WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI
(CHAPTER 72) WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI


__ADS_3

WAKTU YANG SEMPURNA UNTUK MATI


Aku hanya menatapnya, dan aku kemudian menyesal. Karena tidak seharusnya aku memulai percakapan ini, dan saat aku melihat dia bercerita. Aku kagum, ia bercerita seperti itu bukan hal baru untuknya.


Dia bercerita dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Mungkin dia sudah familiar dan bukan hal tabu lagi untuknya menceritakan itu, karena ia sudah melihatnya berpuluh-puluh ribu kali. Kita berdua pun sepakat untuk mengakhiri hidup kita bersama, dua orang yang di sakiti oleh dunia.


Menunggu fajar datang, untuk menyerahkan ajalnya. Dua orang yang berharap, kematian bisa menghilangkan rasa sakit mereka.


Malam kita berdua, diisi oleh Frisca yang menceritakan berbagai nestapa yang ia alami, tanpa sadar nestapa itu melukis senyum di wajah ini.


Sepanjang malam, kita berdua berbagi rasa sakit. Dia bercerita banyak hal tentangnya, tentang hidupnya yang getir. Tidak peduli akan usahanya, garis takdir terus menempel dirinya. Tidak peduli akan usahanya, ia akan terus terseok-seok di setiap jalanya. Tidak peduli akan usahanya, dia sudah ditakdirkan untuk menangis oleh Tuhan.


Aku pun membagi getirnya duniaku, dia tersenyum sembari mendengarkan cerita itu. Dan kita mufakat, untuk saling menghibur diri dengan menceritakan nestapa itu satu sama lain. Dan entah kenapa aku merasa sangat ringan membagi nestapa ku, bahkan tidak jarang kita menertawai nestapa itu.

__ADS_1


Aku pun tidak mengerti, mungkin karena ini malam terakhir kita. Sehingga membuat kita sangat nyaman membagi nestapa itu. Dan aku sadar bahwa dia tidak terlalu menyebalkan seperti yang aku banyangkan, dan aku mulai mengerti kenapa ia mempunyai perangai itu.


Suara Adzan subuh, menyeka pembicaraan kita. Kita berdua terdiam akan alunan indah itu. Suara Adzan yang mungkin terakhir kali kita dengarkan, di hidup ini. Sekedar berkata-kata, rasanya aku tidak pernah dekat atau mencoba dekat kepada Tuhan.


Mungkin karena itu, ia membenci diriku dan memberikan garis itu. Aku pun tidak mengetahuinya, namun yang aku tahu kebencian ku sama besar kepadanya. Akan kubawa kebencian ini, dan bertemu dengannya.


Waktu berlalu seperti desiran angin, dan aku mulai tersesat akan sebuah rasa takut.


Ia lantas tersenyum, dan beranjak dari bangku sembari menarik diriku bangkit. Dan kulihat langit sudah bewarna, dan aku sadar waktuku sudah tidak lama lagi.


Bunyi suara yang ditimbulkan, saat aku berjalan di atas rel kereta. Begitu menakutkan, tapi aku enggan untuk berbalik. Karena aku sudah benar-benar lelah, akan semuanya. Aku dan Frisca lantas menyusuri rel kereta yang penuh dengan batu krikil.


Frisca tersenyum, dan terus melangkahkan kakinya. Hanya menatap punggungnya, dan terus menyeret kakiku di tengah batu krikil. Langkah kita lantas berhenti, dan sebentar menatap sebuah gedung di kiri kita. Dan tak lama dari balik gedung tinggi tersebut, matahari terbit.

__ADS_1


Kita berdua tersenyum menatapnya, mungkin ini matahari terakhir yang bisa kita lihat. Dan aku bersyukur, karena bisa melihatnya. Aku lantas menatap Frisca, yang berdiri di sampingku. Dan tersenyum kepadanya, aku bersyukur bahwa aku bisa melewati kematian ku tidak sendirian.


“Kenapa?” Tanya Frisca.


Aku hanya menatapnya, kenapa ia begitu bercahaya pagi ini. Dia terlihat cantik, walaupun dengan matanya yang bengkak. Dia banyak menangis malam tadi. Aku pun tidak mengerti, apakah karena aku akan mati sehingga aku melihatnya seperti itu.


“Engga.” Jawabku.


Kita lantas berdiri menghadap kearah ke salah satu sudut rel kereta, dan berdiri menunggu kereta datang. Kita berdua terasing akan orang-orang yang kita kasihi, hanya di temani batu krikil. Ini memang kematian yang keren, namun ini pilihan yang aku pilih.


“Kamu takut?” Tanya Frisca.


Aku hanya terdiam menatapnya, dan jika aku harus jujur. Aku sungguh ketakutan, dan apakah salah jika aku merasa takut. Ditengah diam ku, Frisca meraih tanganku. Aku hanya menatapnya, dan aku sedikit tenang saat melihat senyumannya. Dan jika ada reinkarnasi di dunia ini. Aku harap kita berdua terlahir kembali, dan aku harap kita berdua bahagia.

__ADS_1


__ADS_2