WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 15) MELEWATI NORMAL KU


__ADS_3

MELEWATI NORMAL KU


Langit sore membuatku takjub, sungguh indah, namun kenapa hidupku berantakan. Memikirkannya, membuatku seperti manusia yang tidak pernah bersyukur.


Jika aku pikir kembali, hidupku cukup baik, Aku tidak pernah kelaparan dan aku bisa membeli apapun yang aku mau. Namun kenapa terasa sesak, bahkan aku sangat sulit untuk bernafas.


“Wah, gua nyuci piring, lu enak-enakan ngerokok disini.” Kata keira dengan sinis.


Setelah meluapkan rasa kesalnya, ia lantas duduk di sampingku. Hanya tersenyum menatapnya, senyuman itu sebagai bentuk terimakasih ku kepadanya.


Hari ini dia membuat hariku sangat cepat, dan menyenangkan. Tutur yang angkuh, dan tingkahnya yang semaunya sendiri, menyulam senyum di wajah ini. Aku pun kembali bertanya-tanya, kenapa gadis cantik, pintar dan ceria seperti dia mempunyai takdir yang mengerikan.


“Ihhh asapnya!” Kata Keira kesal.


Aku pun lantas menggeser tempat dudukku, agar Keira tidak kena asap rokokku. Aku pun bertanya-tanya, apa konsep hidupnya. Bagaimana ia selalu konsisten membuat orang di sekelilingnya merasa tak nyaman. Namun tidak, jika aku pikir kembali, dia hanya bertingkah kasar dan seenaknya hanya saat bersamaku.


“Lu ngerokok dari kapan?” Tanya Keira.


“Gatau, gak ngitungin.” Jawabku.


“Dasar bodoh.” Kata Keira sambil tersenyum.


Kita berdua lantas diam menatap langit, dan sejenak melupakan fakta akan sibuknya kehidupan. Aku pun sangat menikmatinya, seandainya selalu seperti ini. Namun waktu berjalan dengan cepat, bertaut pada langit sore yang mulai gelap.


“Eh Rasya, rasanya rokok kayak gimana sih?” Tanya Keira.


“Ya, rasa rokok.” Jawabku.

__ADS_1


“Ya, gua tahu, tapi apa rasanya? coba dong di deskripsikan menggunakan kata-kata.” Pinta Keira.


“Coba aja sih, ribet deh.” Kataku.


Keira kemudian mengambil bungkus rokok di sampingku dan menatapnya sangat lama. Keira kemudian mengambil sat batang rokok dari bungkus itu, dan mendekatkan rokok di tangannya ke hidungnya.


“Gimana ya rasanya ciuman sama perokok?” Kata Keira bergumam sendiri.


“Dasar mesum.” Kataku seraya tersenyum.


Keira hanya menatapku sinis, dan setelah itu, ia kembali menatap satu batang rokok yang ada di tangannya. Setelah tampak ragu-ragu, Keira pun memasukan sebatang rokok itu ke mulutnya.


Disisi lain, aku hanya menatap kejadian itu. Dengan rasa penasaran yang memenuhi dirinya, ia lantas mengambil korek dan menyulut rokok itu. Dan setelah rokok itu menyala, Keira pun menghisap rokok dengan rasa keingintahuannya. Dan tidak butuh waktu lama, dia pun langsung batuk.


“Uwek, rasa kenalpot.” Kata Keira seraya melempar rokok yang ada di tangannya.


“Kok dibuang?” Tanyaku dengan binggung.


“Cepet mati lu kalo ngerokok terus.” Jawab Keira.


“Gak ngerokok, juga orang mati.” Jawabku kesal.


Aku pun lantas berdiri dari tempatku duduk untuk mengambil rokok yang tadi Keira lempar. Untungnya rokok itu tidak terlempar terlalu jauh, sehingga aku bisa meraihnya tanpa upaya yang berarti. Namun saat aku meraih bungkus itu, sebuah penglihatan akan masa depan datang menyapaku.


