
UNCONTROLLABLY FOND
Setelah lama menatap kartu itu , aku hanya menaruh kartu itu itu di dompetku seraya mengutuk diriku. Entah kenapa aku masih mengharapkannya. Semoga Tuhan melihat perasaan tulus ini, dan mengubah garis takdir itu. Walaupun aku tahu, ia tidak akan sebaik itu kepadaku.
Aku pun lantas beranjak menuju kamar kosong di rumah Paman, untuk mengistirahatkan badan dan pikirin ini. aku sudah sangat lelah bahkan dengan hanya bernafas. Malam di sebuah kamar, aku hanya merebahkan tubuh ini sambil menatap atap langit kamar ini.
Hanya memutar kembali kisah dengannya di kepala, aku pun tersenyum lalu menangis. Ingatan ini membuat ruang kosong di hatiku, dan meminta tolong. Aku ingin mengulangi itu semua, waktuku bersamanya. Aku sangat ingin merubah skenario yang sudah di tulis Tuhan, walau aku sadar bahwa film dari skenario itu sudah di putar dan tidak mungkin merevisinya.
Senyumnya hilang setelah hadirku, tapi bagaimana ini. Aku masih ingin memiliki dirinya, keegoisan ku membuatku mengutuk diriku.
**
Tanpa sadar, fajar telah datang dan aku masih terpenjara akan segala ingatanku tentangnya. Tak lama, Paman mengagetkanku di depan pintu kamar. Ia hanya berdiri menatapku, entah berapa lama ia sudah berdiri di sana. Kemudian ia tersenyum kepadaku.
“Rasya, ayo sarapan.” Pinta Paman.
__ADS_1
Ia pergi setelah mengatakan kata-kata itu, dan aku pun beranjak mengikutinya ke meja makan. Kulihat beragam menu makanan sudah ada di atas meja makan, aku pun menarik bangku meja tersebut dan duduk bersama Paman di meja makan. Kita hanya fokus dengan makanan kita berdua, hanya suara air mendidih didalam ceret di atas kompor lah yang menemani kita berdua makan.
Ditengah makan ku , aku pun sangat penasaran alasan Paman langsung menerima niatku untuk pindah sekolah. Aku pun memutuskan untuk bertanya kepadanya.
“Kenapa Paman gak nanya, alasan Rasya ingin pindah sekolah?” Tanyaku.
“Buat apa Paman, memulai pembicaraan yang isinya hanya akan nyakitin kamu. Toh kamu juga gak akan jujur, tentang alasan yang sebenarnya kan.” Jawab Paman.
Kata-kata Paman menyandarkan diriku, dan teringat peristiwa malam itu. Sebuah obrolan yang menyakiti kita berdua, dan aku sadar bahwa pada malam itu, aku telah membunuh Keira sebanyak dua kali.
Setelah kita berdua menyelesaikan makanan kita, kita berdua lantas berputar-putar keliling kota Jakarta untuk mencari sekolah baru untukku. Dan setelah hampir mencari selama setengah hari, akhirnya aku memutuskan untuk memilih SMA Harapan Jaya.
Sekolah swasta yang jaraknya tidak jauh dengan rumah Paman. Didalam sebuah mobil di tengah perjalanan kami pulang, aku hanya menatap paman di kursi kemudi. Dan aku mensyukuri waktu ini dan aku bersyukur memiliki dia di hidup ini.
“Besok Paman datang ke sekolah lama kamu untuk mengurus kepindahan sekolah kamu.” Kata Paman.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kepada Paman, senyuman itu berisi semua rasa terimakasih ku kepadanya. Ia telah memberikan banyak hal, tetapi aku tidak pernah membalas kebaikannya. Dan aku ingat, aku mempunyai rasa bersalah kepadanya. Dua tahun lalu setelah kepergian kedua orangtuaku, seharusnya aku mengatakan peristiwa itu kepadanya.
**
Satu hari setelah kepergian Ibu Ani dan Yusuf. Paman dan Bibi datang ke rumahku, dan kembali mengajakku untuk tinggal bersama mereka. Tapi karena kemampuan bisa melihat masa depan yang aku miliki, aku menolak niat mereka tersebut. Aku takut kejadian Ibu Ani dan Yusuf, menimpa mereka berdua. Tapi Bibi tidak kehilangan akal, Bibi terus meyakinkanku untuk tinggal bersamanya.
Malam disebuah kamar, kita berdua hanya duduk di kasurku. Di kamar itu, Bibi kembali meyakinkanku seraya tersenyum. Bibi lantas memegang tanganku, dan mengatakan bahwa aku bisa kembali untuk memulai awal yang baru.
Mendengar kata-kata itu, aku pun hampir luluh dan menerima ajakan tersebut. Namun fakta akan kemampuanku, aku langsung menarik diri. Aku pun berusaha untuk tidak bergantung kepada mereka, ketakutan ku akan kehilangan mereka lah yang melatarbelakanginya. Dan ketakutan ku kala itu langsung terjadi, Saat aku menatap mata Bibi, aku melihat sebuah potongan akan masa depannya. Dan sekali lagi kemampuanku kembali mengusir seorang yang aku sayangi dari hidup ini.
Apakah akan berubah, andai aku tidak bisa melihat masa depan. Dan apakah aku akan bahagia, andai aku terlahir normal seperti manusia pada umumnya. Dimana masa depan adalah sebuah misteri. Mengenai, takdir akan masa depannya. Aku mengerti, dan aku bersyukur bisa mengetahuinya. Sehingga aku dapat mencegah nestapa itu terjadi.
Namun, ini tetap tidak adil bagiku. Sejak dahulu, aku selalu di paksa untuk menyerah sebelum berperang. Karena aku tahu, takdir tidak akan pernah salah. Dan perjuanganku akan menjadi kesia-siaan belaka. Fakta itu, membuatku membenci diriku. Karena aku, nestapa itu tercipta. Dan karena sialnya hidupku, wanita yang aku cintai menderita.
Namun, jika aku mempunyai sebuah pilihan. Aku akan tetap menjadi diriku, dan menjauh bersama takdir itu.
__ADS_1