soalnya.” Jawabku.


Keira tampak kesal mendengarnya, dan aku sungguh menyukainya. Karena ia tetap terlihat cantik, dalam situasi apapun. Semakin aku menatapnya, semakin aku ingin memilikinya dan mengubahnya ada di pihak ku.

__ADS_1


Wajahku terasa sangat sakit, walau hanya tersenyum. Teddy benar-benar menghancurkan ku. Sedikit terlintas di benakku untuk membalasnya, tapi aku mengurungkan niat itu, karena aku yakin, dia akan jatuh dengan perangainya sendiri.


Bel pulang menyadarkan ku dari siasat-siasat buruk, dan anak-anak pun riuh seraya memasukan buku mereka kedalam tas dan berhamburan keluar kelas. Keira pun demikian, dia pun merapihkan kan bukunya dan memasukannya kedalam tas bewarna ungu miliknya.


Dalam diam mata ini terus tertuju kepadanya, berjarak sekitar 10 meter, aku berjalan di atas bayangannya. Langkahnya cepat namun tidak seirama, melihat itu aku sungguh khawatir dia akan terjatuh. Dia terus berjalan, di telinganya ditutup earphone bewarna merah jambu.


Dalam diam, aku bertanya-tanya. Warna musik apa yang ia dengar dan siapa penyanyi yang ia suka. Aku ingin mengetahui semua tentangnya. Bagai sebuah buku, aku ingin membaca semua halaman demi halaman jika itu tentangnya.


Cinta itu bagai sebuah hamparan angin, kita tidak bisa melihatnya namun kita bisa merasakannya. Dan semoga kisah ku dan dia, menjadi happy ending di akhir cerita.


Keira lantas duduk di bangku halte, menunggu bus sambil membaca sebuah novel, kadang ia tersenyum dan kadang ia mengerutkan dahinya seraya membalik halaman demi halaman dari novel yang ia baca. Keira lantas menutup buku di tangannya, saat bus berhenti di depannya dan ia naik bus itu.

__ADS_1


Dengan perlahan aku mengikutinya dan ikut naik di bus tersebut. Bus No. 1 M dengan rute Meruya – Blok M, Bus ini sebenarnya berlawanan arah dengan rumahku. Sambil mengaitkan tanganku, aku memperhatikannya, Keira kembali membaca novel di tangannya.


Kadang Keira pura-pura tertidur, saat melihat wanita tua tidak kebagian tempat duduk dan menunggu orang lain memberikan kursinya. Dan aku hanya menggelengkan kepalaku dan tersenyum melihat tingkahnya.


Keira turun di daerah Blok M, dan dia lantas berjalan memasuki sebuah gang. Dan aku sedikit khawatir melihatnya, hanya lampu jalan yang menerangi langkahnya. Malam pun larut bersama desiran angin yang mulai menyapu debu jalanan.


Sementara aku terus berjalan di bawah bayangannya, dan aku mulai serakah. Membayangkan berjalan di sampingnya sambil memegang tangannya yang hangat.


Membagi keluh kesah tentang sekolah dan aku akan membuat sedikit guyonan sehingga aku dapat melihat senyuman di wajahnya. Aku pun bertanya-tanya, apakah harapanku akan menjadi kenyataan, semoga demikian.


Langkah Keira berhenti di sebuah gerbang bewarna coklat, dan itu adalah rumah dari wanita yang aku sukai. Misi ku telah selesai, aku telah mengantar gadis yang aku sukai pulang kerumahnya dengan aman.

__ADS_1


__ADS_2