Di ruang tamu, sebuah rumah. Gelap menyelimuti, sehingga aku kesulitan untuk melihat. Rumah itu sangat berantakan, banyak kaleng-kaleng bir kosong berserakan di lantai rumah, di tempat lain juga terlihat panci kotor, piring serta gelas kotor tertumpuk di wastafel cuci piring.


Kata yang tepat untuk mendeskripsikan rumah ini adalah, rumah ini tidak terawat oleh pemiliknya. Aku pun bertanya-tanya, masa depan siapa yang aku lihat ini dan rumah siapa ini.

__ADS_1


Tak lama terdengar bunyi kaleng kosong menghantam lantai, aku pun lantas berjalan menuju sumber suara itu. Dan di sebuah kamar, aku melihat sesosok wanita muda, ia bersandar tak berdaya di sudut ruangan dengan sebatang rokok di tangannya.


Rambutnya menutupi wajahnya, dan dengan nestapa ia menangis. Tangisan itu memenuhi ruangan itu, bersama dengan nestapa yang lantas mengisi.


Menyimak terus aku akan wanita itu, air matanya terus menggantung akan rapuhnya dirinya. Aku sungguh penasaran, apa yang telah ia lalui sehingga ia menangis seperti itu.


Dan saat aku mengetahuinya, tersungkur aku akan sebuah fakta. Wanita yang menangis itu adalah Keira, dan ini adalah potongan akan masa depannya. Aku mengetahuinya, saat rambut wanita itu terurai dan aku melihat wajah Keira disana.


Si bodoh itu terus menangis, aku ingin berjalan kearah untuk berbagi kesedihan bersamanya. Kenapa kau hisap rokok itu, bukanya kau tidak menyukai rasa rokok, katamu rasa itu seperti knalpot. Tapi kau terus saja menghisapnya, lagi dan lagi.


Keira, menangis lah sampai air mata itu tidak tersisa lagi. Lalu kembali ke ruang waktu dan berisikan hidupku lagi. Namun ia tidak mendengarkan, ia masih di tempat itu dan hanya menangis. Tangisannya pun menyeret kepiluan di dada ini, menyerang nurani ku lagi dan lagi.


Dan tanpa sadar, aku pun terpapar akan rasa sakit itu. Air mata berpencar ke sudut-sudut nurani dan aku ikut larut bersama kepiluan itu dan menangis bersamanya.


**


Saat aku tersadar, aku melihat Keira berdiri menatapku. Raut wajahnya sangat berbeda, dengan apa yang aku lihat di masa depannya. Di tampak ceria, dengan senyum yang membalut wajah. Dan dengan sembrononya, tangannya mendekat kearah pipiku, dan menghapus air mata yang menetes di pipi ini.


“Cengeng banget sih, gara-gara rokok dibuang doang. Lu nangis, maafin gua ya!” Kata Keira seraya menghapus air mataku.


Aku menangis bukan karena rokok yang ia buang, melainkan karena nestapanya takdirnya. Dan tanpa tahu apa-apa, iamasih saja tersenyum. Seperti orang bodoh, sehingga aku banyak membencinya. Dan semakin aku melihatnya, semakin aku ingin melindunginya.


Setelah ia mengusap air mataku, ia pun mencoba menarik tangannya. Dan sekali lagi, aku melakukan sesuatu yang akan aku sesali. Saat ia mencoba menarik tangannya pergi, aku lantas meraih tangannya.


“Ra, lu masih penasaran gak, gimana rasanya ciuman sama perokok?” Tanyaku.


“Hah?” Jawab Keira kebingungan.

__ADS_1


Keira hanya terdiam dan hanya menatapku. Mata kita pun bertemu, dan aku pun kehilangan akal ku. Tanpa aba-aba, aku menarik tangannya. Tarikan tanganku, membuat tubuhnya mendekat kearah ku. Aku pun meraih wajah Keira dengan kedua tanganku dan mencium bibir merahnya.


__ADS_2