
KITA ADALAH LUKA
Malam ini, hanya ada rasa sakit, kita berdua masih berada di tempat yang sama. Sebuah tempat yang berisi luka, sebuah tempat yang akan menyakiti hati orang yang tinggal didalamnya. Namun anehnya, meskipun sudah mengetahui fakta tersebut. Kita berdua masih menginginkan tempat itu, dua orang bodoh yang keras kepala dan dua orang bodoh yang tidak bisa melepas cinta mereka.
Berkata-kata akan kebahagiaan dirinya, adalah peduli semu. Aku masih ingin tetap berjalan kearahnya untuk luapkan segala rasa cinta. Melihatnya masih ada di tempat yang sama, dalam sendiri, bibir ini tersenyum. Tapi memikirkan konsekuensinya, bagiku terlalu sesak. Dan aku tahu aku tidak bisa menghadapinya, karena aku tidak kuasa melihat untuk tangisannya.
Aku pun bertanya-tanya, kenapa Tuhan membenci kebersamaan kita berdua. Kenapa Keira akan bahagia jika bersama pria lain, dan akan menangis saat bersamaku. Kenapa demikian, aku pun tidak mengerti akan keputusan Tuhan untuk hal ini. Kenapa dia hanya merundung diriku saja, tidak orang lain.
__ADS_1
Apa salahku, jika aku pikir kembali, aku tidak pernah berbuat kejahatan sama sekali. Tapi kenapa Tuhan selalu merundung diriku. Kenapa dia menyuruhku untuk hidup bersama rasa sakit, dan menyuruhku untuk hidup tanpa melihat Keira. Tuhan begitu jahat kepadaku, karena itu aku membencinya.
Bising kendaraan membuat kepala ini tidak bisa berfikir, aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk bernafas. Hanya terduduk di bangku belakang bus, memikirkan semuanya. Dan semua hal yang aku yakini selama ini, perlahan sirna.
Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana dia masih menatap dan tersenyum kepadaku, setelah tahu fakta itu. Sedangkan niatku menceritakan itu, agar dia menjauh. Karena itu, aku tidak bisa mendefinisikan dua hal tersebut. Tatapan itu, serta senyumannya. Apakah itu cinta atau sebuah obsesi. Karena yang aku tahu, dia adalah gadis bodoh, dan aku membenci kebodohannya itu.
Apakah aku harus bersikap seperti diriku, dan dengan tidak tahu malu pergi kearahnya atau aku harus pergi menjauh dan menyakiti diri, dan mungkin juga menyakitinya. Ini bukan cinta yang aku inginkan, karena dia terus menangis saat menjalaninya. Keira seperti wanita kuno yang sangat keras kepala, seorang wanita yang hanya mencintai satu pria saja.
__ADS_1
Sepanjang jalan aku merasa kesakitan, hanya menatap jalan dari kaca jendela bus untuk mengalihkan rasa sakit tersebut. Dan cara yang aku lakukan itu berhasil, rasa sakit ini berhasil ku tekan, walau aku tetap merasa sesak di buatnya. Aku pun bertanya-tanya, kenapa semua orang yang aku lihat, terlihat sibuk.
Kulihat malam pun hampir habis, dan mereka masih keluyuran dengan raut wajah berusaha tegar mereka. Apakah Tuhan juga merundung mereka, semoga demikian. Karena fakta itu membuatku kembali kuat, karena aku tahu bahwa bukan hanya aku dan Keira yang menderita di dunia ini.
Malam hampir habis, aku lantas turun dari bus. Dan hanya berjalan bersama rasa sakit ini, langkah kaki ini menuntunku ke rumah peninggalan kedua orangtuaku. Aku berniat untuk mengunci pintu, karena aku tadi meninggalkan seorang tamu di rumah itu.
Saat aku berdiri di depan rumahku, aku tercengang saat mendapati pintu rumahku yang tidak tertutup. Hanya menyimpan rasa kesal di dada, kepada Frisca. Aku lantas masuk kedalam rumahku, untuk mematikan lampu rumahku. Karena malam ini, aku berniat untuk tidur dirumah Paman.
__ADS_1